Rabu, 10 Agustus 2016

Ulang Tahun di Neverland (Cerpen)






“Aku tidak pernah lupa.”
Entah mengapa kalimat ini selalu terngiang di kepalaku. Bersama siluet seorang anak laki-laki berambut ikal keemasan. Begitu buram, namun terasa nyata. Apakah itu mimpi atau bukan? Aku tidak tahu. Dan aku baru mengetahuinya sehari sebelum aku merayakan ulang tahun ke-17.
Jujur saja, aku sama sekali tidak menyukai hari ulang tahun. Disaat semua teman-teman sekolahku merayakan ulang tahun di balik kue tart bertingkat, pesta luar biasa meriah, atau seorang cowok yang menemani mereka, aku hanya merayakan hari ulang tahunku di dalam kamar. Ibu akan lembur mengerjakan kebaya, sementara di sore hari, ayah akan datang, mengecup keningku dan memberikan sepotong kue tart kecil yang dibeli di kios dekat tempat dagang ayah di pasar.

Sama sekali tidak mengesankan bagiku. Meski begitu, yang aku herankan, mengapa tiap malam sebelum ulang tahunku, ibu selalu berkisah kepadaku. Dongeng tentang seorang anak laki-laki bernama Peter Pan.

Seharusnya anak-anak perempuan mendengar dongeng Cinderella, bukan? Namun ibu dengan tenangnya, setelah dia menyelesaikan jahitan pesanan, dia akan datang ke kamar dan membelai kepalaku sambil menceritakan petualangan si bocah yang tak pernah bertambah tua tersebut.

Entah apakah malam ini ibu akan kembali mengisahkan cerita itu lagi. Aku telah terlalu bosan. Meski mungkin pada masa kecilku aku masih terkesima mendengarnya. Mendengar sebuah negeri bernama Neverland dengan anak-anak hilang yang tidak pernah tumbuh dewasa (atau tepatnya menua).

Aku merasakan hawa dingin menelusup ke kaki, lalu menarik selimutku ke atas. Bulan purnama menggantung di langit yang cerah. Ibu tidak kunjung muncul. Aku sempat mendesah gusar saat melihat jam di dinding. Pukul sepuluh tiga puluh. Mungkin kali ini jahitannya menumpuk. Aku mencoba tetap berpikir positif ketika sesuatu datang menarik selimutku.

Apa-apaan ini? Aku mendumal setengah mengantuk, mencoba menarik selimutku kembali, namun ketika aku menarik selimutku lagi, aku merasakan sesuatu itu melakukan perlawanan. Singkatnya, kami seperti sedang melakukan lomba tarik tambang, euh… selimut. Dimana aku sama sekali tidak mau mengalah. Dengan mengumpulkan segenap tenagaku, aku mencengkeram selimut itu kuat-kuat lalu dalam sebuah tarikan panjang, aku mengerahkan kekuatanku melawannya.

Aku mendengar suara bruk! kecil. Lalu secara refleks, aku bangkit dan menuju arah suara. Sebuah bayangan hitam pekat menggosok-gosok kepala dengan penampakan kesal. Sebelum berdiri dan berkacak pinggang di depanku.

Hanya dalam beberapa detik, sebelum aku sempat terkejut, berteriak, atau berlari keluar, seorang anak laki-laki mendarat di dekat bayangan usil itu, menangkap bayangan itu, lalu memutar badan. Aku melihat kilau mata birunya menatapku ramah. Nyaris saja aku berteriak, namun tangan anak itu buru-buru membekap mulutku.

“Sst! Kamu bisa membangunkan semuanya,” wajahnya terlihat khawatir saat itu, “Wen—euh, ibumu baru saja tertidur di atas mesin jahit. Kasihan.”

“Kamu tahu ibuku?” aku berkata ketika dia membebaskan aku. Masih agak heran, namun anak laki-laki itu terlihat tidak terlalu mengintimidasi.

“Tentu saja aku tahu.”

“Siapa kamu? Kenapa malam-malam begini datang ke kamarku?” aku mencoba memberanikan diri dan menegaskan nada suaraku. Kupandangi anak itu dari atas ke bawah. Sulur-sulur halus bagai jarring laba-laba. Warna coklat merah dedaunan musim gugur membentuk pakaiannya yang terlihat ganjil, namun entah mengapa membentuk tubuhnya dengan baik, seolah menegaskan kalau anak yang memakainya adalah anak liar yang memiliki pesona yang tidak akan pernah dimiliki anak seusianya.

“Apa kamu lupa, Jane Elvira?” dia berkata sambil tertawa. Entah mengapa dalam tawanya ada sesuatu yang familier. Begitu akrab sehingga aku berpikir kalau aku pernah menyusupkan tanganku ke dalam ikal rambut emasnya. Itu adalah kenangan masa kecilku. Masa kecil saat impian terasa bagai kenyataan. Atau ternyata, memang mimpi itu adalah kenyataan.

“Aku tidak pernah lupa.”

“Peter Pan—“ aku menganga. Belum sempat menyelesaikan kalimatku saat tangan kecil anak itu menarik tanganku, dan begitu saja membawaku naik… menembus jendela. Tangannya masih kokoh seperti dulu, atau mungkin lebih kokoh, karena aku begitu saja melayang bagaikan kapas. Jauh meninggalkan kamarku.

***

Jam raksasa di tengah awan, langit bersih hanya bintang-bintang. Aku tidak percaya ini. Lautan berkilauan, kapal besar bercahaya. Ini pasti benar-benar mimpi. Meski begitu, aku mencoba mencubit tanganku yang kemudian agak terasa sakit.

Aku melihatnya, sekumpulan anak-anak kecil yang tak pernah menua, tidur-tiduran di sebuah padang rumput yang luas. Anak berambut ikal keemasan itu membimbingku mendekat ke sekumpulan anak-anak yang rupanya semua mengenalku.

“Jane!” semua berteriak dengan kompak, “Mengapa lama sekali, Peter? Kami semua merindukan dia.”

Dia memang Peter Pan. Anak laki-laki yang selalu kudengar dari dongeng ibu. Namun aku sungguh heran mengapa anak ini tiba-tiba mewujud nyata di depanku. Bersama Neverland—negeri dongeng dan anak-anak hilang The Lost Boys. Yang lebih aneh lagi, mengapa mereka semua mengenalku?

“Aku mau pulang,” aku mendesis marah. Pandangan mataku tertuju kepada Peter Pan yang hanya cengengesan membalas, “Apa kamu yakin?” dia menantang, “Biasanya kamu senang sekali disini, benar kan, guys? She was very interested in here, right?

“Iya, tentu saja,” seorang anak yang berusia paling muda menyambung perkataan Peter, “Kamu selalu senang saat kita berlayar mengarungi laut, atau terbang dengan bubuk Tink. Tinker Bell kalau kamu ingat. Peri sombong yang selalu mengambek kalau kamu datang.”

“Aku bukan tukang khayal!”

“Hei!” Peter berteriak agak tersinggung, “Jangan berkata yang tidak-tidak di malam ulang tahunmu! Ayo kita berlayar! Yihaaa!”

“Kelihatannya kita sudah lama tidak mengganggu Hook!” salah satu anak berkata, “Ayo kita buat dia kesal!”

“Kalian semua gila!” gertakku. Namun anak-anak itu semakin bersemangat menarik tanganku memasuki kapal besar itu. Ombak bergulung-gulung di lautan hitam di bawah kami. Anak yang kelihatan paling tua memegang kemudi. Dan Peter, dengan senyuman sumringahnya berdiri di sebelahku.

“Kamu siap?”

“Ini semua gila! Aku mau pulang!”

“Lama-lama kamu makin membosankan, deh. Aku kangen dengan anak perempuan yang selalu senang saat kemari.”

“Masalahnya aku sudah bukan anak-anak lagi, Peter.”

Sebuah senyuman getir kini hadir di wajah Peter. Kelihatannya dia agak tersinggung mendengar kalimatku. Aku tidak heran, karena entah mengapa penyesalan di hatiku muncul bagai sumbatan batu besar. Seharusnya aku tidak mengatakan hal itu kepadanya.

***

Aku terpaksa ikut melawan gerombolan bajak laut itu jika tidak ingin tertangkap. Anak-anak itu tidak main-main saat mengatakan akan mengganggu Kapten Hook. Mereka benar-benar berperang. Menembakkan meriam, mengayunkan pedang, menembakkan senapan, dan semua teriakan girang membahana di udara.

Peter melampiaskan kekesalannya dalam perkelahian melawan anak buah Kapten Hook. Semua lawan dia hajar tanpa ampun. Tanpa berusaha meredam pukulan, tendangan, atau tebasan pedang di tangan. Anak buah kapten bajak laut itu berjatuhan satu-persatu dan hanya meratapi kesialan mereka berurusan dengan Peter Pan malam ini. Sedangkan Sang Kapten lebih tampak enggan melayani Peter.

“Oh, ayolah Peter. Apakah kamu nggak bosan melakukan ini terus?” dia berkata sambil menangkis tebasan pedang Peter dengan mata kail di tangan kanannya, “Zaman telah berubah. Semua berubah. Kita telah terlupakan, apa kamu nggak sadar akan hal itu?”

“Nggak ada yang berubah,” Peter menyeringai, “Zaman boleh berubah, tapi kita masih ada, Hook.”

“Ada dan terlupakan. Lihatlah dia,” Hook menunjuk aku, “Anak perempuan itu, apakah dia mengingatmu? Tidak, Peter. Bagi dia, kita hanya bagian dari sebuah buku yang usang!”

Aku mengatupkan bibir. Kata-kata Kapten Hook itu seakan-akan menyilet hatiku.

***

Neverland, 7 tahun yang lalu.

Aku menikmati permainan ini. Neverland adalah dunia penuh tawa dan keceriaan masa kanak-kanak. Aku menyukai semuanya. Menyukai kehijauan hutan atau langitnya yang ajaib. Lebih dari semua itu, aku menyukai seorang anak bernama Peter Pan. Dia sahabat yang terlalu baik. Sahabat yang terlalu setia hingga aku malah menganggapnya sebagai khayalan.

“Apakah kamu benar-benar tidak akan melupakan aku?” dia berkata. Sinar matahari menyeruak ke atas rumput dan bunga-bunga tempat kami berbaring. Langit di atas masih berwarna merah muda. Persis gulali yang manis. Kata anak-anak disini, langit dan semua suasana di Neverland tergantung dari suasana hati Peter.

“Aku janji, Peter,” aku tersenyum. Agak terlena dengan suasana di tempat itu. kedua mata hijau Peter menatapku, namun entah mengapa, aku merasakan ada kesedihan disana.

“Aku sering mendengar itu, Jane Elvira.”

“Apa?”

“Sebuah janji. Tidak akan melupakan aku. Namun janji hanya sebuah janji. Sesuatu yang sulit dibuktikan, terlebih dengan berlalunya waktu.”

Peter membawaku bangkit, lalu mengajak aku ke sebuah pohon tua. Bisa kulihat getaran di tangan Peter saat mengetuk batang raksasa pohon itu, memunculkan sebuah lukisan yang terlihat hidup. Lukisan seorang anak gadis yang perlahan-lahan menua, menghilang, lalu muncul lagi dengan wujud yang berbeda. Begitu seterusnya. Aku tahu itu adalah orang yang sama, karena semua wujud disana memiliki tanda lahir berbentuk daun di atas telapak tangan mereka.

Anak perempuan yang selalu dinantikan Peter sepanjang hidupnya.

Wendy.

“Hanya aku, yang tidak pernah lupa. Aku tidak pernah lupa.”

***

“Aku minta maaf,” aku meraih wajah Peter, mengusap luka di pipinya yang kini perlahan sembuh oleh kekuatan sihir. Wajah Peter masih tampak sedih, walau tadi dia sempat tertawa melihat Kapten Hook dikejar-kejar buaya. Dia malah masih sempat berteriak agar sang buaya menelan bajak laut itu sekali lagi.

“Kehidupan dunia nggak seindah dunia dongeng,” aku berkata lemah. Masa remaja menggantikan masa kanak-kanak. Hubungan persahabatan yang rapuh, ketidak mampuan keluargaku secara materi, pelajaran-pelajaran yang kian berat, tuntutan UAN, terlalu banyak yang harus diingat. Terlalu banyak sehingga perlahan-lahan ingatan melupakan sesuatu yang amat penting. Seperti kebahagiaan.

“Aku benar-benar minta maaf.”

“Kamu nggak salah, Jane. Kehidupan dunia memang nggak seindah dunia dongeng.”

“Tapi itu bukan berarti aku berhak melupakanmu.”

Peter tertawa, “Ada satu hal yang lebih tak berhak kamu lakukan.”

“Apa itu?”

“Tidak berbahagia.”

Kali ini aku yang tertawa. Peter membaringkan tubuhnya di atas rumput. Matahari mulai bersinar putih lembut bagai mutiara. Sementara langit kembali terlihat bak gulali. Sama seperti tujuh tahun yang lalu.

“Kenapa banyak orang yang tidak bahagia setelah melewati masa kanak-kanak?”

“Entahlah, Peter,” aku ikut membaringkan diri di dekatnya, “Terkadang aku merasa, tuntutan dunia memang terlalu menyesakkan.”

“Namun dunia tidak pernah melarangmu berbahagia.”

“Kamu benar.”

“Apa kamu tidak ingin tinggal disini?” Peter kini menelengkan kepala melihatku. Aku hanya tersenyum membalasnya, “Aku memiliki kehidupan sendiri, Peter.”

“Itu sesuatu yang tidak aku miliki.” Ada nada sarkastis dalam suara Peter. Namun dia tertawa, “Karena itulah dia pergi. Dia bilang kalau diantara kesesakan dunia, dia masih bersyukur masih memiliki sesuatu tempatnya berpegang.”

Aku tersenyum.

“Ini adalah saat terakhir aku bisa bertemu denganmu, Jane. Saat usiamu sudah tujuh belas tahun, dan gerbang kedewasaan mulai terbuka. Aku akan menghilang.”

Kedua mata Peter terlihat jauh lebih sedih dari sebelumnya. Aku memeluk erat anak laki-laki itu sebelum berkata dengan segenap ketulusan yang kumiliki,

“Aku akan merindukanmu, Peter Pan.”
***
Aku menjejakkan kakiku tepat di waktu fajar. Peter Pan menghilang setelah menjelma menjadi pasir-pasir cahaya. Aku merasakan cairan hangat membasahi mataku. Dan menangis tanpa tahu sebabnya.

Ibu datang membawa selembar gaun hijau lumut terindah yang pernah kulihat. Aku baru sadar kalau gaun itu adalah gaun yang dia kerjakan kemarin hingga tertidur di mesin jahit. Ibu masih terlihat lelah saat membelai rambutku sebelum berkata, “Selamat ulang tahun, sayang. Mimpi indah malam kemarin?”

Aku melihat senyuman ganjil di bibir ibu, namun aku menggeleng. Kekecewaan terlihat di wajah ibu.

“Kehidupan memang sama sekali tidak indah, sayang. Namun ada saatnya kita berhadapan dengan jutaan masalah dan kemudian saat kita melihat setitik kebahagiaan, saat itu kita bersyukur bahwa kita hidup.”

“Apa maksud ibu?”

Ibu mengelus rambutku lagi. Dia mengecup keningku lalu berkata, “Menjadi dewasa adalah pilihan, sayang. Dan aku bersyukur kamu memiliki keberanian untuk itu. Menjadi dewasa.”

Perlahan-lahan, dengan langkah anggun, ibu melangkah menuju jendela, membuka tirainya dan membiarkan cahaya matahari menyinari sosoknya dari atas ke bawah. Aku melihat ada bagian-bagian putih di rambut panjang ibu, kerut-kerut halus di wajahnya, namun entah mengapa ibu justru terlihat cantik dan menawan.

“Berkali-kali berhadapan dengan pilihan itu, aku akan tetap memilih hal yang sama, Jane,” dia berkata lembut, “Bertambah usia, menjadi dewasa, menikah, memiliki keluarga, memiliki seorang anak, sepertimu.”

Aku menghela nafas, sepertinya mulai mengerti arah pembicaraan ibu.

“Apakah dia masih seperti yang dulu, Jane? Suatu saat aku berharap aku bisa melihatnya, namun sepertinya itu tidak mungkin di kehidupanku yang sekarang.”

“Melihat siapa, ibu? Peter?”

Ibu mengangguk. Sebelah tangan ibu menyibakkan rambut di dahinya. Dan saat itu aku melihat sebuah tanda lahir yang familier. Sebuah tanda cantik berbentuk daun musim gugur. Seperti tanda lahir anak di pohon tua itu. Anak yang berkali-kali dewasa dan menua. Anak yang dinantikan dan dirindukan Peter sepanjang keabadiannya.

Saat itulah aku baru mengingat nama lengkap ibu.

Wendy Nathalia.

“Aku tidak pernah lupa.”Peter berkata, “Aku tidak akan pernah melupakan Wendy-ku.”


Catatan: Peter Pan adalah sebuah karakter yang ditulis oleh J.M.Barrie, novelis asal Skotlandia, dan telah banyak dipopulerkan dalam berbagai karya sastra, teater, maupun diadaptasi ke dalam film.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar