Jumat, 04 Oktober 2019

Yuk, Baca Pacaran: Novel Teenlit di Cabaca



Pacaran? Juwi bilang, nggak pacaran pun kita masih tetap happy.
Pacaran? Kata Rizal, pacaran itu bisa juga dicoba dulu.
Pacaran? Menurut Halimah, semua jawaban itu terserah padaku.
*
Berdiri di Jembatan Kedung Larangan, aku menunggu dia. Kami sudah berjanji bertemu di sini. Suara truk, mobil, dan kendaraan lalu lalang di belakangku. Bising. Kuhela napas Panjang. Aku harus mantap. Inilah pilihanku: Pacaran, aku ….



Blurb di atas adalah blurb novel Pacaran, sebuah enovel premium yang terbit di platform Cabaca. Buat yang belum tahu, Cabaca ini adalah platform bergengsi yang mengkurasi tulisan para penulis untuk diedit dan dikemas sehingga layak terbit. Jadi nggak ada ceritanya ada novel yang dibikin ngawur bisa dipublikasikan di sini. Semua yang terbit sudah melalui proses seleksi ketat dan proses editing dari editor profesional. Nah, novel Pacaran karya Lisma Laurel ini adalah salah satunya.



Untuk yang penasaran, bisa baca novelnya  di sini: Novel Pacaran (Cabaca.id)

Hingga reviu ini ditulis, novel Pacaran telah 217.000 dibaca dan memiliki rating 4,5 bintang dari 113 suara.  Bisa dibilang, novel ini memiliki rating cukup tinggi dan banyak dibaca pembaca. So, bagaimanakah ceritanya?

Overall, cerita ini membahas kehidupan seorang Ralin dari remaja hingga menikah dan punya anak. Ralin ini disukai seorang lelaki bernama Badar. Sepanjang cerita, kita disuguhi proses pedekate Badar hingga bagaimana masa lalu Ralin mempengaruhi hubungan mereka.

Sebagai Juara 1 Lomba Menulis Indiva kategori Cerpen Lintang, buah karya Lisma Laurel ini tampak cukup menjanjikan. Terlebih lagi dengan kover kuning cerah dan gambar unyu-unyu, sangat khas teenlit yang lincah dan ceria. Memasuki halaman pertama cerita, penulis langsung menyajikan adegan di masa depan. Di mana Ralin tengah berinteraksi dengan orang-orang terdekatnya di masa itu. Membaca bagian pertama ini, saya langsung ingat novel 17 Years Love Song karangan Orizuka. Di mana kedua penulis sama-sama menggunakan alur flash back dari masa dewasa ke masa remaja untuk memancing keingin tahuan pembaca. Tentu, ini teknik breaking ice yang bagus. Sayangnya, dinamika perpindahan waktu tidaklah cukup terasa di novel Pacaran ini. Kalimat dan dialog tahun 2024 sama saja dengan kalimat dan dialog tahun 2010. Ralin remaja, Ralin dewasa, tampak sebagai sosok yang sama. Tidak ada perubahan mindset atau perubahan usia yang tersirat.

Sama seperti pada tokoh Ralin, perubahan waktu juga tidak terasa pada karakter-karakter di sekelilingnya. Selain itu, membaca novel ini dari awal hingga akhir membuat saya bertanya-tanya, di manakah spirit teenlit yang tersirat di kover buku? Kalau saja cerita ini settingnya di tahun 1991, mungkin dialog dan diksinya sudah tepat. Di tahun 2010, meski bersetting Bangil, beberapa dialog dan diksi sudah terlalu melankolis dan out of date, apalagi karakternya adalah remaja belasan tahun. Beberapa plot juga malah mengganggu, alih-alih menguatkan cerita. Misalnya saja, masalah penyakit jiwa yang terkesan terjadi secara instan dan sembuh terlalu mudah.

Kalau saja penulis lebih menyederhanakan cerita dan berfokus pada satu genre, saya rasa cerita ini akan jauh lebih memukau. Tata Bahasa novel ini apik, rapi, dan mengingatkan saya akan cerpen-cerpen Gadis sekitar 30 tahun lalu: bersih, manis, dan mendatangkan debar-debar tertentu.

Semangat terus, Lisma Laurel. Ditunggu karya-karya lainnya, lho ^^

Oh, ya, selain membaca Pacaran karya Lisma Laurel, kalian juga bisa membaca Beranda Kenangan karya saya. Di Beranda Kenangan, banyak masalah dan isu tentang perempuan, termasuk kekerasan dalam rumah tangga dan pemerkosaan.

Beranda Kenangan bisa dibaca di sini: Beranda Kenangan (Cabaca.id)

Kalau kalian punya reviu tentang novel di Cabaca, silakan, lho … diunggah di medsos masing-masing. Jangan lupa juga, kalau kalian merating dan memberi komentar langsung di novel, kalian bisa mendapatkan kerang secara GRATIS. Makin banyak merating dan berkomentar, makin banyak kerang, makin banyak bisa baca novel. Asyik, kan :D



Dukung terus penulis Indonesia dengan menghargai karya-karya mereka, ya!

Cabaca, baca aja dulu ^^

Penulis:
Putu Felisia
Novelis dan Blogger.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar