Senin, 01 Juli 2019

Siapapun Kita, Mari Terlibat Membudayakan Literasi!


Saya cukup bergembira saat tahu kalau pemerintah sekarang cukup peduli dengan literasi. Bisa dibilang, di lingkungan keluarga saya sendiri masih belum paham pentingnya kemampuan literasi. Masyarakat Bali sini (terutama di lingkungan saya) cenderung memiliki pola pikir tradisional: masa depan generasi hanyalah mengacu kepada nilai rapor dan ijazah yang dimiliki.

Padahal, sebentar lagi Indonesia harus bersiap menghadapi dampak dari bonus demografi. Buat yang belum tahu, bonus demografi adalah  besarnya penduduk usia produktif antara 15 tahun hingga 64 tahun dalam suatu negara. 

Lonjakan jumlah penduduk usia produktif tentu akan mendatangkan berbagai dampak.
Gambar dari situs berbagi pixabay.com.



Dikatakan, Jumlah penduduk Indonesia selama beberapa tahun mendatang akan terus meningkat. Berdasarkan data yang dimiliki oleh Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2018 lalu jumlah populasi Indonesia mencapai 265 juta jiwa. Kemudian, pada 2024, angkanya berpotensi meningkat hingga 282 juta dan sekitar 317 juta jiwa pada 2045.

Data BPS 2018, jumlah generasi millennial berusia 20-35 tahun mencapai 24 persen, setara dengan 63,4 juta dari 179,1 juta jiwa yang merupakan usia produktif (14-64 tahun). Tidak salah bila pemuda disebut sebagai penentu masa depan Indonesia. Inilah yang disebut sebagai bonus demografi.

Tentu saja, ada dampak positif dan dampak negatif yang bisa terjadi akibat melonjaknya jumlah penduduk usia produktif ini. Anak tanpa kompetensi bisa menjadi beban pembangunan bahkan beban dalam keluarga. Dalam hal ini, kalaupun beruntung, anak yang bermodalkan ijazah semata hanya mampu melamar pekerjaan kasar semacam cleaning service saja.

Banyak orang yang hanya bermodalkan ijazah diprediksi hanya mampu menjadi cleaning service.
Gambar dari situs berbagi pixabay.com

Kemampuan literasi dan kompetensi itu sangatlah erat kaitannya.

Menurut KBBI, Kompetensi/kom·pe·ten·si/ /kompeténsi/ n 1 kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan (memutuskan sesuatu); 2 Ling kemampuan menguasai gramatika suatu bahasa secara abstrak atau batiniah.

Sementara literasi adalah kemampuan untuk menggunakan bahasa dan gambar dalam bentuk yang kaya dan beragam untuk membaca, menulis, mendengarkan, berbicara, melihat, mewakili dan berpikir kritis tentang ide. Literasi juga merupakan proses kompleks yang melibatkan pengembangan pengetahuan dan budaya dan pengalaman sebelumnya untuk mengembangkan pengetahuan baru dan pemahaman lebih dalam.

Ini perlu sekali dicatat:

Literasi itu bukanlah sekadar kemampuan membaca dan menulis.

Literasi dalam konteks gerakan adalah kemampuan mengakses, memahami, mengelola, dan menggunakan pengetahuan dan informasi yang dipilih secara cerdas.
Untuk tahu lebih jauh tentang literasi, silakan lihat di tautan berikut:


Membangun kesadaran akan pentingnya literasi ini tidaklah mudah. Perlu sinergi dan peran serta guru/pendidik, orang tua, pegiat literasi, dan seluruh komponen masyarakat.

Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat, dalam konteks pendidikan menjadi lingkungan pembelajaran pertama dan utama bagi anak. Sangatlah penting untuk memulai membudayakan literasi di dalam keluarga. Kesadaran orang tua tentang pentingnya budaya literasi dapat menjadi faktor utama dalam menumbuh kembangkan budaya literasi dan bertanggung jawab terhadap keberlangsungan literasi bagi anak-anaknya.

Mari memulai budaya literasi di keluarga!
Gambar dari situs berbagi pixabay.com

GERNAS BAKU atau Gerakan Nasional Orang Tua Membaca Buku merupakan salah satu hal yang bisa dilakukan di keluarga. Membaca merupakan pintu menuju literasi. Membacakan buku untuk anak bisa membangun kebiasaan baik membaca, mempererat hubungan emosi orang tua-anak, bahkan bisa menjadi ajang berdiskusi mengenai bacaan yang sedang dibacakan. Dengan berdiskusi ini, orang tua dan anak sama-sama belajar bagaimana mengolah informasi dan mengembangkan pengetahuan tadi.

Di sekolah, guru-guru bisa memulai membaca lantang untuk siswa. Selain gerakan membaca 15 menit yang dicanangkan pemerintah, guru-guru sebaiknya menerapkan literasi pada pembelajaran, tidak hanya berpatokan pada hafalan, ulangan, atau tugas yang hanya copy paste dari google. Kalau bisa, guru juga sebaiknya memiliki kemampuan kreatif dalam mengajar, misalnya dengan membuat mainan edukatif berbasis literasi. Dengan demikian, baik guru maupun murid memiliki pertumbuhan daya literasi masing-masing.

Masyarakat sendiri memiliki peranan besar dalam mendorong tumbuhnya daya literasi. Masyarakat di sini juga termasuk para pegiat literasi, penulis, youtuber, selebgram, penyedia konten internet, dan lain-lain. Semakin besar pengaruh kita ke masyarakat, semakin besar juga kita mampu mengajak masyarakat berbudaya literasi.

Akan sangat baik jika misalnya artis semacam Raffi Ahmad merekam kegiatan mendongeng untuk Rafathar, alih-alih mengajarkan Rafathar mengerjai orang atau belanja mainan mahal. Artis populer seperti Baim Wong pun, alih-alih memperlihatkan prank lucu-lucuan ODGJ (Orang dengan Gangguan Jiwa—yang seharusnya tidak dijadikan lelucon), lebih baik mempopulerkan kegiatan berkunjung ke perpustakaan, toko buku, atau museum.

Tokoh berpengaruh lain seperti Atta Halilintar mungkin bisa mempopulerkan kembali lagu anak-anak melalui kanal youtube-nya. Ria Ricis bisa melakukan eksperimen ilmiah terkait edukasi literasi, bukannya mempraktikkan hal semacam gunting squishy atau belanja squishy hingga jutaan rupiah.
Dengan demikian, follower mereka pun akhirnya tertular dengan kebiasaan baik mereka dan meniru membudayakan literasi dalam kehidupan mereka.

Siapapun kita, kita bisa terlibat dalam gerakan literasi ini.

Mulai saja dari hal yang kecil. Misalnya  menuliskan sesuatu yang edukatif di media sosial kita. 

Contoh:
Pengalaman dalam mengatasi anak tantrum bisa membantu orang tua lain yang kebetulan memiliki masalah sama.

Pengalaman dan pengetahuan bisnis juga bisa dituangkan dalam unggahan di Instagram, Facebook, Twitter, maupun media sosial lain. Dengan membagi pengetahuan ini, secara otomatis kita membantu orang lain juga.

Menyebarkan pengetahuan dan pengalaman tentu akan sangat bermanfaat dan berpahala, bahkan lebih bermanfaat dari menebar kebencian dan hoaks.

Mulailah menebar kebaikan di media sosial.
Gambar dari situs berbagi Pixabay.com.


Untuk yang mampu secara finansial maupun penyediaan tempat, kita bisa mendirikan Taman Bacaan Masyarakat untuk lingkungan sekitar mereka. Dengan demikian, orang-orang yang tidak memiliki akses bacaan bisa membaca di taman bacaan mereka. Hal lain yang bisa dilakukan misalnya dengan mengadakan acara di banjar/aula desa yang berkaitan dengan literasi: mendongeng, pentas drama, pertunjukan wayang yang selain melestarikan kebudayaan nusantara juga mengasah kreativitas warga.

Kegiatan mendongeng di Pustaka Manuela, Peguyangan, Denpasar.
Gambar: dokumentasi Pustaka Manuela.

Lalu, untuk yang berprofesi sebagai seniman, kita bisa  berkontribusi dalam penyediaan konten  bermutu berbasis literasi: baik itu melalui buku, tarian, musik, dan lainnya yang mendorong pertumbuhan daya literasi.

Contoh paling menarik adalah saluran Kok Bisa di youtube yang menyediakan pengetahuan dalam bentuk animasi yang menarik.



Kesuksesan gerakan literasi bisa jadi sangat berpengaruh untuk masa depan dan kesejahteraan anak-anak kita. Karena itu, marilah turut berperan serta dalam membudayakan literasi dalam kehidupan sehari-hari kita.

Penulis: Putu Felisia (Novelis dan blogger).



Narasumber: Wien Muldian (Gerakan Literasi Nasional).

#SahabatKeluarga
#LiterasiKeluarga


Daftar Pustaka:
http://gln.kemdikbud.go.id/glnsite/ diakses tanggal 1 Juli 2019.
https://kbbi.web.id/kompetensi/ diakses tanggal 1 Juli 2019.








6 komentar:

  1. Right! Mari kita hidupkan gerakan literasi dr keluarga terkecil.lalunmenularkannya ke orang-orang sekitar.
    Moga lulus mbak, biar ke jakarta lagi. Saya belum nulis nih..mog kita bisa reuni lg.

    BalasHapus
  2. Wah perlu dishare ke para yutuber itu kayaknya nih. Penting banget

    BalasHapus
  3. Setuju banget nih Mbak, para influencer dan youtuber sebaiknya mengampanyekan gemar baca kan follower mereka anak-anak dan anak muda jadi bisa memotivasi para follower ya

    BalasHapus
  4. Semangat...dimulai dari keluarga kita, yes.

    BalasHapus
  5. Dari keluarga semuanya berawal termasuk kebiasaan baik.

    BalasHapus