Rabu, 29 Juni 2016

Journey of A Flower: Perjuangan Cinta Melawan Dunia

Never try, never see, never never know.
Never find never seek, never let you go,
Begitu menyakitkan, begitu sulit membalas, sungguh sangat menyakitkan.
Begitu banyak cinta. Begitu banyak kebencian, sungguh amat dalamnya.
Cinta siapa begitu sinting, merelakan diri tersia-siakan,
Setelah mempersatukan setiap perbantahan,
Kita saling memeluk, berciuman dengan gila, saling memerangkap...

Fire of Heart by F.I.R




Catatan: resensi ini dibuat dalam keadaan baper. Jadi mungkin agak emosional. Semoga nggak ganggu yang nggak suka spoiler hahaha.


Saya tertarik dengan serial ini karena direkomendasikan Ocuz Wina, teman saya.  Pernah kecewa dengan Chinese Paladin 1 yang tidak sesuai selera, saya mencari video klip lagunya. Dan akhirnya saya pun dapat banyak spoiler. Hahaha, ampun… saya nggak demen banget kena spoiler. Tapi ya sudahlah.

Journey of Flower ini nggak terlalu bergaung di Indonesia. Terbukti, di situs internet saja nyari sinopsis berbahasa Indonesia lumayan susah. Meski demikian, karena saya sudah lama kangen dengan serial wuxia yang seru, saya pun berburu disana-sini. Akhirnya setelah gagal beberapa kali, seorang teman di Surabaya berbaik hati membelikannya untuk saya. Horeeee! Saya pun kemudian memilih menyelesaikan Journey of Flower sebelum ikutan trend Descendants of The Sun.

Cerita Journey of A Flower dibuka oleh profil seorang Hua Qian Gu (diperankan Zanilla Zhao), yang kelahirannya saja sudah bikin bunga-bunga layu. Darahnya mengandung racun yang bisa membunuh bunga, membuat tanah kekeringan, dan auranya mengundang iblis-iblis jahat.
Karena itulah, dia dinamakan Hua Qian Gu (Seribu Tulang Bunga).

Untuk memperlengkap kesialan Hua Qian Gu, dia pun diramalkan akan membawa bencana bagi seorang Ketua Perguruan Abadi Chang Liu. Bai Zi Hua (diperankan Wallace Huo yang sumprit ganteng banget di sini), mulanya panik dan ingin membunuh Hua Qian Gu. Tapi melihat kegigihan dan kepolosan gadis itu, Zi Hua akhirnya memutuskan mengangkat Hua Qian Gu sebagai murid.

Tahun berganti tahun, kesulitan datang berganti-ganti. Perasaan datang perlahan-lahan, tapi baik Zi Hua dan Qian Gu memilih untuk memendam perasaan diluar perasaan normal antara guru-murid. Hingga akhirnya, di suatu pertempuran, Zi Hua terkena racun yang bisa membunuhnya pelan-pelan.  Dari sini, masalah pun muncul semakin banyak. Pengorbanan Qian Gu yang menentang aturan  dimanfaatkan beberapa pihak yang ingin menguasai dunia. Qian Gu pun akhirnya ditempatkan dalam posisi terdakwa. Disudutkan, dibenci, dikhianati, hingga akhirnya Qian Gu tak punya pilihan lain selain menjadi sosok yang paling ditakuti dunia.

Serial ini mungkin lemah di sisi kisah wuxia. Pertentangan antar perguruan terkesan hanya ditempel. Sementara perkelahiannya pun hanya mengandalkan kawat sling, kipas angin, dan teknik CGI. Tidak dipungkiri, serial-serial wuxia sekarang dipengaruhi trend hedonis, di mana semua karakternya terkesan sempurna. Kostum mewah yang susah kotor meski dalam peperangan. Rambut yang anti acak-acakan, dan lain sebagainya. Para pemain pun jarang beradegan action secara normal, misalnya saling memukul, berantem guling-gulingan, adu pedang. Saking ogah kotor dan terluka, bahkan jatuh pun harus elegan… apakah ini juga karena di China juga ada trend sensor blur-bluran itu? Entahlah. Pokoknya bagi saya, adegan-adegan laganya kurang alami.

Tapi bukankah kelebihan di bidang lain bisa membuat kita memaafkan semua kekurangan dari sebuah karya? Benar sekali. Mengingat serial ini dibuat berdasarkan novel karangan Fresh Guo Guo (kayaknya cewek, mengingat banyak sentuhan feminin, misal monster aja ada bunga di kepalanya).
Maka sudah dapat dipastikan kalau cerita ini bikin baper akut. Yang saya kagum dari Miss Guo Guo ini, kok bisa, ya… dia bikin kisah cinta tanpa pernyataan cinta? Kok bisa dia bikin feel romantis tanpa adegan mesra yang dieksplor habis-habisan? Nah, romantisnya serial ini didukung juga dengan teknik kamera, musik soundtrack, lagu-lagu melankolis yang menghanyutkan perasaan. Saya sendiri paling favorit dengan lagu “Bu Ke Shuo (Tak Bisa Terkatakan) yang dibawakan oleh dua artis utamanya. Wallace Huo dan Wallace Huo.


“Jatuh cinta padamu adalah jatuh pada kesalahan.
Jatuh cinta padamu membuatku kehilangan jiwaku.”

Castingnya sendiri saya acungi jempol. Akting Wallace Huo luar biasa menawan untuk ukuran Bai Zi Hua yang hanya tahu, “Benar itu benar. Salah itu salah.” Pandangan matanya bicara banyak saat dia mengatakan “Guru yang salah. Guru yang salah.” (dan saya pun pengin punya guru begetooo LOL). Dari sinilah akhirnya terlihat kalau Seorang Bai Zi Hua memang hanya tahu ‘benar’ dan ‘salah’, bukan ‘cinta’ atau ‘benci’.

Zanilla sendiri terlihat pas memerankan Hua Qian Gu beserta segala metamorfosisnya. Chemistry diantara Zi Hua dan Qian Gu berhasil membuat saya termehek-mehek. Walau sekali lagi, kalau mencari adegan mainstream seperti ucapan mesra atau pelukan-pelukan ala kekasih, akan susah nyarinya. Bahkan dialog sekadar, “Aku sayang guru,” atau “Aku sayang kamu, Xiao Gu,” pun nggak ada.



Selain dua pemeran utama, karakter favorit saya di sini adalah Sha Qian Mo yang diperankan oleh Ma Ke. Ketua Fraksi Tujuh Pembunuh ini sangat ‘cantik’ sekaligus ‘tampan’. Ma Ke membawakan karakter Sha Qian Mo dengan sangat anggun. Sementara dari karakternya sendiri sudah punya kekuatan untuk mengecoh penonton. Seperti di serial wuxia lain, ketua partai sesat selalu punya hati yang aslinya baik. Dan saya suka banget bromance antara Sha Qian Mo dengan Hua Qian Gu.



Untuk ending sendiri, yang saya buru kemana-mana gara-gara DVD rusak, grrr… saya suka banget. Meski ada bagian-bagian yang nggak perlu, apalagi adegan yang diselipkan untuk peluang sekuel, endingnya cukup memuaskan. Apalagi untuk penonton abad 21 yang ogah nonton sad ending. Saya sendiri suka bagian kutukan yang terlihat sangat ambigu bagi masing-masing penonton. Adegan terakhir merupakan fans service spesial. Berhubung sekali lagi, ending favorit kan kudu happy dan romantis.


At last, Journey of Flower adalah serial wuxia yang cenderung romantis dan lumayan mengobati kekangenan akan serial wuxia zaman dulu. Satu hal yang saya pelajari dari serial ini adalah bahwa tidak ada benar atau salah dalam cinta.

Quotes Favorit (hati-hati spoiler):

“Orang yang mencintaiku, mati karenaku. Orang yang kucintai ingin aku mati. Orang yang kupercaya, mengkhianatiku. Orang tempatku bergantung, menyiksaku sedemikian rupa. Aku tak pernah menginginkan apapun selain sebuah hidup sederhana. Tapi langit selalu memaksaku! Seperti kau yang selalu memaksaku! Apakah kau masih berpikir kalau sekarang aku bisa berbalik lagi?”
Hua Qian Gu



“Mengapa kau bisa begitu kejam? Kau memaksaku membunuhmu dengan tanganku sendiri, lalu membiarkanmu meninggalkanku sendirian?  Apa yang kau inginkan, kau tinggal mengatakan. Tak peduli benar atau salah, semua akan kuberikan. Akan kuberikan cinta. Akan kuberikan diriku seutuhnya. Apakah kehancuran akibat pusaka dewa berarti buat kita? Apakah mereka—orang-orang yang masih hidup ataupun sudah mati, punya alasan berarti untuk melakukan sesuatu pada kita? Aku akan membawamu pergi, kita bisa pergi kemanapun, kau bisa melakukan apapun yang kau suka.
Namun jangan tinggalkan aku…”
Bai Zi Hua.



“Gu Tou, jangan mati. Meski di seluruh dunia ini tidak ada seorang pun yang mencintaimu, kau tetap harus mencintai dirimu sendiri.”
Dong Fang Yu Qing


“Bai Zi Hua, di jalan ke neraka nanti, di tengah Sungai Perasaan Melupakan, di sebelah Tiga Batu Kehidupan, di ujung Jembatan Tiada Pertolongan, bolehkah aku bertemu denganmu?”
Zi Xun




Journey of Flower-finished 29 Juni 2016








2 komentar:

  1. baru mulai nonton drama ini,,, dan saya benar2 jatuh cinta dengan chemistry antara wallace huo and zanilia zhan

    BalasHapus
  2. Hi there friends, its impressive piece of writing concerning teachingand completely explained, keep it up all the time. paypal login

    BalasHapus