Jumat, 19 November 2021

Catatan Perjalanan: Melihat Langsung Kabut di Kintamani

 Kintamani adalah wujud nyata kebesaran Tuhan: panorama indah, gunung yang gagah, hingga bekas-bekas bencana alam yang mewujud dalam bebatuan hitam di sepanjang jalan.

 


Jika menyebut Kintamani, dalam memori saya akan muncul satu judul film lawas: Kabut di Kintamani. Saya sudah cukup lupa dengan detail film atau kisahnya. Yang saya ingat, Kintamani dijabarkan sebagai tempat mistis yang sering diselimuti kabut.

 

Kenyataannya, salah satu rekan relawan menjabarkan Kintamani sebagai wilayah yang cukup miskin. Kenyataan ini sungguh berbanding terbalik dengan panorama luar biasa yang ditawarkan oleh Gunung Batur dan Danau Batur yang terbentang begitu indahnya.

 

Meski saya orang Bali, saya belum pernah merasakan pengalaman langsung berada di tengah-tengah Kintamani. Saya hanya sempat melihat Kintamani di kejauhan, saat darmawisata SD dan saat ujian mata kuliah Tourism. Dua-duanya hanya singgah dan melihat-lihat saja.

 

Melihat Kintamani yang Sebenarnya

 


Beberapa waktu lalu, saat libur Galungan, akhirnya saya berkesempatan merasakan pengalaman di tengah-tengah Kintamani. Saat itu, saya dan keluarga berlibur di salah satu tempat kemping bernama Cabana Villa. Untuk menuju ke sana kami melewati jalanan yang berkelok-kelok dan berbatu-batu.

 

Seraya terguncang-guncang dalam kendaraan, kami bisa menikmati pemandangan-pemandangan di sisi jalan. Ada gunung, perkebunan, dan bekas-bekas lava yang membatu di atas tanah gersang.

 

Cabana Villa

 

Mama Mertua 😁


Cabana Villa yang kami tuju terletak di ujung sebuah jalan yang belum diaspal. Tanda penunjuk arahnya juga agak tersembunyi. Meski demikian, tempat peristirahatan ini cukup menyenangkan. Mereka menyediakan tenda kemping dan paviliun dengan satu kamar tidur, satu kamar mandi, dan teras depan.

 


 

Kolam renang di sini berair cukup hangat meski bagi saya masih kurang gereget mengingat airnya konon berasal dari sumber mata air panas alami, jadi saya sebenarnya menantikan rasa berendam dalam air belerang yang hangatnya merasuk ke badan, hahaha.

 

Saya juga berkesempatan mencicipi hidangan khas Kintamani di sini: mujair nyat-nyat. Konon, ikan di sini masih segar dan berasal dari Danau Batur. Karena itu, rasanya sangat istimewa. Sayur-sayuran di sini juga langsung diambil dari kebun dan hanya dibumbui minimalis hingga mempertahankan rasanya.

 


 

 

Malamnya, kami mengadakan acara barbeku dan api unggun. Acara ini cukup meriah dan menghidupkan suasana.

 

Kekurangan tempat ini mungkin hanya lalat yang berseliweran dan bau kol busuk yang menyengat. Maklum, Cabana Villa terletak di sebelah ladang kol. Mau tidak mau, sisa-sisa panen kol yang membusuk baunya tercium sampai ke sebelah.

 

El Lago: Modernitas di Tengah Alam

 


Hari ketiga, saya sempat mencicipi sarapan di sebuah bistro dengan latar belakang pemandangan alam. Selain pemandangan fantastis dan spot-spot foto instagramable, bistro ini juga memiliki pegawai-pegawai ramah dan cekatan yang bisa diminta bantuannya untuk memotret. Sip bangetlah, pokoknya.


 

Makanan di sini juga affordable. Saya memesan maki salmon dan kopi dengan harga yang terjangkau.

 




 

Mengintip Sisa Letusan Gunung Batur

 


Selain Gunung Agung, Gunung Batur juga pernah mengalami letusan luar biasa di masa lalu. Sisa-sisa letusannya ini kini dijadikan spot untuk berfoto ria. Bongkahan batu hitam yang tersusun alami menjadi daya tarik tersendiri yang memperindah obyek foto.


 

 

Kesan Terakhir

 


Kintamani, dari dulu hingga sekarang masihlah indah, memikat, dengan aura yang misterius. Beberapa tempat telah berubah menjadi modern dan berkelas. Namun, tempat lain masihlah sangat kusam dan terbelakang.

 

Semoga saja, Kintamani menjadi tempat yang lebih layak di masa depan dan tetap terjaga kelestariannya.

 

 

 

 

 

Penulis:

Putu Felisia

Novelis dan Blogger.

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Protected by Copyscape
Protected by Copyscape