Selasa, 28 Mei 2019

Berhenti Menjadi Agen Penyebaran Hoaks!


Jelang pengumuman rekapitulasi penghitungan suara KPU, di grup Whatsapp rekan-rekan seiman, berembus sebuah kabar: dihimbau untuk menjauhi pusat-pusat perbelanjaan atau keramaian karena ancaman teroris. Konon, himbauan ini dikeluarkan oleh POLRI, BIN, dan lain sebagainya. Herannya, meski dari lembaga resmi negara, pengetikan himbauan bisa-bisanya typo sekaligus mengabaikan kaidah EBI. Meski demikian, berita ini cukup dipercaya hingga admin grup pun sepakat kami harus menjauhi tempat ramai.

Di grup yang lain, di waktu kejadian 22 Mei, terunggah banyak foto jenazah dan video-video sadis. Tak lupa, foto dan video itu diberi narasi membangkitkan emosi. Beberapa anggota grup akhirnya keluar karena debat tak bersolusi di grup. Herannya, yang paling nyolot itu ternyata seorang yang sudah sepuh dan memiliki posisi cukup tinggi.

Ini anehnya. Dalam satu grup, orang bisa berantem dan berdebat hanya karena satu kabar. Dari kabar membangkitkan emosi dan perdebatan ini, orang-orang bisa meninggalkan grup dan buntut-buntutnya jadi saling memusuhi.
Ini baru di grup Whatsapp, belum di kehidupan bermasyarakat pada umumnya.

Rasa persaudaraan pecah karena satu kabar, sungguh menyedihkan!

Sebenarnya, himbauan dan berita di atas tersebut sudah dipastikan adalah hoaks. Klarifikasinya bisa dilihat di bawah ini:

Di luar 2 kasus di atas, ada cukup banyak ujaran kebencian bahkan dari teman-teman penulis yang cukup saya kenal. Berhubung penulis yang menulis, tentu saja mereka punya teknik mengemas opini mereka agar dapat dipercaya khalayak ramai. Seorang penulis, dengan ilmu yang mereka miliki, tentu dapat menyusun kata-kata sedemikian rupa untuk meyakinkan orang. Pun seorang penulis novel akan dikatakan berhasil kalau bisa membawa pembaca larut dalam cerita mereka. Jadi, penulis ini paling bahaya kalau menyebarkan hoaks karena lebih berpotensi meyakinkan orang.

Satu contoh, seorang penulis novel terkenal mengemas opini tentang wajah kepolisian dengan cantik. Di tengah viralnya pemberitaan polisi menggebuki bocah (yang belakangan terbukti sebagai hoaks) beliau membuat sebuah tulisan menyentuh tentang bagaimana beliau merindukan sosok polisi yang ramah. Dengan membaca opininya ini mau nggak mau, saya jadi berpikir mungkin yang dia bilang ada benarnya.  Mungkin, polisi memang harus ramah setiap saat, tak peduli yang dia hadapi adalah penjahat brutal yang tak ambil pusing menghilangkan nyawa orang lain. Pokoknya, polisi harus bak malaikat: ramah, mengalah, dan pantang melawan.

Dan saking cantik pengemasannya, saya pun jadi setuju dengan pendapat ini.

Tidak mau kalah dengan penulis di atas, penulis-penulis lain pun berlomba-lomba marah-marah di media sosial mereka. Mengunjungi facebook tanggal 22 Mei kemarin itu kayak lihat pertempuran Bharatayudha pecah. Isinya eyel-eyelan dan segala teori konspirasi yang nggak kalah dari novelnya Dan Brown. Saya jadi bingung, apakah mereka ini benaran berbakat jadi detektif, atau daya imajinasinya terlalu luar biasa.

Tak heran, akibat penyebaran hoaks dan provokasi massal yang dilakukan banyak orang (termasuk yang sebenarnya tidak terlibat langsung dengan para elit politik), Kominfo akhirnya membatasi layanan media sosial. Sik lah, daripada malah memicu kerusuhan, mending sumbernya dihentikan. Rasain, deh, nggak bisa marah-marah dan sebar teori-teori cocoklogi.

Malangnya, akibat pembatasan layanan ini, perdagangan online rugi hingga milyaran rupiah. Yang bikin hoaks ketawa puas, yang nyebarin marah-marah karena nggak bisa nyebarin lagi, tapi pedagang online yang paling sial. Orang lain marah-marah, mereka yang nggak bisa kerja.


Tentu saja, lagi-lagi yang disalahkan adalah pemerintah yang tidak becus menghadapi kemarahan rakyat (katanya) dan Kominfo yang sewenang-wenang, sengaja menyusah-nyusahkan rakyat, dan lain sebagainya.

Kalau ditelusuri dari asalnya, semua kejadian ini berakar dalam justru karena hoaks-hoaks yang begitu subur disebarkan oleh masyarakat, bahkan mungkin oleh kita sendiri. Tanpa sadar, masyarakat begitu mudah menekan tombol share untuk berita yang mereka suka, tak peduli bahwa berita itu cacat dari segi jurnalistik atau tidak memiliki sumber yang valid. Pokoknya, kalau sudah sesuai selera, maka langsung saja jari ini gatal untuk membagikan.

Padahal, alih-alih memberi manfaat, penyebaran hoaks justru lebih banyak mudaratnya. Contohlah di kasus pemblokiran layanan media sosial kemarin. Jadi ingat kalau dulu ada beberapa teman di kelas ribut, yang dihukum satu kelas. Yang rugi banyak, tapi yang ribut masih bisa haha-hihi, yang penting dihukumnya ramai-ramai. Sebal, kan?

Jadi, ada baiknya sebelum sebar-sebar sesuatu dipikirkan dalam-dalam dulu. Tarik napas dulu. Perhatikan emosi dulu. Kalau udah mulai tenang, langsung tanya diri sendiri: Ini bermanfaat atau justru bikin orang berantem?

sumber foto: Indonesia Baik


Nah, buat yang masih bingung gimana cara mengecek kebenaran berita, ini ada sedikit tips dari laman Kominfo:

1. Hati-hati dengan judul provokatif

Berita hoaks seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif, misalnya dengan langsung menudingkan jari ke pihak tertentu. Isinya pun bisa diambil dari berita media resmi, hanya saja diubah-ubah agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat hoaks.

Oleh karenanya, apabila menjumpai berita denga judul provokatif, sebaiknya Anda mencari referensi berupa berita serupa dari situs online resmi, kemudian bandingkan isinya, apakah sama atau berbeda. Dengan demikian, setidaknya Anda sebabagi pembaca bisa memperoleh kesimpulan yang lebih berimbang.

2. Cermati alamat situs

Untuk informasi yang diperoleh dari website atau mencantumkan link, cermatilah alamat URL situs dimaksud. Apabila berasal dari situs yang belum terverifikasi sebagai institusi pers resmi -misalnya menggunakan domain blog, maka informasinya bisa dibilang meragukan.

Menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43.000 situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita.

Dari jumlah tersebut, yang sudah terverifikasi sebagai situs berita resmi tak sampai 300. Artinya terdapat setidaknya puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan berita palsu di internet yang mesti diwaspadai.

3. Periksa fakta

Perhatikan dari mana berita berasal dan siapa sumbernya? Apakah dari institusi resmi seperti KPK atau Polri? Sebaiknya jangan cepat percaya apabila informasi berasal dari pegiat ormas, tokoh politik, atau pengamat.
Perhatikan keberimbangan sumber berita. Jika hanya ada satu sumber, pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh.

Hal lain yang perlu diamati adalah perbedaan antara berita yang dibuat berdasarkan fakta dan opini. Fakta adalah peristiwa yang terjadi dengan kesaksian dan bukti, sementara opini adalah pendapat dan kesan dari penulis berita sehingga memiliki kecenderungan untuk bersifat subyektif.

4. Cek keaslian foto

Di era teknologi digital saat ini , bukan hanya konten berupa teks yang bisa dimanipulasi, melainkan juga konten lain berupa foto atau video. Ada kalanya pembuat berita palsu juga mengedit foto untuk memprovokasi pembaca.

Cara untuk mengecek keaslian foto bisa dengan memanfaatkan mesin pencari Google, yakni dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images. Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet sehingga bisa dibandingkan.

5. Ikut serta grup diskusi anti-hoaks

Di Facebook terdapat sejumlah fanpage dan grup diskusi anti hoax, misalnya Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoaks (FAFHH), Fanpage & Group Indonesian Hoaks Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci.

Di grup-grup diskusi ini, netizen bisa ikut bertanya apakah suatu informasi merupakan hoaks atau bukan, sekaligus melihat klarifikasi yang sudah diberikan oleh orang lain. Semua anggota bisa ikut berkontribusi sehingga grup berfungsi layaknya crowdsourcing yang memanfaatkan tenaga banyak orang.


Tapi, gimana kalau masih emosi?
Gimana kalau masih percaya media dikendalikan ini dan itu?
Gimana kalau udah nggak percaya wartawan?

sumber gambar: pixabay.com

Well, kalau gini, jalannya cuma satu: daripada sebar berita yang belum jelas kebenarannya, lebih baik ambil air, cuci muka/wudhu, terus ibadah dan berdoa sama Tuhan, minta hikmat dan petunjuk-Nya.

Silakan nggak percaya sama manusia. Tapi TUHAN tetap yang paling bisa dipercaya. Tuhan itu adil! Lebih adil dari sistem dunia!

Berhenti jadi agen penyebaran hoaks!
Waspadalah dengan apa yang kautulis dan sebar!

Penulis:
Putu Felisia
Novelis dan blogger








1 komentar:

  1. Apa mungkin lebih baik untuk kata-kata tertentu yang sensitif disensor dan masuk blacklist Kominfo agar tidak semudah itu disebarkan?

    BalasHapus