Senin, 10 Januari 2022

Layangan Putus: Apakah Pelakor Memang Harus Dibantai?

 

Dari zaman dulu, tema selingkuh dalam sinetron sangat diminati. Mulai dari sinetron populer ‘Catatan Hati Seorang Istri’, berbagai sinetron religi, hingga yang terbaru webseries berjudul ‘Layangan Putus’.

 

Kenapa orang-orang menyukai tema perselingkuhan ini? Namun, lebih penting dari itu ... mengapa orang-orang senang membenci perempuan yang mereka sebut pelakor, bukannya memberi sanksi sosial kepada lelakinya juga?

 


 

Jika menyebut perselingkuhan, saya sudah melihat peselingkuh kambuhan ini di depan mata, bukan dari tayangan televisi yang kemungkinan besar didramatisir.

 

Saya ingat betul, waktu saya SD (ya, Anda tidak salah, ini betul SD, Sekolah Dasar), suatu hari, saya dan sepupu dijemput ramai-ramai oleh kerabat. Saya mengingat ini karena tidak biasanya mereka menyewa mobil. Mereka sangat berhemat untuk hidup.

 

Waktu itu, saya bingung, kenapa mobil meluncur tidak ke jalan pulang. Kami malah memasuki perkampungan yang asing buat saya.

 

Saya disuruh menunggu di mobil. Mereka kemudian keluar, saya tak tahu untuk apa. Yang saya tahu, menunggu mereka lama dan membosankan.

 

Beberapa tahun kemudian, saya baru sadar kalau saat itu saya diajak menangkap basah satu perselingkuhan.

 

Bayangkan, anak SD diajak menangkap basah perselingkuhan!

 

Apakah lantas setelah itu si peselingkuh bertobat? Oh, tidak semudah itu, Ferguso! Justru karena selingkuhnya kambuhan dengan pelakor-pelakor yang berbeda-beda, akhirnya saya tahu permasalahan ini. Apalagi, satu kali, si peselingkuh kambuhan ini membawa oleh-oleh yang cukup merepotkan: penyakit kelamin!

 

Sejak saat itu, pemikiran saya tentang perselingkuhan terbentuk dengan jelas: perselingkuhan tidak hanya disebabkan oleh perempuan yang disebut masyarakat sebagai pelakor. Ada andil seseorang yang cukup besar juga. Ya, siapa lagi kalau bukan suami yang memilih tidak setia bahkan kadang kambuhan begitu?

 

Sayangnya, hingga saat ini, masyarakat punya pemikiran yang berbeda.

 


 

 

Peselingkuh kambuhan nyatanya sering dimaafkan. Kalau pun tidak disukai, masyarakat hanya akan membicarakannya di belakang.

 

Lain halnya dengan Pelakor yang seperti iklan di atas, dinilai perlu dibantai sampai musnah. Pokoknya, kalau ada perselingkuhan, yang salah perempuan alias pelakor ini. Kucing kalau dikasih ikan mana nolak. Lakinya nggak salah. Ceweknya aja yang kegatelan.

 

Ya, nggak?

 

Padahal, perlu diingat, kalau perselingkuhan terjadi tidak hanya dari satu pihak. Kalau memang perempuannya kegatelan, lakinya juga nggak setia. Sama aja buruknya.

 

Kebayang nggak, sih, kalau sebenarnya para lelaki ini enak? Dari iklan di atas, kalau istri dan wanita simpanannya saling bantai, si lelaki ini tinggal nunggu yang menang siapa terus pilih yang mana yang dia suka. Sisanya, sayonara, goodbye, dah.

 

Enak kan?

 


Seharusnya, masyarakat bisa bersikap adil pada suami tak setia dan pelakor ini. Kalau mereka bisa memaafkan suami tak setia, mereka seharusnya bisa juga memaafkan pelakor yang mungkin setelah menerima sanksi sosial akan insyaf. 

 

P.S.: Peselingkuh yang saya sebut di atas sudah berpisah dengan istrinya.

 

Penulis:

Putu Felisia

Novelis dan blogger

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Protected by Copyscape
Protected by Copyscape