Kamis, 31 Oktober 2019

Ketika Seorang Ibu Tak Becus Berubah Menjadi Monster


Ketika berita tentang bocah tewas digelonggong ibunya beredar, banyak sekali terdengar kecaman kepada sang ibu. Bahkan, mama saya sendiri mengatai ibu itu sakit jiwa. Mengapa seorang ibu bisa berbuat sejauh itu, banyak orang yang mungkin tidak tahu.
Namun, sebagai salah satu dari ibu yang dianggap ‘tidak becus’ itu, saya mau mengakui sesuatu: kalau ada ibu yang kelihatan membenci anaknya sendiri, bisa jadi karena ibu itu sudah terlalu hancur dihakimi.


Saya bukan ibu yang sempurna.
Saya mengakui ini. From the beginning, I was clueless about having a child. Saya sangat bersyukur, waktu itu mertua saya bersedia membantu merawat si sulung. Orang-orang menganggap saya sangat beruntung. Bagaimana tidak, ketika ibu-ibu lain kerepotan merawat bayi, saya tinggal leha-leha sementara mertua saya yang sibuk mengurus. Sayangnya, tidak ada yang tahu, di balik leha-leha itu, saya sendiri memendam rasa frustasi yang dalam. Saya sakit hati ketika ditegur saat menyentuh kelambu. Kenapa baru menyentuh kelambu saja saya ditegur? Apakah karena saya tidak becus menggendong bayi? Apakah saya memang seburuk itu?

Lalu, ketika saya memaksakan diri menggendong bayi, si sulung pingsan sampai harus dibawa ke rumah sakit. Fixed, waktu itu semua kepercayaan diri saya runtuh. Apalagi, ketika kumpul-kumpul keluarga, semua sepakat kalau anak saya itu hanya ‘numpang lewat’ di ibunya. Saya menyesali diri, saya kecewa pada Tuhan. Kenapa Tuhan mempercayakan anak ini kepada ibu tidak becus seperti saya?

Saya merasa, merawat anak saya tak ubahnya seperti sedang menyungsung dewa (merawat tempat penyembahan dan menyembah seorang dewa). Membiarkan anak menangis adalah dosa. Marah pada anak adalah dosa. Membiarkan anak digigit nyamuk adalah dosa. Di sisi lain, anak saya tumbuh menjadi pemberontak. Dia sama sekali tidak mau mendengarkan saya. Ketika kakek neneknya mati-matian menyediakan lingkungan steril dan tidak mengizinkannya berkeringat sedikit pun, anak saya malah mengorek-ngorek tahinya dengan gembira. Beberapa kali, dia tertawa dengan belepotan kotorannya sendiri. Siapa yang salah? Tentu mamanya yang tidak becus ini. Bagaimana bisa si mama goblok ini lengah dan membiarkan anaknya bermain dengan tahinya? Bangsat sekali, bukan?

Mengingat masalah gemuk-tidak gemuk, saya juga sering dikomentari. Setiap kumpul keluarga, pasti ada saja komentar, “Aduh, kurus banget anaknya!” tak jarang diawali dengan kalimat, “Kamu makin gemuk aja!” Dalam pikiran saya, saya seakan sedang menerima pernyataan, “Kamu terlalu egois! Masa kamu bisa menggemuk padahal anakmu makin kurus?” Komentar-komentar ini sering kali membuat sakit hati. Lagi-lagi, saya membenci diri sendiri. Apa saya seegois itu? Kenapa orang selalu bilang saya gemukan? Kenapa saya nggak becus ngasih makan yang bisa bikin anak gemuk?

Masalah lain yang sering dibicarakan adalah prestasi anak. Saya pernah mengajak anak ke ahli tumbuh kembang. Si ahli mengatakan anak saya satu hiperaktif, satu telat bicara. Ketika orang tua lain memamerkan anaknya yang sudah bisa baca running text di TV saat TK B, saya masih kewalahan mengasuh dan mengajar dua anak ini sendiri. Saya sering dipanggil ke kantor, beberapa kali dikatakan bahwa anak saya kemungkinan tinggal kelas. Siapa yang salah? Siapa lagi kalau bukan ibu tidak becus ini. Kalau saja bisa mengajar, tentu anak tidak akan bermasalah dan dibully di sekolah, dikatain bodoh.

Foto: pixabay.com


Kemarahan yang dipendam bertahun-tahun bisa meledak.
Jika diingat-ingat, posisi saya waktu itu benar-benar terjepit. Di antara ancaman tidak naik kelas, telepon mertua untuk mengecek nilai ulangan anak, ajang pamer prestasi di acara keluarga, hingga prestasi papa dan pamannya, semua menekan saya. Alih-alih bisa jadi juara dan dipeluk menteri seperti pamannya, anak-anak malah bermasalah melulu.

Saya stress. Saya marah. Namun, lagi-lagi, saya tidak berdaya. Saya tidak mungkin melampiaskan kemarahan ini kepada suami, mertua, atau keluarga besar. Kalau saya nekat bertengkar, pastinya akan dikeroyok habis. Yang bisa jadi sasaran hanyalah anak-anak.

Dan saat itulah, saya berubah menjadi monster pemarah yang ringan tangan dan terus menuntut anak saya memberi nilai bagus. Saya merasa, hidup saya semakin kacau. Yang bisa saya lakukan hanya marah dan membenci semua hal dalam hidup saya, termasuk diri saya dan anak-anak saya.

Ketika sampai di titik akhir itu, saya merenung. Apakah sebenarnya yang sedang saya lakukan ini? Apakah yang saya lakukan memang untuk kebaikan anak-anak, karena saya mengasihi mereka, ataukah karena ketakutan saya tidak bisa memberi anak/cucu yang bisa dibanggakan?

Seorang ibu, sebenarnya hidup untuk apa?
Seorang ayah, sebenarnya hidup untuk apa?
Apakah ada yang memikirkan ini?

Foto: pixabay.com

Artikel berita tentang bocah yang tewas digelonggong bisa dibaca di sini. 

Saya sungguh bersimpati dengan bocah yang tewas digelonggong itu. Memang, tindakan itu kejam dan melanggar hukum. Namun, di satu sisi, saya ingin mengajak kita kembali merenung. Apakah sebenarnya yang sedang kita lakukan pada keluarga kita? Apakah yang sedang kita lakukan pada anak-anak? Apakah yang sedang kita lakukan pada ibu-ibu yang ada dalam lingkup pergaulan kita?

Karena bisa jadi, yang membentuk ibu monster itu adalah saya atau Anda yang membaca artikel ini.

Penulis:
Putu Felisia
Novelis dan Blogger








7 komentar:

  1. Iya juga ya, tekanan dari lingkungan sekitar dan keluarga besar memang terkadang bikin ibu baru kelelahan lahir batin, sedih rasanya kalau kita sedang down tapi tidak dapat dukungan dari orang tersayang, malah dianggap sepele masalahnya :(

    BalasHapus
  2. Wah kok sama mbak, aku juga lagi curcol di blog.

    Makasih udah mau cerita mbak, aku tau beratnya berada dalam tekanan. Kadang, nulis adalah pelarian demi kewarasan.

    BalasHapus
  3. Masya Allah.
    I feel you, mba.

    Terutama bagian ini:

    "... karena bisa jadi, yang membentuk ibu monster itu adalah saya atau Anda yang membaca artikel ini

    BalasHapus
  4. aduh ya sedih, kenapa jaman iki kok ya orang selalu menjudge serasa paling benar

    BalasHapus
  5. Kaaaa, aku nangis bacanya.

    Paham banget rasanya. Perih.

    BalasHapus
  6. Rasanya pengen nabokin org2 yg komen sembarangan menilai kita, ya?
    Kl aq cuwekin saja org2 itu. Rugi banged dgrin mereka, apalagi jika melampiaskan ke anak2. Yg penting tetap jaga dan perhatiin anak baik2. Bangun mental baja demi keutuhan keluarga kecil kita.

    BalasHapus