Selasa, 30 Maret 2021

Diam atau Speak Up?

 Ada pepatah yang berbunyi, “Silent is gold”, diam itu emas. Pepatah yang masih berlaku sampai sekarang ini tak jarang membungkam orang dan mewajibkan orang untuk menekan bahkan menghilangkan semua perasaan negatif. Seolah-olah, sedih, marah, berduka, sakit, itu adalah toxic yang bisa mempengaruhi lingkungan. Jadi, semua orang sebaiknya diam dan terus tersenyum.

 Sejak kecil, saya pun kerap diharapkan bungkam. Apalagi, saya perempuan yang hidup di lingkungan patriarki. Meski merasa sangat tidak nyaman, saya harus diam, manut dan nrimo. Ketika saya melihat ketidak adilan dan bicara, saya dianggap bawel dan cerewet. Ketika saya tidak dapat mengendalikan emosi, saya dikatakan cengeng dan pengambek. Pokoknya, anak manis itu adalah anak yang diam dan penurut.

 

Di sekolah pun, saya disuruh diam dan nrimo saja. Saya ingat sekali waktu Guru Olah Raga saya sering menghina dan menjadikan saya bahan tertawaan, guru saya akan marah kalau saya melawan. Bahkan kalau berani menatap matanya, saya akan dibentak dan dihukum lebih parah. Pokoknya, murid yang baik adalah murid yang diam dan taat walau selalu dihina dan dipermalukan.

 

Ada banyak lagi hal-hal yang saya alami di masa-masa kecil hingga kuliah. Sayangnya, perlakuan sama juga saya terima saat menikah. Saat menikah, saya dituntut menjadi istri yang selalu menjawab “iya”. Pernah suatu kali, anak saya menangis di tengah jalan ramai. Saya dipaksa turun mobil lalu membuatkan susu. Saya pun membuatkan susu di tengah kemacetan jalan. Berdiri di tengah kendaraan-kendaraan yang melaju pelan, diklakson kendaraan, lalu ketika susu selesai, anak saya ternyata tidak mau minum! Diingat-ingat, ini pahit sekali. Namun, sekali lagi, sebagai istri, pokoknya tidak boleh berkata tidak. Sebagai ibu apalagi. Katanya, ibu harus selalu tersenyum dan tidak boleh menegur atau marah pada anak.

 

Tentu saja, banyak masalah yang ditimbulkan dari diam dan memendam perasaan. Saya mengalami sakit jiwa sekitar 2015-2016 lalu. Saat itu, saya sudah tidak tahan lagi. Mertua pun sudah kecewa karena menantunya tidak lagi jadi menantu yang, “Iya, Ma ... iya, Pa.“ sepanjang waktu.

 

Di antara penyakit saya, saya mengalami gangguan emosi yang parah. Saya lupa cara tersenyum. Perasaan saya kosong hingga tidak bisa menangis. Pokoknya parah sekali. Baru ketika saya didoakan di gereja, saya menangis tersedu-sedu dan merasa sangat plong. Setelah itu, pemikiran saya banyak berubah. Saya tidak ingin dibungkam seumur hidup saya. Saya tidak ingin memendam perasaan demi kenyamanan orang lain.

 

Saya juga mulai belajar menerima kalau orang lain memang bisa terganggu melihat keadaan kita. Orang yang hidupnya bahagia akan melihat keadaan buruk sebagai suatu hal yang negatif. Orang yang hidupnya minim masalah akan melihat orang bermasalah sebagai hal yang buruk dan tak layak dipandang. Tentu, tidak semua orang seperti itu. Namun, orang-orang itu memang ada dan yang paling baik memang menghindari tipe orang seperti itu karena orang tersebut jarang mau membantu kita.

 

Yang terpenting, bicara dan komunikasi itu perlu. Saya merasakan perubahan besar ketika saya memberanikan diri mengemukakan segala ketidak nyamanan saya kepada orang tua. Memang, awalnya saya dan orang tua berdebat terutama mengenai ketidak sukaan saya dibanding-bandingkan dengan orang lain. Namun, pada akhirnya, saya maupun orang tua belajar mengenai hal yang saya maupun orang tua tidak sukai.

 

Jadi, apakah silent is gold itu salah?

 

Tentu tidak sepenuhnya. Kadang memang ada saat kita harus diam dan menghormati otoritas. Namun, ketika ketidak adilan menyuruh kita diam ... apa yang harus kita lakukan?

 


 

 

Penulis:

Putu Felisia

Novelis dan Blogger.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Protected by Copyscape
Protected by Copyscape