Jumat, 14 Agustus 2020

5 Pola Pikir Salah Orang Tua

 

Sampai kini, anak-anak sering diintimidasi dengan kata ‘durhaka’ atau ‘kuwalat’. Sejak kecil, anak-anak didoktrin agar berbakti pada orang tua. Lalu, bagaimana dengan orang tua?

 

 Hingga kini, sadar tidak sadar, orang tua memiliki banyak pola pikir yang sebenarnya salah. Kebanyakan orang tua mendapatkan pola pikir ini dari pola pengasuhan mereka dahulu. Mereka kemudian meneruskannya kepada anak-anak mereka hingga anak-anak mereka pun ikut menganut pola-pola pikir ini.

Berikut adalah 5 pola pikir salah orang tua:

 

1. Kelahiran Anak = Utang Seumur Hidup

Tanpa sadar, banyak orang tua yang menganggap anak berutang budi karena telah dilahirkan, dirawat, dan dibesarkan. Coba bayangkan, betapa lelahnya masa kehamilan, kelahiran, masa balita, dan seterusnya. Biaya yang dikeluarkan juga sangat banyak. Kalau saja, uangnya dipakai untuk berinvestasi, seharusnya uang itu sudah menjadi sangat banyak!

Padahal ….

Dari awal, anak-anak tak pernah minta dilahirkan. Justru, banyak orang gelisah karena tak kunjung mendapatkan momongan. Ada juga yang berusaha keras mendapatkan keturunan. Alasannya macam-macam. Dari pandangan ‘banyak anak banyak rezeki’, takut sama mertua, digunjingkan tetangga, sampai takut kesepian di masa tua.

Harus diingat: Kalau Anda sebagai orang tua merasa anak memiliki banyak utang budi, sadarilah dulu, apa motivasi Anda memiliki anak. Kalau motivasinya salah satu dari alasan di atas, becerminlah dahulu! Patutkah Anda menagih utang pada anak yang lahir karena obsesi anda?

 

 

2. Tidak Ada Orang Tua, Anak Bisa Apa?

Banyak orang tua merasa anaknya seperti mobil yang harus disetir dulu baru bisa berjalan. Pekerjaan anak selalu buruk dan tidak sebaik pekerjaan orang tua. Dari awal, orang tua tidak memiliki rasa percaya pada anak. Pokoknya, apa yang dilakukan anak selalu tidak beres.

Contoh kasus: Ani dan Rini (bukan nama sebenarnya) selalu dimarahi karena tidak pernah melakukan pekerjaan dengan ‘benar’. Alih-alih dibimbing, Mama Ani dan Rini selalu mengomeli Ani dengan Rini dengan kata-kata yang sama: “Dasar! Nggak ada Mama, kalian bisa apa? Kenapa kalian berdua nggak bisa kayak Mama, sih? Nggak becus semua!”

Akibatnya, Ani jadi enggan mengerjakan sesuatu karena menganggap itu pasti salah dan Rini sendiri selalu menanyakan segala hal kepada sang Mama. Sang Mama pun naik darah. Mama menganggap Ani pemalas. Mama menganggap Rini terlalu bergantung padanya dan ini membuat Mama super stres. Padahal, Rini sendiri selalu menyesalkan dirinya kenapa dia tidak bisa seperti mamanya, walau separuh.

 

Catatan: 

Memuji dan mengkritik anak sama-sama perlu. Bimbingan orang tua jauh lebih berarti daripada omelan tanpa henti.

 

3. Kenapa Anakku Selalu Lebih Jelek dari Anak Orang Lain?

Pola pikir ini lagi-lagi ada di alam bawah sadar. Saya sendiri hingga sekarang masih dibanding-bandingkan dengan anak orang lain. Dari anak teman-teman ortu hingga Atta Halilintar dan Saskia Gothic, semua anak terlihat hebat di mata ortu. Sedang semua kegagalan seolah tercurah pada anak sendiri. 

 

“Aget o, to ngelah panak bisa nyenengin nak tua,” sering sekali diucapkan. Untung sekali Si A punya anak yang bisa menyenangkan orang tua (secara materi).

Padahal ….

Kalau dibalik, ini nggak enak, juga, lho.

Misalnya Atta Halilintar. Coba kalau saya yang balik bilang, “Untung ya, Atta itu orang tuanya bisa ngemodalin. Untung, ya, orang tua Si A itu positif banget, dorong anaknya supaya semangat. Untung ya, orang tua Si C itu selalu mendukung anaknya, nggak pernah menghina-dina anak sendiri.” 

Nggak enak, tho, ya?

Karena itu, saya sendiri sangat bertobat banding-bandingin anak sama anak orang lain.

Semua anak itu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sama seperti semua orang tua.

 

4. Salah Kecil = Dosa Besar

Mama saya itu perfeksionis. Apapun yang saya lakukan harus 100% presisi dengan apa yang dia perintahkan. Hal ini berlaku untuk segala hal, termasuk hal remeh temeh seperti berbelanja. Misalnya saja, Mama menyuruh membeli Tepung A. Perintahnya itu jelas: membeli harus di Toko A, harga harus sekian, berat harus sekian.

Walau saya kesal setengah mati dengan pemilik Toko A yang judesnya setengah mati, saya tetap harus membeli di toko itu. Kalau harga naik, saya dipersalahkan karena harga tidak tepat (harusnya nanya, kok harganya naik? Gimana, sih, kok harganya segitu? Kan sudah langganan!), begitu pula dengan berat dan jenis tepung. Meski tepungnya sama, merk lain, bisa jadi masalah besar. Antara “Kalau tahu beda merk, jangan beli, dong!” atau “Tepung Mama sudah habis, kenapa kamu nggak beli, sih? Beda merk, asal merknya terkenal kan nggak apa-apa!”

Lalu berlanjutlah ke omelan, “Heran, nyuruh apapun kok nggak pernah bener, sih!”


(lebih jauh, saya akan membuat artikel lain mengenai masalah ini.)

Catatan keras bagi orang tua: menuntut anak 100% benar menuruti kehendak orang tua hanya membuat anak sering ragu dan dilema karena takut salah.

 

5. Orang Tua = 100% Benar

Sampai sekarang, di Bali (terutama di lingkungan saya), berargumen dengan orang tua adalah hal tabu dan merupakan tanda kedurhakaan anak kepada orang tua. Mungkin, pola pikir ini berakar pada pola pikir pertama, bahwa anak berutang budi 100% pada orang tua. Jadi, anak harus nrimo dan manut apapun kata orang tua. Menasihati orang tua jelas jadi kuwalat, walau menasihatinya untuk hal yang baik.

 

Contoh kasus: bapak-bapak tetangga selalu menyuruh papa saya menampar saya karena menasihati papa untuk rajin mandi dan mencuci tangan (apalagi masa corona gini).

Menghormati orang tua jelas wajib, tapi, nggak sampai segininya kali, ya 😔

 

Baiklah, itu adalah 5 pola pikir salah orang tua (setidaknya dari pengalaman saya sebagai anak sekaligus orang tua). Adakah yang mau menambahkan? 😅

Penulis: Putu Felisia (Novelis dan Blogger)

 

 

 

 

 

 

 

24 komentar:

  1. Sebenarnya tidak ada yang salah dalam pengasuhan gaya mana pun. Yang ada cuma sebab-akibat. Setiap ortu pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Cuma ya memang tiap gaya pengasuhan pasti ada efek baik dan buruknya. Jadi, pinter2nya kita aja sebagai anak memilih yang baik untuk bekal ke depannya.

    BalasHapus
  2. Benar sekali ini, Mbak Feli. Saya jujur juga kadang-kadang mengalami hahaha. Terutama nomor 5 itu. Orang tua selalu benar, dan anak selalu salah. Padahal tidak selamanya orang tua benar dan anak yang salah. Apalagi kalau anak sudah dewasa. Pasti sudah bisa memilih jalan hidupnya sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget. Sebagai manusia, semua orang berproses. Selama hidup, 100% benar itu mahasulit ☺

      Hapus
  3. Orangtua selalu benar dan anak pasti salah dimana mana ada. Karena merasa lebih tua pastinya lebih benar dan itu susah banget diubah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iya banget kak tapi bersyukur banget dibesarkan di lingkungan yang tidak seperti itu hihi.. tapi ini bener emang harus ada edukasi sih

      Hapus
  4. Ini yang kuceritakan di novelku Ibuku Tak Menyimpan Surga di Telapak Kakinya (republished di KBM: Tuhan, Tak Ada Surga di Telapak Kaki Ibuku).

    Warning juga sih ini buat kita supaya JANGAN jadi ortu seperti itu.

    Btw, itu tetanggamu horor banget sih, Fel.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha. Maklum lingkungan sini masih cukup kolot 😅

      Hapus
  5. Terima kasih kak, artikel ini sebagai reminder daku yang besoknya berkeluarga untuk bisa memahami dan bijak

    BalasHapus
  6. Dibandingkan dengan anak orang lain itu yang bikin miris. Padahal kalo dibalik ya sama aja ya. Kenapa ortuku ga kayak si a?

    Parah banget sih kalo menasehati orang tua dianggap durhaka. Padahal anak juga punya pemikiran sendiri yang juga butuh didengarkan.

    BalasHapus
  7. Ah iya
    Kadang kadang orang tua suka memaksakan kehendaknya kepada anak ya mbak
    Saya berdoa semoga g jadi orang tua seperti itu

    BalasHapus
  8. Tapi untuk poin nomer 2 menurutku karena faktor keadana juga sih kak. Karena memang ada tioe anak yang gak bisa "bergerak" tanpa orangtua

    BalasHapus
    Balasan
    1. Poinnya di sini adalah orang tua yang menganggap anak tidak mampu melakukan apapun sih kak. Di masa depan, anak jadi minderan dan merasa memang tidak becus tanpa orangtuanya ☺
      Mungkin komunikasinya yang bermasalah meski maksudnya baik ☺

      Hapus
  9. Rantai negatif dan toxic sebagai orangtua emang kudu diberhentikan sih di generasi kita, kudu upgrade cara mengasuh anak. Orangtua dan anak nggak selamanya benar, tapi selamanya harus saling belajar

    BalasHapus
  10. Kalau saya sudah lama tidak berinteraksi dengan orang tua. Tapi jika diingat, paling teringat itu orang tua punya kecenderungan bahawa saya "wajib" sukses karena saya selalu rangking 1 (itupun semasa SD dan SMP). Meski tidak terlihat langsung, tapi nampak ketika ada anak orang lain yang bekerja di Jepang dengan gaji besar nampak kecewa pada saya, ada yang pinter dakwah dari usia SMA juga menanyakan saya bisa seperti itu atau tidak, dan lain-lain.

    Namun, kini saya menyadari bahwa orang tua saya adalah sosok yang sangat terbatas secara wawasan, pendidikan, dan juga pengalaman. Mungkin sampai di situlah dunia mereka dan persepektif tentang perjuangan membesarkan anak-anak.

    Pada akhirnya, saya mengingat kisah Ibrahim yang ayahnya sangat jahat dan berdosa. Allah menyuruh Ibrahim tetap berkata baik kepada ayahnya.

    BalasHapus
  11. Membaca ini jadi evaluasi diri lagi. Mungkin masih ada dari poin-poin di atas yang tanpa sadar sudah saya lakukan ke anak. Padahal mungkin maksudnya bukan demikian, tapi anak-anak merasakannya lain. Semoga bisa semakin baik lagi dalam mendidik dan mendampingi anak-anak, aamiin

    BalasHapus
  12. iya, banyak banget orang tua yang nggak sadar mereka sudah durhaka sama anak. padahal anak itu masih sangat tergantung sama orangtua, mereka pun belajar dari orangtua. Semoga semakin banyak orang tua yang sadar akan hal ini, bukan cuman sekedar melahirkan saja dan mendapat label orang tua yang akhirnya jadi orang tua toxic bagi anaknya sendiri

    BalasHapus
  13. Kak Putuuu...
    Kok nulis dosa aku semuaa..huhu, berasa tertusuk 5 kali...
    Beneran perbanyak taubat dan belajar untuk menjadi orangtua yang customize. Orangtua yang bijkasana dan memahami masing-masing keunikan anak. No judgement dan perbanyak mendengar. Dunia tempat yang berat ini bisa jadi lebih sayang dengan anak-anak kita daripada orangtuanya.

    Jadi gak mau banget kalau anak-anak disayang sama "oranglain" selain jodoh mereka nantinya.
    Semoga senantiasa dilindungi Allah dalam setiap perbuatan dan perkataan kita sebagai orangtua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak dosa sih menurut saya. Semua juga pada dasarnya belajar dan memang sebagai manusia sangat mustahil bisa 100 persen sempurna ☺

      Hapus
  14. penting sekali keterbukaan antara ortu dan anak agar hubungan semakin harmonis. Memang mengubah pola pikir ini akan panjang waktunya

    BalasHapus
  15. memang mengubah pola fikir yang sudah lama tertanam bertahun-tahun perlu perjuangan. semoga dimasa depan ortu dan anak semakin komunikatif

    BalasHapus
  16. Ya ya ya, saya mengakuinya. Sebagai anak saya sempat mengalami hal serupa. Sebagai ortu, kadang saya juga khilaf menganggap ortu selalu benar. Tapi saya sadar sikap saya ini warisan pengasuhan masa lalu. Jadi saya juga gak segan untuk meralat, meminta maaf, atau minta saran dari anak2.

    BalasHapus
  17. Ya Allah, terima kasih mom diingatkan. Memang harus sering-sering baca begini biar diingetkan terus ya :) semoga kita bisa jadi orang tua yang lebih baik terus

    BalasHapus
  18. semoga semua orang dipersiapkan secara lahir dan batin ya untuk punya anak.

    BalasHapus
  19. Abis jadi orangtua aku juga selalu ngerasa bahwa aku pasti bener dan anak anak pasti yg salah. Tp makin kesini aku makin sadar kl orangtua bukan makhluk sempurna yg ngga pernah buat salah yaaa

    BalasHapus

Protected by Copyscape
Protected by Copyscape