Rabu, 08 Agustus 2018

Hati-hati! TOXIC People DO Exist!


Seperti dementor, ada tipe orang yang siap mengisap kebahagiaan Anda. Dengan semua cara yang dipakai, orang-orang ini mampu mengubah semua waktu dan pikiran Anda menjadi ‘hanya untuknya’.

"I'm ready, Darling!"
Foto; pixabay.com


Sebagai makhluk sosial, kita tidak dapat menghindari sosialisasi. Setiap hari, kita berinteraksi dengan sekian orang, bicara dengan sekian orang, dan seterusnya. Tentu saja, tidak semua dari orang-orang ini dekat dengan kita. Kita memilih orang-orang yang kita izinkan ada di dekat kita, lalu ada yang kita percaya untuk menjadi teman atau sahabat.

Sayang sekali, meski sudah memilih-milih, yang tahu isi hati manusia hanyalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Jika pergaulan kita sudah tidak sehat, ada baiknya kita introspeksi. Jika Anda merasa semua orang tidak pernah mendengarkan keinginan Anda dan Anda mendadak dijauhi orang banyak, atau teman Anda tiba-tiba sangat menyulitkan Anda dan orang-orang di sekeliling Anda, bisa jadi salah satunya merupakan toxic people atau orang-orang yang dianggap beracun bagi sekitar.

Kenyataannya, toxic people tidak mau menerima logika normal. Beberapa di antara mereka tidak pernah menyadari dampak yang mereka timbulkan bagi sekitar mereka. Beberapa lainnya terlihat menikmati perasaan puas akibat kekacauan yang mereka buat dan suka menguji kesabaran orang lain sampai habis.

Dari situs Huffington Post dikemukakan: penelitian terkini dari Friedrich Schiller University (Jerman) menunjukkan tentang seriusnya pengaruh toxic people dalam diri Anda. Mereka menemukan kalau pergaulan atau kontak dengan toxic people memberi stimulasi perasaan negatif yang sangat kuat. Saat ini, otak langsung merespons dengan tingkat stress yang masif. Entah itu akibat dari kenegatifan toxic people, kekejaman mereka, victim syndrome yang mereka tunjukkan, atau hanya kegilaan biasa. Toxic people ini mengendalikan pikiran Anda dalam fase stressed-out yang seharusnya dihindari untuk kesehatan jiwa.

Dari situs Psychology Today, ada 8 hal yang biasanya dilakukan toxic people pada diri Anda:

MEMANIPULASI ANDA
Mereka memiliki modus operandi untuk membuat orang lain melakukan apapun yang mereka mau. Toxic people menggunakan orang lain untuk membuat mereka berhasil mencapai tujuan. Sayangnya, ini bukan sebuah hubungan yang sejajar. Ini sangat jauh dari sejajar. Karena Anda akan melupakan keinginan Anda sendiri.

MENGHAKIMI ANDA
Mereka mengkritik setiap saat. Mereka mengkritik apa yang Anda lakukan. Mereka mengkritik apa yang tidak Anda lakukan. Mereka juga tidak segan berbohong untuk menutupi fakta kalau selama ini Anda sebenarnya melayani mereka.


"Semua itu salahmu!"
Foto dari pixabay.com


MEMBUAT ANDA BERTANGGUNG JAWAB ATAS PERASAAN MEREKA
Mereka memproyeksikan perasaan-perasaan mereka ke Anda. Dan kalau Anda mencoba mengembalikan perasaan-perasaan bayangan ini kembali ke sudut pandang mereka, mereka akan mati-matian menolak semua perspektif perasaan yang mereka ciptakan ini. Mereka tidak mau bertanggung jawab untuk hampir semua hal yang mereka lakukan.

TIDAK MEMINTA MEREKA MEMINTA MAAF
Toxic people tidak akan sudi meminta maaf. Mereka tidak melihat alasan untuk itu. Bagi mereka, semua yang terjadi adalah salah orang lain, walaupun dalam banyak kejadian mereka mampu mengkondisikan semua hubungan untuk melayani mereka hingga mencapai tujuan. Mereka akan mencari simpati dengan menempatkan diri sebagai ‘korban’.

MENERIMA KETIDAK KONSISTENAN MEREKA
Sulit mengetahui dengan siapa Anda melewatkan waktu, karena kadang mereka tidak terlihat sama. Mereka mengubah perspektif, attitude, dan kebiasaan tergantung pada keperluan apa yang ingin mereka penuhi. Mereka tahu caranya bersikap baik saat menginginkan sesuatu dari Anda.


MEMBUAT ANDA MEMBUKTIKAN DIRI KEPADA MEREKA
Toxic people membuat Anda memprioritaskan mereka dibandingkan orang lain, atau apa yang mereka inginkan di atas apa yang anda inginkan. Selalu, ini tentang ‘divide and conquer’, pemisahan dan penaklukkan. Hanya mereka yang memiliki opsi. Bahkan ketika Anda telah mengorbankan semua kepentingan dan hubungan sosial lain untuk memuaskan mereka.

MEMBUAT ANDA MATI-MATIAN MEMPERTAHANKAN DIRI SENDIRI
Mereka memiliki kesulitan-kesulitan melihat sudut pandang dari masalah-masalah yang ada. Kemungkinan karena mereka tidak tertarik melihat masalah dari sudut pandang Anda atau sudut pandang yang memungkinkan untuk mencapai kesimpulan tanpa perdebatan keras. Mereka adalah manipulator ulung. Mereka memiliki taktik-taktik jitu, di antaranya memburamkan masalah dan seolah-olah memiliki wewenang dan hak mengambil keputusan, mereka juga bisa mengubah fokus diskusi ke cara (buruk) Anda berdiskusi. Entah itu nada bicara Anda, pemilihan kata Anda, dan sebagainya. Mereka sengaja berfokus pada masalah, bukan solusi.


"You may not win!"
Foto dari pixabay.com


TIDAK MENGHARAPKAN PERHATIAN ATAU DUKUNGAN DARI MEREKA
Toxic people tidak pernah peduli, mendukung dengan tulus, atau tertarik pada hal-hal yang sebenarnya penting untuk Anda. Faktanya, hal-hal baik yang terjadi pada Anda mengalihkan perhatian Anda dari mereka dan menghalangi mereka memfokuskan Anda pada tujuan mereka. Hati-hatilah pada orang yang selalu menemukan kesalahan pada Anda dan membuat Anda bersalah selalu. Kesetiaan adalah hal yang asing bagi mereka.


Poor me :(
Foto dari pixabay.com


Meski terlihat sangat membutuhkan simpati dan menimbulkan belas kasihan, kehadiran orang-orang toxic ini sebenarnya membahayakan kesehatan jiwa. Walau Anda sudah menolong menyelesaikan masalah mereka dengan mengorbankan beberapa hal, masalah lain akan kembali timbul dan mereka akan kembali mengandalkan Anda untuk menyelesaikannya. Jadi, kalau Anda menyadari teman Anda melakukan hal-hal yang disebutkan di atas, ada baiknya Anda segera menjauh dan berada di jarak yang aman.

Merasa melakukan hal-hal di atas pada orang lain? Segeralah bertobat, Bro and Sis. Gusti ora sare. Meski kalian merasa apa yang kalian lakukan itu tidak apa-apa, itu menyakiti orang lain, lo. Dengan melakukan hal-hal di atas, kalian bisa merusak kesehatan jiwa seseorang, bahkan bisa membuat orang depresi karena tuntutan kalian.

Info lebih lanjut tentang toxic people bisa dibaca di:










20 komentar:

  1. Saya juga punya masalah yang bikin depresi karena insan jenis demikian, ya toxic people itu emang beracun, racun yang meracuni pihak lain namun tak merasa salah. Jadi ingat bibi sendiri yang bikin saya sangat tak nyaman dan tak mau melihatnya lagi karena merupakan toxic people. Lidahnya itu kerrap menyimpulkan sesuatu tanpa memakai otak dan hati. Yah, biasa berani pada saya karena pikir lemah. Padahal nanti juga di yaumil hisab harus bertanggung jawab. Saya jadi heran karena keponakannya dan adiknya gitu, kayaknya itu menular. Sekeluarga terbiasa mempergunakan lidah dan otaknya untuk tujuan utama mereka tak peduli akan menyakiti karena SUDAH TERBIASA DAN KEBIASAAN.
    Secara psikologis, insan toxic people merupakan bagian dari lingkungan kecil yang gagal menempatkan empati karena cenderung egosentris. Ah, muak saya ini.
    Maaf, malah curhat. Nanti akan saya coba tulis cerpen "Bi Wet Bikin Ruwet". Amarah itu harus disalurkan soalnya tahunan diam saja mendam.

    BalasHapus
  2. Rupanya saya sudah pernah baca ini. Aha. Makasih. Jadi ingat lagi dan ada referensi untuk memahami secara mendalam.
    BTW, cerpen tentang Bi wet belum dibikin. Nyaris lupa karena kesal lagi dia bikin ulah. Baca komen saya di atas jadi ingat dan harus agendakan itu agar energi negatifnya dikeluarkan. Nyesek lihat dementor demikian, ha ha.
    Oh ya, ini blog baru yang sudah TLD.

    BalasHapus
  3. Ya Allah, segalak-galaknya suami, untung saya ga menemukan ciri-ciri di atas di suami maupun keluargany . Alhamdulillah...

    BalasHapus
  4. Pernah ngalamin bergaul dengan tipe² orang-orang toxic. Sempat kaget, namun akhirnya bisa ngadepinnya berkat referensi kaya gini. Makasih sharingnya

    BalasHapus
  5. Toxic people emang beneran ada sih. Dan ciri2nya persis banget seperti yang mbak sebutkan di post di atas. Selama bersosial sih kayanya kita akan menemukan orang-orang macam itu.

    BalasHapus
  6. Di setiap circle pertemanan pasti ada satu orang yang toxic, kadang mereka dominan tapi ada juga yang diam-diam tapi negatif banget. Sekarang saya sangat memilih siapa yang bisa jadi teman dekat, karena saya gak mau lagi dekat-dekat dengan orang-orang toxic. Mengerikan hehehhe...

    BalasHapus
  7. baru-baru ini saya mengamati orang toxic seperti yang dijelaskan di atas, di sebuah grup komunitas. entahlah kadang bingung dgn pemikirannya, suka membuat gaduh dan suka menghakimi. seolah serba benar dan yang lain salah.

    BalasHapus
  8. Benar sekali Kak, toxic people itu menguras jiwa dan raga. Semakin banyak umur saya semakin memilih-milih teman, klo sedikit merasa tidak cocok, mending saya menghindar, daripada toxic.

    Btw, untung yg toxic di grup udah ditendang ya Kak, logikanya bikin se grup ribet wwkwkwkw.

    BalasHapus
  9. Toxic people memang ada di mana-mana, di lingkungan kerja, kampus, lingkungan rumah, tetangga, bahkan kerabat dekat kita juga bisa menjadi toxic.
    Maka perlunya untuk bisa menyikapi orang-orang seperti ini secara bijaksana.
    Barangkali bisa dibantu mbak felisia, untuk artikel cara menyikapi toxic people dalam kehidupan kita...

    BalasHapus
  10. Toxic people emang ada dimana mana sih. Ga hanya di lingkungan kerja ajaa, tapi bahkan dari orang orang terdekat sendiri misalnya keluarga. Sukanya bikin gaduh ajaa xixie nice artikel kak!

    BalasHapus
  11. Beh, toxic people tuh kadang halusss banget memanipulasi perasaan dan pikiran. Salah satu efeknya juga bisa bikin kita bertanya tanya tentang diri kita sendiri. Semoga dijauhkan dari toxic people.

    BalasHapus
  12. Toxic people, emang lebih baik dihindari aja jgan berusaha mencari pembenaran dari org2 tsb, krna sebaik apa pun anda bakalan tetap menjadi bahan cibiran mereka..

    Lupakan saja, nikmati proses diri anda sendiri & jgan mencari perhatian dari org2 seperti mereka.. jgan mencari pengakuan apa pun krna mereka sungguh tidak peduli..

    Jangan jadikan mereka pelecut utk menuntaskan dendam anda.. mending hargai diri anda sendiri

    BalasHapus
  13. kita pun bisa jadi toxic utk beberapa org. Karena iya tiap org punya boundaries nya masing-masing. Nah yang di luar dari bounderies kita sudah pasti kita anggap toxic hehehe. aku nangkepnya gitu.

    Kali ini, aku berkutat lagi dengan orang yang seperti itu LAGI. Yang paling stress dia anak buah aku sendiri. Makanya sebisa mungkin, aku agak menarik diri utk gak banyak berinteraksi terlalu dekat dengan dia walaupun setiap harinya ketemu dan kerjasama. hahahahaha

    BalasHapus
  14. toxic people me mang mengerikan. kadang -kadang saya suka introspeksi, semoga saya gak toxic ke orang-orang tanpa disadari

    BalasHapus
  15. Aku lagi mengalami nih kak berinteraksi sama toxic people, tadinya aku ga terlalu memperhatikan tapi lama lama kok kerasa dia suka memanipulasi supaya bisa memanfaatkan kita, keliatan memuji-muji kita tapi ternyata mau manfaatin tenaga, wangi dan yang kita buat kepentingan dia. Dan ga mau melakukan yang sama buat kita. Memang harus dijauhi orang toxic itu ya.

    BalasHapus
  16. jika terpaksa harus satu lingkungan dengan toxic people seperti itu, saya memilih untuk tidak terlalu dekat dengannya. sebisa mungkin menjauh.. jika pun terpaksa berkomunikasi karena kewajiban, semisal dia rekan sekantor, maka saya akan berkomunikasi seminimal mungkin, sesuai kebutuhan saja. saya memilih menghindari konflik dengannya dan bertegur sapa sebagai formalitas saja. jangan sampai perilaku buruknya membuat saya juga ikut-ikut berprilaku buruk.. karena jika saya mengikuti ritme toxic people, itu akan membuat saya juga terlihat buruk.. biarlah dia dengan keburukannya, jangan sampai meracuni sikap kita.

    BalasHapus
  17. mungkin perlu juga dibahas, bagaimana solusinya jika ternyata toxic people itu sudah terlanjur menjadi orang yang sangat dekat dengan kita dan tidak mungkin ditinggalkan, semisal pasangan hidup dan sudah ada anak-anak.. tanpa sadar bertahun-tahun kita kehilangan arah dan yang kita jalani adalah melayani keputusan-keputusan dan kehendaknya.. adakah terapi agar orang beracun itu berubah? atau minimal kadar racunnya berkurang.. hehehe..

    BalasHapus
  18. Aku suka gedeg sama Toxic people.
    Tapi takut juga kalau ternyata aku-lah pelaku Toxic people untuk orang-orang terdekatku, seperti pasangan atau anak-anak. Semoga gak yaa..
    Dengan memperbanyak instrospeksi.

    BalasHapus
  19. Bener nih... toxic people emang kudu banget dijauhin. Karena memberikan bad influence bamget buat keberlangsungan hidup kita.

    Aku pernah ketemu orang yg model toxic2 gini. Gampamg tinggal jauhin dan ga perlu ditemenin lagi. Beres..

    Tapi masalahnya kalo toxic people berasal dari keluarga semdiri itu gimana ya solusinya ? Sampe sekarang soalnya masih bingung...

    Any solution kah dr kakak ?

    BalasHapus

Protected by Copyscape
Protected by Copyscape