Jumat, 14 Agustus 2026
Kalau mendengar kata drama mikro atau drama vertikal, apa yang pertama kali terlintas di pikiranmu?
Jujur saja, sebagian besar orang pasti langsung teringat formula klasik yang itu-itu lagi: sosok CEO kaya raya yang menyamar, alur balas dendam yang meledak-ledak, atau adegan ranjang yang sengaja dibuat spicy demi menggaet klik.
Padahal, tidak semua drama vertikal semurah itu, lho. Di tengah gempuran konten yang cuma mengejar sensasi, ada juga drama vertikal yang digarap secara sangat serius dengan naskah yang kuat dan cerita yang berbobot.
Tentang Hundred Flowers Awards
Hundred Flowers Awards (Hundred Flowers Film Festival) adalah salah satu ajang penghargaan sinema paling bergengsi dan tertua di Tiongkok yang pemenangnya dipilih langsung oleh pilihan publik (popular vote), layaknya ajang People's Choice Awards.
Masuknya drama mikro atau drama vertikal (duanju) ke dalam kategori penghargaan bergengsi ini menjadi sejarah baru karena industri perfilman kini secara resmi mengakui duanju bukan lagi sekadar hiburan konten cepat saji, melainkan fenomena budaya dan bentuk seni visual baru yang sedang mendominasi pasar. Melalui ruang kompetisi khusus ini, ajang prestisius tersebut ingin mendorong para pembuat konten agar tidak hanya fokus mengejar views lewat sensasi murah, tetapi juga berani melahirkan drama mikro yang diproduksi secara profesional, bernaskah kuat, serta memiliki kedalaman pesan yang diakui oleh publik maupun kritikus film.
Dari Skeptis Jadi Ketagihan: Perjalananku Menemukan Hidden Gems Drama Vertikal
Dulu, aku pun ada di kubu yang sama dengan salah satu temanku yang terang-terangan tidak suka sama drama vertikal. Buat dia—dan mungkin buat banyak orang—format ini terkesan murahan dan cuma jualan sensasi. Aku sempat mengamini hal itu, sampai akhirnya suatu hari aku kebetulan menonton How Dare You yang dibintangi oleh He Congrui dan Liu Nian.
Siapa sangka, drama itu jadi pintu masuk yang mengubah sudut pandangku secara total.
Sejak saat itu, aku mulai rajin menyelam dan menemukan ternyata ada begitu banyak hidden gems di dunia drama mikro. Puncaknya adalah ketika aku menonton 一家三口在同班 (A Family of Three in the Same Class) pada bulan Februari lalu.
Baca juga: Rekomendasi Drama China Pendek (Mini Seri)
Begitu episode pertama berjalan, aku langsung dibuat jatuh cinta setengah mati. Storytelling-nya mengeksekusi premis dengan sangat cerdas, dan karakterisasinya begitu kuat serta manusiawi—sebuah kualitas yang bahkan sering kali absen di drama-drama berdurasi panjang.
Melihat drama favoritku ini pada akhirnya berhasil memboyong piala di Hundred Flowers Awards, rasanya seperti mendapat konfirmasi: penilaianku tidak salah, drama vertikal memang sudah saatnya naik kelas!
Tentang A Family of Three in the Same Class (一家三口在同班)
Judul: 一家三口在同班
Judul Inggris: A Family of Three in the Same Class
Genre: Youth, family, comedy, romance
Tema: Rebirth, keluarga, kehidupan sekolah
Jumlah episode: 68 episode
Platform: 红果短剧 / Hongguo Short Drama
Pemeran: Wang Xiaoyi, Wang Yilei, Zhang Chi
Sutradara: Wang Yixia
Penulis: Zhang Luting
Drama ini mulai tayang pada 20 Februari 2026 dan pada hari pertama penayangannya sudah mencatat heat value lebih dari 93,59 juta di Hongguo.
Baca juga: Sinopsis dan Review The Legend of Shen Li
Di kehidupan pertamanya, Chen Shi berjuang sendirian sebagai single mother hingga berhasil menjadi wanita sukses. Namun, kesuksesan itu dibayar mahal dengan renggangnya hubungan dengan sang putra, Chen Ansheng. Puncaknya, Ansheng yang tumbuh menjadi pemberontak dan terluka memilih mengakhiri hidupnya. Penyesalan mendalam tidak hanya dirasakan Chen Shi, tetapi juga oleh Yu Zhiming, mantan kekasih Chen Shi yang tak pernah sempat membesarkan putranya tersebut.
Baca juga: Blossom (Meng Ziyi dan Li Yunrui) VS A Dream of Red Chamber
Takdir kemudian memberi mereka kesempatan kedua yang tak terduga: Chen Shi dan Yu Zhiming terlempar kembali ke usia 18 tahun dan masuk ke sekolah yang sama dengan Chen Ansheng!
Berada di satu kelas yang sama tanpa Ansheng menyadari identitas asli mereka, situasi absurd pun terjadi. Untuk pertama kalinya, ketiganya berinteraksi sebagai teman sebaya—mulai dari belajar, membolos, hingga saling melindungi. Bagi Chen Shi dan Yu Zhiming, ini bukan sekadar misi memperbaiki cinta masa lalu, melainkan kesempatan emas untuk menyelamatkan putra mereka dan merajut kembali hangatnya sebuah keluarga sebelum semuanya terlambat.
Review: Kenapa A Family of Three in the Same Class Bikin Aku Jatuh Cinta?
Jujur ya, awal tahu premisnya, aku cuma bisa mikir: Wah, absurd banget ini.
Orang tua yang sudah meninggal/berpisah, tiba-tiba dapat kesempatan kedua balik ke usia 18 tahun, lalu malah masuk di sekolah dan kelas yang sama dengan anak mereka sendiri.
Kalau jatuh ke tangan penulis yang salah, premis seperti ini gampang banget berakhir jadi komedi murahan yang cuma jualan adegan konyol tanpa arah. Tapi drama ini justru menggunakan keabsurdannya untuk sesuatu yang dalam: membalik posisi orang tua dan anak.
Baca juga: The Legend of Zhang Hai (Xiao Zhan)
Biasanya kan orang tua melihat anak dari posisi "orang dewasa yang lebih berpengalaman". Sementara anak melihat orang tua sebagai sosok yang kaku dan nggak paham dunia mereka.
Nah, di sini mereka dipaksa duduk di bangku yang sama. Orang tuanya melihat langsung bagaimana beratnya tekanan sekolah si anak, dan sadar kalau anak yang selama ini mereka anggap "bermasalah" ternyata punya luka yang nggak pernah mereka dengarkan. Bagi aku, ini bukan sekadar cerita lucu, tapi penulisan karakter yang juara!
Trio Utama yang Hidup dan Bikin Gemas
Kekuatan terbesar drama ini ada di chemistry tiga pemeran utamanya: Wang Xiaoyi, Wang Yilei, dan Zhang Chi.
Dinamika mereka bertiga itu beneran kerasa kayak keluarga nyata. Bukan keluarga manis yang selalu akur, tapi keluarga yang saling bikin kesal, suka bertengkar karena salah paham, tapi tetap bakal pasang badan paling depan kalau ada salah satu yang butuh bantuan.
Momen "Curiga" Sama Zhang Chi
Nah, ada satu hal menarik yang bikin aku kepikiran sepanjang nonton. Sebagai penonton yang hobi menganalisis, aku sempat curiga jangan-jangan Zhang Chi ikut memberikan masukan buat naskahnya!
Bukan tanpa alasan, sih. Zhang Chi ini kan memang punya latar belakang di dunia penulisan naskah dan bahkan pernah menyabet penghargaan lewat karyanya. Kalau diperhatikan, proyek-proyek drama yang dia bintangi itu hampir selalu punya naskah yang kuat, karakternya berbobot, dan emosinya berasa.
Baca juga: New Life Begins (Tian Siwei dan Bai Jingting)
Di drama ini pun sama. Cara karakter Chen Ansheng merespons situasi absurd, dialog-dialog kocaknya, sampai momen melankolisnya itu terasa sangat alami—bukan cuma sekadar menghafal skrip atau mengejar punchline komedi. Dialognya itu "hidup" dan beneran kerasa kayak ucapan anak remaja yang sedang terluka.
Entah dia beneran ikut urus naskah atau tidak, yang jelas jam terbangnya di dunia penulisan terasa banget memengaruhi kedalaman akting dan cara dia menghidupkan karakter ini!
Pemilihan Musik Era 2000-an yang Genius & Bikin Nostalgia!
Aku itu lumayan cerewet kalau soal soundtrack drama, dan drama ini dapat poin plus yang besar sekali di bagian musik.
Sepanjang ceritanya, mereka banyak menyisipkan lagu-lagu hits awal tahun 2000-an yang secara instan membawa kita kayak ikut time travel ke masa-masa itu. Pilihan lagunya bukan sekadar pamer nostalgia, tapi feel-nya beneran menyatu sama emosi karakternya.
Salah satu momen favoritku yang paling bikin merinding adalah ketika Chen Shi bernyanyi sambil memetik gitar membawakan lagu legendaris 《情非得已》 (Qing Fei De Yi). Di adegan itu, dia menyanyikan lagu tersebut sambil menceritakan mimpi masa mudanya yang terpaksa terkubur karena keburu punya anak dan harus berjuang bertahan hidup.
Momen itu tuh dapet banget! Penutupnya tidak perlu dialog puitis yang mendayu-dayu atau dipaksakan—adegan dan lagunya sudah menyampaikan rasa penyesalan, kenangan masa muda, dan manisnya kesempatan kedua dengan sangat pas.
Gimana dengan Season 2-nya?
Karena sudah kepikiran terus sejak nonton Season 1 di bulan Februari lalu, aku jelas tidak mau ketinggalan nonton Season 2-nya.
Di Season 2, ceritanya membawa Chen Ansheng time-travel ke tahun 1980-an untuk bertemu orang tuanya saat mereka masih muda. Secara komersial tetap sukses dan kocak, tapi kalau boleh jujur... rasanya tidak sekuat season pertama.
Salah satu hal yang bikin Season 2 terasa kurang ngena buatku adalah pemilihan lagunya yang tidak se-ikonik dan se-emosional Season 1. Feel nostalgianya jadi agak hambar.
Kalau Season 1 itu terasa punya "jiwa" dan cerita yang memang penting untuk disampaikan, Season 2 terasa lebih seperti proyek yang hadir cuma karena season pertamanya meledak. Masih seru buat hiburan, tapi greget emosionalnya jelas beda jauh.
Kesimpulan
Nonton 一家三口在同班 (A Family of Three in the Same Class) beneran bikin aku makin yakin kalau industri drama mikro Tiongkok memang sedang berbenah. Duanju tidak selamanya harus berisi alur yang dipaksakan, CEO menyamar, atau drama sensasional semata.
Mau durasinya cuma beberapa menit atau formatnya vertikal, kalau naskahnya ditulis dengan hati, karakternya hidup, dan musiknya digarap serius, penonton bakal tetap jatuh cinta. Nggak heran sama sekali kalau drama satu ini sampai bisa menembus dan membawa pulang piala bergengsi di ajang sebesar Hundred Flowers Awards.
Buat kamu yang sempat skeptis sama drama mikro—seperti aku dan temanku dulu—drama ini jelas wajib banget masuk daftar tontonan kamu. Ini bukan sekadar versi pendek dari drama biasa, melainkan bukti kalau format vertikal pun bisa melahirkan karya yang hangat, dalam, dan membekas di hati.
Nah, kalau kamu sendiri gimana? Sudah pernah nonton drama vertikal yang naskahnya sejuara ini juga, atau baru mau mulai "menyelam"? Coba cerita di kolom komentar, ya!
Tidak ada komentar:
Terima kasih telah berkunjung ke blog ini. Mohon tidak mengcopas isi artikel tanpa izin. Jika berkenan, silakan tinggalkan komentar dengan sopan. Diharapkan untuk tidak mengirimkan link hidup dalam komentar. Terima kasih atas perhatiannya :)