Sabtu, 07 Maret 2020

WOW: Salahkan Filmnya atau Salahkan Ortunya?

Saya sering merasa heran dengan kelakuan orang tua zaman now.

Ketika saya menginformasikan kepada kawan-kawan sebuah grup tentang bahaya tulisan-tulisan porno di internet, ada seorang bapak yang langsung menertawakan saya.


“Dari zaman dulu pun, kita hidup di zaman penuh cerita stensilan, tapi, kita baik-baik aja, kan,” ujarnya, “Ngapain larang-larang. Kalau dilarang, nanti juga baca diam-diam.”

Dengan menahan geram, saya dengarkan saya omongannya. Rupanya, si bapak berpendapat kalau kita harusnya membiarkan saja anak membaca apa yang dia mau selama tetap diawasi. Ok, emangnya kita bisa mengawasi anak 24/7? Nggak kerja, toh, Pak?

Ada pula seorang kakek yang suka mengajak cucunya menonton film bernuansa disaster seperti 2012. Adegan-adegan ledakan dan kehancuran berulang-ulang diputar dan cucunya jadi senang sekali. Nggak heran, si cucu ini sering bikin mamanya stres. Beberapa kali, mama si cucu harus ganti rugi ke toko orang. Maklum, anaknya beberapa kali ngerusak barang. Mainan pun nggak bisa berumur panjang di tangan si cucu itu.

Biarkanlah anak-anak berkembang. Foto:Pixabay.com


Beberapa waktu lalu, ada seorang anak menumpang di mobil. Anak ini, sebut saja namanya Cullen, berusia 6-7 tahun. Ketika mobil terjebak macet, anak ini tiba-tiba berkata:

“Kalau Cullen gede, Cullen mau bikin bom! Cullen mau ngebom jalan supaya mobil semua hancur. Jadi, mobil Cullen bisa jalan, nggak kena macet!”

WOW.

Benar-benar pemikiran yang WOW.

Saya benar-benar tercengang mendengar ide spektakuler dari Cullen ini.

WOW.

Benar-benar WOW.

Nonton sekarang praktis, bisa kapan dan di mana pun. Yakin, bisa terus ngawasin?  Foto: Pixabay.com


Mungkin, bagi orang tua zaman now, Cullen ini cute banget. Wah, idenya cemerlang dan masuk akal. Apalagi, Cullen ini penggemar Avengers yang memang biasa bikin jalan dan bangunan hancur. Itu kan hanya sebatas khayalan. Nggak mungkin dilakuin, lah. Anak-anak kan emang imajinasinya tinggi, yesss? Biasa ajalah, emak-emaknya aja suka ngayalin mungut CEO kaya yang jadi penyelesai segala masalah, kan? #eh

Dengan CEO kaya, segala masalahmu terselesaikan *salah caption*    Foto: Pixabay.com


Beberapa waktu lalu, malah nemu info mencengangkan dari negeri tirai bambu sana. Buat yang doyan ghibah pasti tahu ni, hehehe. Alkisah, ada seorang artis, sebut saja namanya Sugeng, dibuatkan cerita uwiyuuu banget. Konon, di cerita itu Sugeng dijadikan seorang penjaja seks yang memakai rok, bergincu, dan seksnya pun main pedang-pedangan. Ini viral, lhoooo ... viral u,u

Lepas dari gimana perasaan Sugeng sebagai cowok normal digituin, atau gimana Sugeng menuai haters dan dicaci karena masalah ini, satu hal yang membuat saya WOW lagi adalah: yang bikin cerita gitu konon MASIH SEKOLAH.

Yeeesss.

Anak sekolah nulis cerita pedang-pedangan, cuy. Berharapnya, sih, ini cuma hoaks, ya. Cuma, lagi-lagi saya tercengang ketika di satu grup (yang rata-rata isinya udah tuwek bukan dewasa) yang ditekankan adalah kebebasan berekspresi dan khayalan doang. Mau tulis CEO lagi takut kena sambit gue.

Nonton 'pedang-pedangan'
(foto hanya ilustrasi)
Pixabay, Picsart, MDZS


Kadang saya ini bingung, sebetulnya ada apa di kepala para orang tua ini. Entah mereka terlalu percaya sama anak, terlalu sayang, atau terlalu terlalu yang lain. Intinya, para orang tua ini seolah tak pernah memikirkan akibat dari bacaan/tontonan yang dikonsumsi anak-anak mereka. Kadang, mereka tahu, dan paham, tapi, menganggap kalau anak mereka akan menipu mereka dengan menonton diam-diam. Jadi, daripada ditipu anak, mending kasih semua yang dimau anak (kasihan amat anak-anak zaman now, begitu nggak bisa dipercaya, ya?)

Ada juga ortu yang sangat percaya diri bahwa anak-anak sanggup membedakan mana khayalan, mana kenyataan. Lagipula, banyak anak-anak lain menonton dan membaca hal serupa. Jadi, mengapa harus membatasi anak sendiri?

 Semoga saja, kasus di Sawah Besar ini bisa menjadi teguran bagi para orang tua. Untuk yang belum membaca, berikut kronologis yang saya rangkum dari pikiranrakyat.com:

PIKIRAN RAKYAT - Mengaku terinspirasi dari sejumlah karakter fiksi horor, gadis remaja 15 tahun berinisial NF dengan tega membunuh anak berusia 5 tahun di Sawah Besar.

"Semua masih didalami, tapi pengakuan awal tersangka sering nonton film horor Chucky. Dia senang nonton film horor dan itu memang hobinya," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus saat pemimpin gelar perkara di Mapolrestro Jakarta Pusat, Sabtu 7 Maret 2020 dikutip Pikiran-Rakyat.com dari Antara.

Selain suka menonton film horor tersebut, polisi juga berhasil mengungkap bahwa NF adalah pelaku sebenarnya setelah mengetahui coretan tangan tersangka berupa karakter fiksi kartun yang kemudian menjadi petunjuk.


Tanggung jawab dan kepedulian memang merupakan dua hal yang harus dimiliki orang tua. Mungkin, orang tua memang memiliki cara berbeda-beda dalam mendidik dan membesarkan anak. Akan tetapi, perlu diingat kalau anak-anak ini merupakan individu-individu kecil yang memiliki pemikiran sendiri. Salah mengarahkan bisa fatal akibatnya.

Catatan:
Saya begitu gelisah dan maju mundur menuliskan hal ini karena takut dianggap lebay dan ditertawai lagi. Semoga tulisan ini bisa dijadikan sedikit bahan masukan. Kalau mau beberapa pertimbangan lagi di bidang psikologis, bapak-ibu bisa ke halaman di bawah ini:



Tulisan ini tidak berniat menggurui. Silakan, kalau merasa percaya diri dengan pembiaran. Tak perlu repot mendebat saya. Toh, anak, anak sampeyan.
 
 Kirang langkung ampurayang.


Penulis:
Putu Felisia
Novelis dan Blogger.

  





1 komentar:

  1. Nah sedih. Aku dulu emang tontonannya action sejak kecil tapi pendampingannya ketat dari ortu, bahkan waktu nonton Tom n Jerry yang banyak adegan berantem, mama bilang itu nggak sungguhan, orang bisa mati kalau kena pukul besi kaya si Tom. Peran ortu buat ngasih arahan ini sangat penting, bukannya diumbarin aja.

    BalasHapus