Rabu, 20 September 2017

Jangan Menulis dengan Hati Pahit

Pernah merasa kalau dunia ini menyesakkan? Pernah mencoba melarikan diri ke dalam tulisan dan gagal? Tenang! Kamu nggak sendirian! :)


Dahulu, saya pernah mendengar bahwa profesi penulis itu rentan dengan depresi. Dulu, saya termasuk yang nggak percaya dan menertawakan anggapan ini. Lha, bukannya menulis justru melepaskan stress? Kita bisa menumpahkan apa saja dalam tulisan kita. Kita suka seseorang, kita bisa memegahkan dia dalam tulisan. Kita benci orang, kita bisa merendahkan dia dalam tulisan. Kita pun bisa menggiring opini. Kita bisa membuat pembaca percaya apa yang kita percayai dan meyakini apa yang kita yakini.

Seperti kata Jessica Huwae dalam salah satu novelnya, penulis itu seperti tuhan kecll yang bisa melakukan apa saja dalam tulisannya.

Masalahnya, KITA BUKAN TUHAN.

Saya dulu pernah menemukan status yang lewat di beranda. Intinya, orang ini menganggap karya yang ditulis dalam kondisi depresi justru bisa menjadi fenomena. Sedang penulis-penulis depresi akan menjadi legenda. Bisa dibilang, orang ini bercita-cita bikin karya bombastis, tapi cara yang dia tahu cuma jadi depresi dulu.

Kasian bener.

Tapi memang, beberapa penulis besar memiliki hidup penuh tekanan. Sebutlah Ernest Hemingway—pengarang The Old Man and The Sea yang bunuh diri di usia 61. Kemudian Leo Tolstoy—penulis War and Peace yang meninggal tragis di Stasiun Astapovo. Hingga kini, karya-karya mereka menjadi karya-karya paling dikenang. Tetapi di balik itu, hidup mereka penuh dengan kepahitan.

Terus emang elo mau ikutan begitu?


Kepahitan mungkin memang menjadi bumbu penting dalam sebuah karya fiksi. Tapi saya sendiri tidak menganjurkan penulis menyuburkan kepahitan dalam hati mereka. Menurut saya, kepahitan membuat kaca mata penceritaan menjadi lebih sempit karena tertutup kebencian. Ketika kepahitan memuncak, tidak menutup kemungkinan kita sudah dipenuhi kebencian, hingga kita membenci semua hal, termasuk membenci tulisan kita dan membenci diri kita sendiri.

Selain itu, ada efek-efek lain yang bisa berimbas ke kehidupan nyata. Meski mungkin, kehidupan kita tidak seindah cerita fiksi, kehidupan itu jauh lebih berharga dari semua karya manusia. Saya tidak menyangkal, kebebasan menjadi tuhan kecil dalam tulisan membuat kita ingin larut dalam dunia khayal. Lama-lama, kita membenci dunia yang berjalan tidak sesuai keinginan kita. Lebih buruk lagi, kalau tulisan kita lalu ditolak. Perasaan tidak berharga akan mulai muncul dalam kepahitan. Sementara kebencian semakin membanjiri kita. Kita pun hidup dalam keputus asaan, kemarahan, dan semakin menutup diri dari dunia luar. Kita berusaha melarikan diri semakin dalam ke dunia fiksi. Menjadi kepribadian sinis yang kerap mengeluh dan marah kepada apapun. Lalu kita semakin merasa tidak berharga setiap kali menerima respons negatif terhadap karya kita.

Kalau hal-hal di atas sudah terjadi, maka artinya kehidupan kita telah mulai terancam. Kita bisa kehilangan banyak hal tanpa kita sadari. Keluarga, teman, pekerjaan… semua hal yang sebetulnya kita sayangi. Sebelum semuanya terlambat, ada baiknya kita introspeksi diri.  


Berdamai dengan diri sendiri itu penting.

Saat kita mulai belajar menerima diri kita apa adanya, kita akan berupaya mencari kesembuhan jiwa. Saya sendiri beruntung karena menemukan hadirat Tuhan dalam kesesakan. Pikiran dipulihkan. Tulang disegarkan. Saat inilah, pandangan menjadi terbuka. Kepahitan bukan lagi sesuatu yang melukai, tetapi kepahitan bisa menjadi berkat menjadi orang lain. Minimal jadi pelajaran bagi yang lain agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.



Percayalah, saat pikiran semakin terbuka begini… ada lebih banyak inspirasi yang datang. Saya sendiri pun sempat takjub. Rupanya, kasih yang ada di dalam hati memiliki kekuatan jauh lebih besar dari segala kepahitan yang dulu saya anggap sebagai hal terpenting buat bikin pembaca baper.

Sebenarnya, sungguh beruntung mereka yang memiliki karunia menulis. Banyak orang tidak menyadari, ada kekuatan besar di balik kata-kata. Dengan kata-kata, orang dapat menumbuhkan rasa cinta. Dengan kata-kata pula, orang dapat menyuburkan kebencian. Cinta maupun benci adalah dua cara yang bisa dipilih penulis dalam menyikapi dunia.

Semua tulisan yang dibuat oleh penulis adalah cara pandang mengenai dunia. Tinggal kita sendiri yang memilih, akan memandang dari sudut mana.

Kirang langkung ampurayang.


Astungkara. Tuhan memberkati. 




Putu Felisia
IG:
 putufelisia
 putufelisia_s

Tidak ada komentar:

Posting Komentar