Jumat, 09 Maret 2018

DILAN 1990: Karena Wanita Ingin Dimengerti, eaaa xD


“Jangan rindu. Rindu itu berat. Biar aku saja.”

Di telepon umum, seorang Dilan merayu sambil memamerkan senyuman maut. Milea terkapar, terpesona oleh bujuk rayu si tampan. Penonton bioskop termehek-mehek sambil memikirkan akan menyisihkan uang saku untuk ke bioskop lagi. Produser happy, karena ini potensi sekuel akan ramai lagi. Sedang penulisnya, entah apa yang sedang dilakukannya … saya ramal lagi ngayal buat bikin cerita selanjutnya, hihihi #sotoy

 Dilan.
Waktu bilang nonton ini, si mami langsung ngeh film apa yang dimaksud tanpa menyebutkan sinopsis. Quotes Dilan pun dihafal mami. Soalnya, si mami rajin nongkrongin acara gosip. Jadi waktu Dilan digenjot promonya, si mami setia nonton interviu bareng para pemainnya. Dan mami bilang, “Wah, ini pengarangnya mesti mempatenkan quotes Dilan, nih. Kan banyak yang pakai.”
Wkwkwk.

Oh, Dilan. Kau sudah mempesona hampir seluruh perempuan Indonesia. Banyak meme berseliweran meledekmu. Tentu saya juga jadi penasaran, seberapa hebatkah dirimu hingga bisa menjadi penakluk hati begini. Eaaa… *ketularan puitis*

Singkat cerita, setelah sekian lama maju mundur nggak cantik -_- nonton Dilan, akhirnya kemarin saya berhasil nonton walau sendiri dan sepi (eaaa lagi). Eh, nggak sepi, dink. Bioskopnya masih ramai. Itu orang di sebelah saya malah aktif ngasih tahu adegan yang bakal keluar berikutnya (ini orang nonton keberapa kali, sih? Ampe hafal gitu -_-). Bukan hanya abegeh unyu-unyu emesh yang datang, ibu-ibu pun tak ketinggalan nonton. Singkat kata singkat cerita, saya pun ikut deg-degan. Menanti Dilan muncul untuk merayu saya, eh … Milea xD

Menanti-nanti film dimulai, penonton disuguhkan iklan-iklan yang seabrek-abrek. Di sini, rasa kantuk saya mulai timbul. Saya juga noleh-noleh jam, secara Si Dilan harusnya udah nongol dari 15 menit lalu. Lha, kok iki isinya iklan kabeh, yo? Aduh, Dek … lama amat kau nongol, macam nungguin artis mau konser aja ini, gerutu saya dalam hati.

Waktu muka Iqbal berseragam Dilan 1990 muncul, saya mulai lega. Ah, akhirnyaaa… mulai juga ini film. Saya pun memusatkan perhatian ke film. Intro dimainkan. Adegan pertama muncul. Milea bercerita tentang sosok aneh yang senang bikin ramalan.

Cerita pun bergulir dari sana.

Jujur aja, saya suka sinematografi film ini. Sangat pas untuk tone manis yang ditawarkan film Dilan 1990. Adegan demi adegan kelihatan cantik. Bahkan bunga kamboja pink yang gugur bisa bicara mengenai feeling adegan patah hati Milea.

Untuk castingnya, saya merasa sudah pas. Sosok Dilan yang memiliki 2 sisi karakter bisa dimainkan dengan baik oleh Iqbal. Sementara Vanessa sendiri cocok memainkan Milea dengan segala kepolosannya.

Kehadiran Ridwan Kamil di salah satu adegan menambah keistimewaan film ini. Selain itu, usaha menghadirkan Bandung tahun 1990 ke layar patut diacungi jempol. Karena ini pasti nggak mudah.

Sayangnya, ada beberapa hal yang agak mengganggu buat saya. Riasan para pemeran wanita masih kurang natural sebagai anak SMA. Beberapa kali saya melihat Milea dengan eye shadow cukup tebal. Padahal, saat itu adegannya proses belajar mengajar di kelas.

Berhubung saya nggak baca bukunya, saya tidak bisa banyak berkomentar soal plot dan karakterisasi. Di film sendiri, banyak tokoh yang terkesan asal tempel saja. Contohlah Benny yang tanpa babibu langsung ditempatkan sebagai “pacar di Jakarta” yang diputusin gitu aja, guru les privat (yang bahkan saya lupa namanya) langsung dijogrokin cuma buat naksir Milea, dan lain-lain. Mungkin di buku, plotting dan karakterisasinya lebih kokoh, saya nggak tahu. Yang pasti buat saya, itu ganggu.

Pergerakan pace to pace juga sangat slow. Memang cocok buat sebuah film romantis. Akan tetapi tidak cocok ditonton buat penonton yang menganut prinsip life is never flat dan penyuka plot twist. Semua yang terjadi di film ini sangat mulus. Tidak ada masalah berarti. Tidak ada konflik berarti. Dari awal ke akhir, dunia hanya milik Milea dan Dilan. Penonton bioskop hanya ngontrak (eaaa lagi xD).

Overall, film Dilan 1990 sangat patut diapresiasi sebagai karya anak bangsa. Antusiasme pada film ini sungguh sangat mengejutkan. Semoga menjadi awal yang baik bagi film Indonesia dan semakin meningkatkan mutu film. Saya sendiri kagum pada Pidi Baiq dengan keterampilannya mewujudkan fantasi sebagian besar perempuan Indonesia pada sosok Dilan. Nggak gampang pasti. Hehehe.

Akhir kata, sukses selalu buat perfilman Indonesia. Buat yang belum nonton Dilan, nonton gih… kapan lagi bisa dirayu begini, wkwkwk…
Sumber gambar: Wikipedia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar