Minggu, 21 Agustus 2016

Komedi Modern: Pelecehan Perempuan dalam Nyanyian PEPAYA



Baru saja saya menonton film yang dibintangi Indro Warkop. Judulnya: Komedi Modern Gokil. Film ini adalah film bioskop. Pemain-pemainnya tampak menjanjikan. Jadi saya langsung saja menonton tanpa ada harapan apa-apa.

Entah saya yang baru ngeh, atau memang eksploitasi perempuan semakin hari semakin parah. saya juga nggak tahu.
Sebenarnya, apa yang saya lihat di film ini hanyalah pengulangan dari apa yang terjadi di setiap film Warkop DKI. Perempuan-perempuan seksi. Lagu-lagu lucu (yang untungnya, kali ini orisinil), adegan-adegan slapstick, dan yang pasti… ending tercebur di air. Kurang apalagi, coba?

Film ini dibuka dengan kedatangan Boris dan Dodit (diperankan oleh Boris Bokir dan Dodit Mulyanto) ke Jakarta. Dari nyari tempat kost hingga akhirnya diterima menjadi detektif swasta. Lalu akhirnya terjerumus dalam salah penyelidikan. Hingga membuat mereka menculik orang yang salah.

 So far, idenya lumayan lah, ya. Akting Mas Indro sendiri bisa dibilang terbukti keseniorannya. Maya Wulan sendiri sangat berpengalaman memerankan istri yang berkuasa atas suami. Jadi chemistry di antara keduanya terbangun dengan baik.

Kartika Putri sendiri bermain cukup lumayan. Meski agaknya, yang diharapkan bukan akting, tapi seberapa hebat dirimu pamer bodi di film ini.

Sebagai penonton dewasa, saya akui… saya sangat terganggu dengan payudara yang sengaja dipertontonkan secara vulgar. Tujuannya apa? Menarik penonton? Bagaimana kalau yang nonton bukan orang dewasa? Notabene di awal film ini tidak ada tulisan merah besar bertuliskan FILM INI UNTUK DEWASA.




Bahkan lagu soundtracknya juga terasa mengganggu. Okelah, waktu opening lagu ini terdengar lucu. Tapi waktu diputar lagi di satu adegan, saya langsung muak.

“Itu pepaya,” kata Boris sambil menunjuk dua perempuan berbodi seksi.

“Itu pisang,” pandangan Dodit tertuju pada pisang yang dimakan.”

“Itu jagung bakar,” kata Gun sambil memperhatikan cewek yang nggak cantik.

Dari segi kualitas, film ini mungkin bisa dibilang cukup oke. Minimal digarap dengan serius lah. Ada lift yang pintunya banyak. Ada kereta kuda berbodi mobil. Niat lah yang bikin film mengeluarkan modal bikin properti.

Tapi ya, itu…masalah utama dalam film ini adalah eksploitasi perempuan yang ditampilkan secara berlebihan. Seolah perempuan itu hanya sekumpulan payudara gadis seksi. Kenapa yang ini nggak diblur? Kan aneh… padahal sedikit pamer dada di televisi sudah di-blur habis-habisan. Bukannya ini seharusnya sama aja sistemnya? Cuma beda tempat nonton doang. Kok lembaga sensor film diam saja? Aneh banget, kan!

Ingatan saya akan film Warkop dulu, eksploitasinya nggak sampai separah ini, deh… (maafkan kalau salah ingat. Maklum zaman Warkop jaya, saya masih kecil). Kalau dulu, paling tahunya, oh… artisnya cantik. Artisnya seksi. Kalau sekarang? Sorotan kamera tanpa malu-malu merekam bagian payudara. Penulis skrip tanpa segan memasukkan adegan es krim jatuh ke payudara salah satu pemain.

Inikah wajah Indonesia sekarang? Orang-orang yang seolah bersih di depan, tapi busuk di belakang? Bukankah ini namanya munafik? Ketika di mana-mana digembar-gemborkan aksi anti pornografi. Ketika semua perempuan di layar televisi wajib menutup aurat, atau tubuhnya  diblur begitu saja?

Ketika para orang tua atau anak remaja yang masih belajar seks pergi ke bioskop, lalu mendapat tontonan seperti ini?

Yang jelas, saya sangat prihatin dengan kondisi ini. Entah di masa depan bagaimana perlakuan masyarakat terhadap kaum perempuan. Apakah sebagai istri, ibu, ataukah sekadar BUAH PEPAYA.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar