Minggu, 24 Juli 2016

Review Novel Purple Eyes karya Prisca Primasari : Kisah Cinta dalam Nuansa Fantasi

Novel Mbak Prisca Primasari ini cocok banget buat kalian yang suka kisah fantasi romantis. Penuturannya yang lembut cukup menghanyutkan. Bumbu fantasi membuat kisahnya menjadi unik.



"Karena terkadang, tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi."

Blurb novel:

Ivarr Amundsen kehilangan kemampuannya untuk merasa. Orang yang sangat dia sayangi meninggal dengan cara yang keji, dan dia memilih untuk tidak merasakan apa-apa lagi, menjadi seperti sebongkah patung lilin. Namun, saat Ivarr bertemu Solveig, perlahan dia bisa merasakan lagi percikan-percikan emosi dalam dirinya. Solveig, gadis yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Solveig, gadis yang misterius dan aneh. Berlatar di Trondheim, Norwegia, kisah ini akan membawamu ke suatu masa yang muram dan bersalju. Namun, cinta akan selalu ada, bahkan di saat-saat tergelap sekalipun. 
 
novel purple eyes


Kesan saya:
 
Saya membeli buku ini karena saya sangat suka dengan kisah cinta dua dunia. Meski demikian, buku ini masih bersegel dalam jangka waktu lumayan lama. Saya belum mood  membaca. Maklum, selama melanglang dunia oranye (wattpad), saya sudah eneg membaca cerita tentang orang asing jadi-jadian. Maksud saya, penulis di wattpad suka banget bikin cerita tentang orang-orang bule. Setting luar negeri pula. Yang janggal, orang-orang ini bisa-bisanya menyelipkan kebiasaan Indonesia dan jargon Indonesia di kisah yang tokohnya 100% bule 😑😑😑

Nah, lepas dari sikap skeptis saya tadi, saya akhirnya membaca Purple Eyes karya Mbak Prisca Primasari ini. 142 halaman termasuk buku yang tipis. Namun menurut saya, ceritanya cukup padat. Romance antara Ivarr dan Solveig sungguh kental sekali. Sementara setting  Norwegia dipaparkan dengan cukup rapi.

Yang agak mengganggu pikiran saya, adalah fakta kalau Hades itu bersayap. Ini balik lagi ke suka-sukanya penulis, sih… apalagi sayap itu merupakan peranan penting di salah satu adegan final. Ya, saya cuma gagal fokus gara-gara gak terima dewa disamain sama malaikat  😁🙏

Buat saya, buku ini tergolong ringan, karena mungkin titik beratnya di romance. Fantasy dan thriller Cuma bumbu penyedap yang diberikan dengan takaran pas. Endingnya pun rada-rada Korea gitu, hehehe…  berpisah untuk bertemu lagi itu memang jalan terbaik buat fans service.(Meski katanya, ini bukan fans service juga 😆)

Akhir kata, saya suka buku ini. Buku ini cocok banget buat penggemar romance fantasy. Tapi kalau sukanya fantasy-fantasy banyak pertempuran macam Harry Potter, mungkin buku ini nggak bisa jadi a cup of tea-mu 😉

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Protected by Copyscape
Protected by Copyscape