Jumat, 06 Desember 2019

Jika Ada Masalah Kejiwaan, Carilah Ahli Kejiwaan, Bukan Ahli Agama


Saya memang bukan psikolog atau psikiater. Saya juga bukan tokoh agama. Meski demikian, saya pernah menjalani konseling pada ketiganya. Saya sembuh dengan kombinasi terapi medis dan spiritual. Jadi saya percaya, dua-duanya sangat membantu saya. Namun, meski saya amat percaya, Tuhan adalah dokter dari segala dokter, saya tidak pernah berani menyarankan orang untuk mengabaikan konsultasi medis dan langsung berkonsultasi kepada tokoh agama.

Mengapa?


Gini, lho ... teman-teman. Penyakit kejiwaan itu eksis. Sama eksisnya dengan penyakit jantung, diabetes, atau flu, batuk, dan penyakit lain. Kalau memang kalian sedang mengalami gejala-gejala gangguan emosi atau kejiwaan, ada baiknya kalian mencari pertolongan kepada orang yang tepat.

Pada dasarnya, baik itu psikolog, psikiater, pendeta, gembala, ulama, bhiksu, rahib, pedanda, bahkan saya sendiri adalah manusia biasa. Kami-kami ini hanya berusaha, tapi tetap ada keterbatasan yang tidak bisa dijangkau manusia. Yang namanya manusia, selama masih hidup di dunia tentu masih bergumul dengan berbagai masalah. Kita tidak tahu tentang masalah orang lain, demikian juga orang lain belum tentu paham dengan masalah kita, kan?

Meski demikian, saya percaya, psikiater dan psikolog sudah memiliki ilmu dan pengalaman yang mencukupi untuk menangani masalah kejiwaan seseorang. Mereka tentunya juga memiliki kode etik yang memang mereka patuhi secara profesional. Ketika kita datang kepada mereka untuk meminta masukan, mereka akan hadir sebagai seorang profesional. Sebagai seorang profesional, mereka wajib memberikan penanganan yang tepat: obat, terapi, saran, dan lain-lainnya.



Di sisi lain, ulama, pendeta, bhiksu, dan para agamawan memang (seharusnya) memiliki ilmu spiritual, kadar rohani, bahkan kadar keimanan yang tinggi. Mereka hebat dalam melakukan hal-hal yang sifatnya spiritual: mendatangkan mujizat, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, dan lain-lain. Akan tetapi, spiritual dan kesehatan jiwa adalah hal berbeda. Meski mungkin, ada tokoh agama yang dibekali kemampuan dalam hal psikologi, pengetahuan seorang agamawan adalah sebatas pengetahuan ritual dan teori agamawi. Jika kebetulan apes mendapat konselor tokoh agama yang tidak memiliki pengetahuan dalam hal psikologi, paling-paling kita akan disarankan “banyak-banyak bersyukur” atau “kurang berdana, mungkin”, “ada bikin dosa, kali,” “perlu nambah ritual A kayaknya,” dan lain-lain. 



Yang lebih parah, kalau kita datang waktu mood sang tokoh agama sedang jelek. Alih-alih mendapat solusi, yang ada malah makin berabe. Contohnya saja, ketika dulu saya bertanya tentang doa meminta pertolongan, saya malah dijawab, “MINTA TOLONG PADA SIAPA? TUHAN?” (ini tulisannya asli gini, caps lock jebol, hahaha #ngamok).

Kebanyakan tokoh agama itu memang tidak bisa diajak berdiskusi, tidak boleh disanggah, dan kita harus menundukkan diri sebab mereka memiliki otoritas langsung dari Yang Mahakuasa. Mereka memegang sesuatu yang jelas: ayat-ayat agama dan iman mereka masing-masing. Kalau masalahmu bertentangan dengan apa yang mereka yakini, ya, siap-siap aja tidak menerima solusi memuaskan/berhasil menyelesaikan masalah.

Contohnya, nih ... dalam beberapa keyakinan, para tokoh agama bahkan tidak menikah. Mereka mengimani, hidup selibat adalah jalan yang benar dalam mencapai kebahagiaan hidup. Lalu, kita datang dalam keadaan memiliki masalah rumah tangga. Kita curhat betapa menyesakkannya hidup menikah kepada orang yang tidak punya pengalaman menikah.

Saking absurdnya saya sampai nggak tahu harus menuliskan apa sebagai lanjutannya, hahaha.

Jadi, kalau kebetulan kalian memang mengalami gangguan emosi dan masalah-masalah emosi yang sulit diuraikan, saran saya, segeralah mencari pertolongan ke terapis profesional. Jangan mengabaikan kesehatan jiwa, karena akibatnya bisa fatal. Jangan sampai kayak saya, bikin heboh satu rumah, hampir masuk RSJ, ah, sudahlah xD

Untuk yang masih bingung, malu, dan takut kena stigma negatif, saya doakan segera menemukan jalan keluar. Semoga Tuhan lawat dan tolong. Semoga Tuhan mengirim orang-orang untuk menolong. Semoga Tuhan memberikan biaya, kalau memang tidak ada biayanya.



Percayalah, dirimu itu berharga :)

Penulis:
Putu Felisia
Novelis dan Blogger.


   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar