Kamis, 11 Juli 2019

7 Hal Penghambat Pertumbuhan Penulis


Belakangan ini banyak sekali platform dan lomba-lomba menulis yang diadakan. Tentu hal ini sangat menggembirakan. Apalagi melihat minat menulis begitu luar biasa. Ada satu grup facebook yang hingga kini ramai betul. Konon, yang posting bisa sampai ribuan. Sayangnya, meski banyak sekali perkembangan di dalam media kepenulisan, hal ini tidak serta merta menjamin kualitas penulis maupun tulisannya.

Saya pernah bergabung di grup heboh itu lalu menemukan kalau grup itu tidak cocok dengan saya. Di sana, tulisan tidak jauh-jauh dari sekadar uneg-uneg si pengunggah maupun hal-hal yang sekadar HIV (Hasrat Ingin Viral). Topik-topik yang dipilih cenderung yang mainstream, minim kreativitas, dan tentu saja EBI menjadi urusan kesekian. Kasarnya, ambisi menjadi penulis begitu melekat pada kepopuleran. Dengan demikian, banyak penulis memilih untuk ‘tinggal kelas’ dan tidak melanjutkan perjalanan untuk bertumbuh dan semakin berkualitas.

Supaya tidak makin jauh ‘tersesat’ saya mencoba membagikan apa saja hal yang menghambat pertumbuhan penulis. Hal-hal itu adalah:

1. MINDSET MEMBACA HANYALAH HOBI
Bagi penulis, membaca itu seharusnya menjadi kebutuhan. Bukan sekadar hobi. Menganggap membaca hanya hobi bisa menjadi pembenaran bagi orang yang ingin menjadi penulis tapi malas membaca.
“Namanya hobi, mana bisa dipaksakan,” alasannya begitu.
Padahal, hasil tulisan didasari oleh jumlah bacaan yang dikonsumsi. Semakin sedikit bacaan, maka tulisan cenderung miskin dan dangkal.

Membaca itu kebutuhan, bukan hobi
Gambar dari situs berbagi pixabay.com


2. MENTAL BOSS
Senang menulis tetapi enggan riset.
Menulis dengan sangat berantakan. Maunya semua diberesin editor.
Menanyakan syarat lomba yang sudah ditulis. Maunya semua disuapin panitia.
Nah, kalau Anda masih memiliki mental bos seperti di atas, jangan heran kalau karier nulis mandeg. Anda bukan satu-satunya orang yang ingin jadi penulis. Ada banyak orang yang lebih rajin dan berkemauan keras. Mereka inilah yang memiliki peluang berhasil lebih besar.

"Kalau saya yang ngedit, editor kerja apa?"
(Pola pikirnya lebih gawat dari pola pikir bos penerbitan kaya raya)
Gambar dari situs berbagi pixabay.com


3. TAKUT GAGAL
Kegagalan adalah bagian dari proses menjadi penulis. Gagal tertolak penerbit, gagal memenangkan lomba, atau gagal best seller. Itu semua proses, tidak hanya dalam menulis tapi juga dalam kehidupan.
Penting sekali untuk tidak berputus asa!

Gagal bukan masalah. Tidak mencoba, barulah timbul penyesalan.
Gambar dari situs berbagi pixabay.com


4. NGIN SERBA INSTAN
Ingin cepat terkenal, mendapat uang, dan lain-lain. Akibatnya menghalalkan segala cara termasuk plagiat atau mengobral seks secara ekstrem.
Ingatlah, jadi penulis itu tanggung jawabnya berat. Plagiator itu nggak ada bedanya dengan maling dan rampok yang menggarong. Menjual hal-hal amoral juga akan sangat berat tanggung jawabnya. Tidak hanya di dunia. Tapi, di akhirat juga. Bayangkan diri Anda menulis tentang seks vulgar lalu di masa depan tulisan itu dibaca anak sendiri dan si anak terinspirasi mempraktikkannya ….

Dalam hidup tidak semua bisa semudah menyeduh mie instan.
Gambar dari situs berbagi pixabay.com

5. SOMBONG
Tuhan benci orang sombong. Kesombongan juga tidak menghasilkan apa-apa selain kejatuhan. Yang ini saya sudah buktikan sendiri.
Saya pernah mengalami masa di mana saya tidak mampu menulis, kehabisan ide, dan merasa tulisan saya sangat buruk.


Ingatlah, semua yang kita miliki di dunia ini hanyalah pinjaman. Jika suatu hari menghilang, penyesalan tidak akan ada gunanya.

Kesombongan hanya akan mendatangkan kejatuhan.
Gambar dari situs berbagi pixabay.

 6. MERASA SEMUA SUDAH CUKUP
Hal ini terkait dengan kesombongan. Merasa kemampuan sudah mumpuni atau sudah cukup tenar hingga enggan belajar lagi, enggan berkembang lagi, enggan mendengar saran, enggan menantang diri, dan lain-lain.
Tentu saja, jika sudah masuk tahap ini, jangan heran kalau tulisan lama kelamaan akan menjadi boring. Kadang kala malah bisa sulit mencari ide, sulit menulis, dan akhirnya menggantung pena alias berhenti menulis.

Ilmu tidak akan pernah habis. Kalau merasa cukup akan jadi malas.
Gambar dari pixabay.com.


7. LUPA ADA TUHAN
Ini sangat gawat. Sepenuhnya mengandalkan kemampuan sendiri hanya akan mengecewakan. Bergantung pada manusia juga sama mengecewakan. Meski kita berusaha sangat keras, ada faktor hoki yang sangat kita butuhkan untuk bertahan di dunia kepenulisan. Sementara takdir naskah kita itu sepenuhnya berada di tangan Tuhan.
Kita tidak mungkin membuat naskah bagus tanpa andil Tuhan.
Kita tidak mungkin membuat karya best seller tanpa andil Tuhan.
Jadi, jangan lupa selalu berdoa dan andalkan Tuhan :)

Semua hal yang terjadi atas seizin Tuhan.
Gambar dari situs berbagi pixabay.com


Demikian 7 hal yang bisa menghambat pertumbuhan penulis. Sampai sekarang pun, saya masih berjuang untuk mengatasi hal-hal yang dapat menjadi writer’s block ini.

Apakah ada yang ingin menambahkan? :)

Penulis:
Putu Felisia
Novelis dan blogger











1 komentar: