Senin, 10 Desember 2018

Nikotopia: "Mbak Putu, Jangan Nyerah..."

Foto dari Nikotopia (facebook)


Citra-citra itu membangkitkan kembali kerinduan-kerinduan purba yang bersemayam dalam kedalaman jiwaku. Dan akhirnya, aku memahami… untuk apa aku lahir ke dunia ini.

Seribu Tahun Mencintaimu – Nikotopia


Kini, ada rasa sesak yang sama di kala aku menatap hujan. Riuh pemberitaan kematianmu mengguncang jiwaku. Aku ingat, saat itu aku sibuk menata hidup. Sementara aku tahu, dirimu selalu sibuk. Jadi, begitulah kita terpisah dalam dua ruang berbeda.

“Jangan ‘nyerah,” itu yang kerap kauucapkan. Meski aku telah berkali-kali hendak menyerah. Meski berkali-kali, mentorku sendiri bilang, janganlah bermimpi jadi penulis lagi. Meski aku berkali-kali telah mencoba keluar, kau selalu mengingatkanku.  

Mas Niko, aku tahu… esensi hatimu adalah tulisan-tulisanmu. Kau mencintai kesusastraan. Kau juga mengagumi sahabat-sahabat penulismu... tanpa iri hati.


Kau bilang, kau kagum padaku. Sebaliknya, aku kagum oleh semangat dan keberanianmu. Kita kerap berbincang dengan sinis, menertawakan kebijakan korporat yang memihak penulis tenar dan penulis selebritis berfollower banyak. Namun, alih-alih memilih berpaling, kau justru menegakkan bahumu. Kau bergabung dalam kepenulisan buku dan tayangan sinetron. Kau bekerja mati-matian menuangkan isi hati dan pikiranmu yang tulus.

Dan sejak itu, aku tidak berani mengejek sinetron lagi.


Kau mengetik chat dengan terburu-buru. Kau mengetik pesan kala waktu istirahat makan—yang tidak seberapa. Kau bilang, tengah malam kau masih rapat.

Ya, Allah… beginikah pekerjaan penulis-penulis skenario sinetron menyedihkan itu? pikirku.
Aku kerap kaget. Aku mengingatkanmu untuk menjaga kesehatanmu. Tapi seperti katamu, Mas Niko… industri melahapmu dan penulis-penulis lain. Aku bahkan mulai lupa menanyakan kabarmu. Hingga satu hari, aku melihat linimasamu begitu riuh.

انا لله وانا اليه راجعون. Inna lillahi wa inna ilayhi raji'un. (sumber tulisan: Wikipedia)

Ya, Allah… aku terenyak dan langsung syok. Buru-buru, aku melihat Whatsapp-ku. Mataku berkaca-kaca. Tiba-tiba, aku ingat waktu kau mengirimkan pesan suara kepadaku. Bahkan di pesan itu, suara empukmu begitu lantang mengatakan, “Jangan nyerah, Mbak Putu.”

Begitu banyak orang berduka atas kepergianmu, Mas Niko. Di satu sisi, aku marah. Marah pada ritme jam kerjamu, marah pada cintamu pada dunia kepenulisan. Aku juga sedih. Sedih dan menyesal mengapa aku begitu sibuk ingin ke luar mencari penghidupan yang lebih baik, hingga aku sempat melupakanmu.



Hari ini, kupandang langit dengan sisa-sisa hujan di sana. Aku berusaha meresapi semangatmu, melebur bersama cintamu terhadap dunia kepenulisan.



Damai bersamamu, Mas Niko. Kuharap, spirit menulismu tetap hidup dalam hati sahabat-sahabatmu. Termasuk aku J

Cerpen Penari Bumi - Nikotopia

Sayonara, Mas Niko :')
Foto oleh Naminist Poppy




1 komentar: