Minggu, 25 Agustus 2019

Cerpen: Bakso Cinta Sambal Sayang



“Cowok tuh harusnya main GTA![1] Bukannya main masak-masakan! Cih! Banci!” ledek mereka, “Cowok kok cemen!”


Membuka restoran adalah cita-cita Yuda sejak kecil. Dia suka main masak-masakan. Dia juga lebih suka belajar memotong bawang daripada menghafalkan perkalian. Sayang, baik orang tua, saudara-saudaranya, maupun guru-gurunya di sekolah tidak pernah ada yang mendukung Yuda. Bahkan teman-temannya sering meledek Yuda dengan sebutan setengah laki. Apalagi, waktu Yuda ketahuan main kafe-kafean di ponselnya.

[1] GTA = Grand Theft Auto, sebuah game pencurian yang sangat terkenal.



foto dari situs berbagi pixabay.com

"Pede amat kamu, ya!”

Gadis itu berdiri tegak. Matanya memelototi laki-laki di depan, “Kamu pikir kamu siapa, hah?”

“Mantan pacarmu?”

Ariani memindai Yuda dari atas ke bawah. Kulit yang semakin putih, tubuh yang semakin kekar … agaknya laki-laki ini terlalu sibuk mengurus dirinya di gim. Masa, sih … dia bisa menghabiskan waktu berlama-lama di dapur!

“Hadiahnya 250.000 US Dollar, lo,” Yuda mengembangkan senyum manisnya, “Kalau dirupiahkan, itu 3 milyar lebih. Dibagi dua masih banyak, tuh.”

Kakin kumpi! Ariani menyumpah-nyumpah di dalam hati, “Kalau hadiahnya gede gitu, kenapa nggak ikutan aja sendiri? Kan enak, hadiahnya nggak usah dibagi-bagi,” Ariani berkata sinis.

“Nggak bisa gitu. Ini perlombaannya buat pasangan yang punya hubungan khusus.”

“Hah? Emang ada perlombaan gitu?”

“Ada.”

“Terus, menurutmu kita punya hubungan khusus?”

Yuda tidak menjawab. Dia malah menggaruk-garuk kepala sambil cengengesan.
“Kamu nggak mikir aku pilihan terakhir karena kamu nggak mungkin pasangan sama kangguru, kan?”

Cengiran Yuda makin lebar. Kali ini, Ariani mengangkat sebelah kaki lalu membuka sepatu. Yuda jelek ini perlu banget dikasih pelajaran! Cowok berengsek!

Syut! Plok!

Sepatu itu melayang sebelum mendarat di hidung Yuda. Hitam arang pada sepatu itu menjejak di ujung hidung Yuda, membuat noda hitam menggelikan. Ariani langsung tertawa melihat hidung mancung itu kini terlihat mirip dengan hidung badut.

“Sadis kamu, Ri!” Yuda meringis menahan sakit.

“Kamu yang sadis, Da! Giliran nggak butuh, pergi. Giliran perlu, baru balik ke Indonesia!” Ariani berkata lantang, “Kamu pikir kami ini apa? Pernah nggak, kamu ‘mikir, gimana keadaan kami yang kamu tinggalin di sini? Bapak kamu, ibu kamu … pernah nggak, sekali aja kamu ingat kalau mereka butuh kamu? Pernah? Nggak, kan?”

Hati cowok itu membenarkan kata-kata Ariani. Bisa dibilang, Yuda memang tidak mau memikirkan keadaan keluarganya di Indonesia. Kuliah di luar negeri itu menyenangkan. Bahkan bisa dibilang, dia bangga terlihat lebih superior daripada orang-orang yang terjebak di Indonesia. Masyarakat yang terkungkung dalam tradisi-tradisi lama, tafsir-tafsir agamawi, dan pola pikir masyarakat yang menurut Yuda minim rasa kemanusiaan dan enggan maju menerima perubahan zaman.

Ya, menurutnya … Indonesia memang seperti itu.

Jadi, menjadi warga negara Indonesia bagi Yuda adalah keterpaksaan, bukan kebanggaan.

Ini nggak salah, kan?
*
Ketika Collin memanggilnya untuk tahap kedua audisi di Sydney, Yuda senang sekali. Dengan mengerahkan semua teknik memasaknya, dia tiga hidangan menggugah selera: sup rumput laut, chicken marengo, dan panna cotta. Yuda sudah mencicipi semua hidangannya. Semuanya sangat lezat dan sekelas restoran kelas atas.

Jadi, Yuda sangat percaya diri saat membawa hidangannya ke depan Collin. Dengan senyum terkembang, dia menjelaskan hidangan-hidangannya kepada juri yang terkenal galak tersebut.

Collin menyendok sup rumput lautnya. Collin mencicipi chicken marengo-nya. Dan akhirnya, ketika panna cotta selesai dicecap, barulah Collin memberikan komentarnya.

“Yuda Nugroho,” nama ini terdengar aneh di lidah Collin, “Saya mengagumi hidangan Anda. Semuanya dibuat dengan kematangan sempurna, dengan penataan yang cantik ….”

Hidung Yuda kembang-kempis mendengar kata-kata Collin. Yes! Sedikit lagi, dia bisa mengenakan apron Master Culinary itu! Yes! Seluruh Australia akan menonton pertarungannya melawan koki rumahan lain! Tak lama lagi, dia akan menjadi chef terkenal di Australia!

“Tapi ….”

Collin menarik napas. Dengan tatapan prihatin, dia menatap sisa hidangan di depannya. Bibir juri itu bergerak-gerak, sementara satu alisnya naik.

“Kalau boleh saya memberi saran,” kata-kata Collin beserta ekspresinya itu langsung membuat Yuda deg-degan. Para peserta sudah diberi tahu kalau posisi yang tersisa hanya satu posisi. Pesaing Yuda adalah seorang dosen dari Filipina.

 “Dibandingkan Mikkel, rasa makanan Anda lebih unggul. Akan tetapi, semua makanan yang Anda hidangkan ini sangat tidak masuk akal.”

Hah? Kok makanan bisa nggak masuk akal?

Collin menggerakkan jari. Raut kejam yang biasa terlihat di televisi itu kini ditujukan langsung kepada Yuda.

“Lihatlah! Sup rumput laut Korea, chicken marengo Prancis, panna cotta Italia, semua hidangan ini tidak menyatu dan tidak memiliki karakter!”

Yuda merasa kepalanya berdenyut-denyut. Soal karakter makanan sudah sering dibahas di banyak acara masak, akan tetapi … dia tidak merasa perlu merisaukannya. Masakannya sudah enak, kok.

“Sebenarnya Anda ini berasal dari mana?” tanya Collin.

“Saya berasal dari … dari ….” Yuda merasakan sesuatu seolah tersangkut di tenggorokannya, “Saya dari Indonesia.”

Collin menggeleng keras lalu menarik napas, “Itu! Itu!” dia meremas rambut keriting sebahunya. Dipandanginya Yuda dengan tatapan kasihan sekaligus jengkel.

“Kenapa Anda tidak menghidangkan satu pun masakan Indonesia? Seharusnya Anda menghidangkan masakan yang mampu menceritakan jati diri Anda! Apalagi, masakan Indonesia itu ENAK SEKALI!”

Yuda langsung melongo. Apalagi, waktu Colllin meremas bahunya, “Dengar, Anak Muda … Anda mungkin gagal audisi Master Culinary, akan tetapi … saya bisa memberi Anda kesempatan lain. My Chef’s Rules akan memulai musim baru. Saya harap, Anda bisa ikut sebagai salah satu peserta. Hanya satu syaratnya, saat itu Anda harus mampu membuat makanan yang berkarakter. Buat saya terpukau dengan makanan Indonesia. Ok?”

*

Yuda memikirkan usulan Collin berhari-hari. Wanda, Josh, dan teman-teman akademi kulinernya tidak ada yang menunjukkan ketertarikan mengikuti My Chef’s Rules. Semua keberatan dengan karantina. Jika mereka lolos eliminasi, tentu mereka akan dikarantina sampai babak final, dan ini memakan waktu hingga beberapa bulan. Ya, My Chef’s Rules memang memiliki jumlah episode yang panjang, dengan penggarapan ala-ala sinetron stripping gitu.

“Berat! Lagipula, aku sama sekali tidak menguasai masakan Indonesia,” kata Wanda, “Ngerilah kalau nanti malah ditanya-tanya tentang makanan Indonesia. Bikin sambal saja masih sering tidak enaknya.”

Teman-teman lain memiliki jawaban serupa. Dan mereka semua tidak salah. Menyuruh orang Australia memasak makanan Indonesia kan mirip sama ‘nyuruh orang Tegal bikin foie au gras. Nggak ada nyambung-nyambungnya.

Huh! Pusing banget!
Malam itu, Yuda menenggak aspirin. Pikiran Yuda akhirnya mengingat Indonesia dengan segala jenis kebudayaan yang harus dia hafalkan dari SD. Suku Asmat dan Dani dari Papua. Rumah Joglo dari Jawa, Mandau dari Kalimantan, dan lain-lain. Belum termasuk raos ngempelin, cecimpedan, aksara Bali yang harus dihafalkan karena Yuda sekolah di Bali.

Konon, dengan menghafalkan semua ini, budaya Indonesia akan lestari. Soal-soal ini pun kerap keluar saat ada ujian. Kalau sedang apes, ya … lupa jawabannya apa. Makanya, Ibu kerap memukul Yuda dengan sapu lidi saat tidak mampu menghafal.
“Salah! Baca lagi! Nanti nilaimu jelek, Le! Ulang lagi! Baca lagi sampai hafal!”

Sebuah perasaan menyesakkan akhirnya hadir dalam hati Yuda. Indonesia sebatas hafalan. Tanah kelahiran yang seharusnya menyimpan kenangan indah, malah menyisakan hal-hal menyakitkan. Kadang, Yuda sempat mempertanyakan, mengapa dia harus lahir di negara dan keluarga yang terbiasa memaksakan kehendak. Termasuk pada masa depan seseorang.

“Kamu itu laki-laki, lo … Le!” kata-kata Bapak masih terngiang di telinga Yuda, “Laki-laki itu harusnya kerja kantoran. Jangan jadi kayak Bapak! Udah tua gini masih aja dorong-dorong gerobak bakso!”

“Kamu itu harusnya fokus ngurusin nilai-nilai kamu!” Ibu ikut-ikutan mengomel, “Semester ini sudah ada 2 nilai 90! Nilai kamu nurun, Le! Gimana mau dapat beasiswa ke luar negeri, coba? Kerja di sini bakalan susah maju, Le. Lihat sepupu kamu, tuh! Kerja di Jepang gaji udah 40 juta! Yang di Swiss malah udah 70 juta!”

Hiks.

Tapi, membuka restoran adalah cita-cita Yuda sejak kecil. Dia suka main masak-masakan. Dia juga lebih suka belajar memotong bawang daripada menghafalkan perkalian.

Sayang, baik orang tua, saudara-saudaranya, maupun guru-gurunya di sekolah tidak pernah ada yang mendukung Yuda. Bahkan teman-temannya sering meledek Yuda dengan sebutan setengah laki. Apalagi, waktu Yuda ketahuan main kafe-kafean di ponselnya.

“Hahaha! Cowok tuh harusnya main GTA! Bukannya main masak-masakan! Cih! Banci!” ledek mereka, “Cowok kok cemen!”

Mungkin, hanya Komang Ariani yang serius menanggapi cita-cita Yuda. Sebagai anak pedagang nasi campur, dia sudah melihat usaha orang tuanya itu membuahkan hasil. Dari berjualan betutu di emperan toko, orang tua Ariani berhasil memiliki rumah dan toko sendiri saat Ariani sudah menginjak SMA. Yuda dan keluarga pun sebenarnya mengontrak di salah satu rumah Ariani.

“Jangan dengarin mereka. Memasak itu pekerjaan halal. Lebih baik jadi koki daripada jadi maling, lo,” kata Ariani. Yuda terenyak mendengar. Selama hidup, baru kali ini Yuda mendengar dukungan seperti itu.
“Hwaiting!” kata Ariani sambil menggerakkan tangan ala-ala artis Korea. Waktu itu, Ariani sedang senang-senangnya dengan SNSD. Rambutnya direbonding, baju-bajunya pun dari butik yang konon mengimpor langsung ke Korea. Ah, centil banget.

Lucu.

Penampilan Ariani itu anehnya menarik perhatian Yuda. Suatu hari, Yuda mencuri ciuman dari gadis itu. Mereka pun akhirnya pacaran di sekolah. Anak dagang bakso pacaran sama anak dagang nasi betutu. Kencannya kalau nggak makan bakso, ya … makan betutu. Hahaha.  

Sayangnya, masa itu hanyalah masa roman picisan. Jelang UN, Yuda merasa impiannya jauh lebih penting dari dorongan hormon cinta. Walau Ariani dan kedua orang tuanya menentang, Yuda tetap memutuskan mengambil beasiswa di Melbourne Culinary School. Pokoknya, dia tidak mau mengambil kuliah jurusan ekonomi. Titik!

Yuda menghela napas. Aroma bawang goreng bercampur kaldu spesial mengembalikan pikiran Yuda ke masa sekarang. Ibu tersenyum di depan Yuda. Semangkok bakso di tangan Ibu masih berasap, tanda baru diangkat dari panci.

“Kamu kok ndak bilang-bilang mau pulang, tho,” kata Ibu, “Untung tadi sempat sisain bakso sedikit.”

“Makasih, Bu.”

“Makan dulu, Le,” suara Ibu sudah tidak selantang dulu. Yuda melihat sorot lelah dalam mata Ibu. Ah, Bapak … Ibu … sampai kapan harus mempertahankan idealisme, sih? Berjualan bakso secara jujur tidak memiliki banyak untung. Yuda sempat mendengar beberapa teman Bapak menyuruh Bapak mencampurkan formalin dan boraks. Tapi, Bapak bersikeras mau berjualan bakso yang aman bagi pelanggan. Karena inilah, Bapak tidak terlalu disukai sesama pedagang bakso.

“Bapak ‘bentar lagi datang,” Ibu mengusap peluh di keningnya, “Kamu makan aja dulu. Nanti kalau Bapak datang, jangan bikin Bapak marah. Bapakmu itu sudah kena tekanan darah tinggi.”

Kening Yuda berkerut.

“Sejak kamu pergi, Bapak jadi lebih pendiam. Jarang ngomel-ngomel. Ealah, Ibu ndak nyangka … satu hari Bapak pingsan. Pas diukur, tekanan darahnya tinggi banget. Untung belum sampai stroke. Waktu itu, Ariani yang bantu Ibu urusin Bapak di rumah sakit.”

“Ariani?”

“Iya, semenjak kamu pergi, Ariani sering datang ke sini, bawain betutu,” Ibu tertawa lepas, “Anak itu anak yang baik. Untung ada dia, Le. Ndak gitu, Ibu dan Bapak bakal ngerasa kesepian banget.

Yuda terdiam, tidak mampu menanggapi cerita Ibu.

“Makan dulu, gih! Nanti baksonya dingin.”

Yuda akhirnya menyendok kuah bakso di depan. Anehnya, kehangatan kuah bakso itu meresap dalam ke jiwa Yuda. Kerinduan akan rumah kini beradu dengan kepahitan masa lalu yang sering menyiksa laki-laki itu.

Suara motor kini terdengar mendekat. Yuda baru memotong sebuah bakso ketika melihat sosok Bapak masuk ke ruang tamu. Di belakang Bapak, Ariani masuk seraya memegang panci bakso. Oh, rupanya tadi itu suara motor Ariani.

“Lo, kamu pulang tho, Le,” kata Bapak. Bibir di bawah kumis itu mengembangkan senyuman tipis. Hati Yuda kembali tersentuh. Dia ingat, hanya pernah melihat senyuman itu waktu dia berhasil menaiki sepeda, usia 5 tahun.

“Bapak ….” Yuda tidak tahu harus mengatakan apa.

“Ealah, kok kamu jadi kurus gitu? Makan yang banyak, tho … Le,” komentar Bapak kikuk. Yuda jadi salah tingkah karena kata-kata Bapak kontras sekali dengan keadaannya. Berat badan Yuda sudah naik beberapa kilo semenjak mulai kuliah. Makanya, dia jadi rajin pergi ke gim.

“Eh, Bapak mau mandi dulu, deh. Ngobrol dulu sama Ibu, ya,” merasa ucapannya aneh, Bapak langsung garuk-garuk kepala sambil kabur ke kamar. Selanjutnya ,suasana canggung langsung terasa. Ibu dan Ariani masih membereskan barang di gerobak. Terakhir, gadis itu menaruh kresek beraroma rempah-rempah ke atas meja.

Tanpa bicara, Yuda menyendok baksonya. Sesuap demi sesuap … semua rasa dalam bakso itu menyentuh hatinya tanpa bisa dideskripsikan. Kata-kata Ariani tiba-tiba terngiang di telinga Yuda. Dia … memang tidak pernah memikirkan apakah keluarganya memerlukannya atau tidak. Yang dia tahu, semua akan baik-baik saja walaupun dia tidak ada.

“Makan, yuk … Bu,” Ariani cengengesan. Dia bersikap seolah-olah di sana tidak ada Yuda. Dibukanya kertas nasi di depan, menampilkan dua paha seksi ayam betutu. Warna kuning mengilap itu langsung menggoda Yuda.

“Yuda, mau betutu juga?” tanya Ibu.

“Mauuu!”

Yuda mengulurkan tangan ke betutu, tapi Ariani sengaja menepis tangan Yuda—menghalangi laki-laki itu.

“Orang kayak kamu harusnya sudah nggak level makan bakso sama betutu, kan,” sindir Ariani, “Order MCD atau KFC aja, gih!

Yuda langsung mengerutkan alis, “Nggak level gimana?”

Ariani menjawab dengan mengedikkan bahu.

“Bakso dan betutu ini termasuk bikin kangen, lo,” kali ini, Yuda tidak berbohong, “Bumbu-bumbu dan sambal Indonesia susah banget didapatin di Australia.”

“Emangnya, kamu masih cinta sama Indonesia?”

Kalimat ini membuat Yuda tercenung. Saat itu, Bapak sudah selesai mandi. Ibu sudah siap dengan minyak GPU (Gosok Pijat Urut) di atas tikar. Tak lama, Bapak datang dengan mengenakan kaos singlet dan sarung. Bapak segera duduk di tikar, lalu menghidupkan televisi dengan remote.

“A~haa~ kena tipuuu … barang palsuuuu!” suara iklan itu segera terdengar dalam ruangan. Yuda bengong seketika. Orang uring-uringan di iklan itu benar-benar lucu. Apalagi kejadian pesan alat pijat tapi dapatnya alat pijat mainan. Bahkan Bapak pun cekikikan melihatnya.

“Ariani, temani Yuda dulu, ya … kayaknya encok Bapak kambuh, nih. Hehehe,” kata Ibu sambil memutar tutup botol GPU.

Melihat Ibu mengoleskan minyak lalu memijat Bapak, Yuda merasa sesuatu menohok hatinya. Untuk pertama kalinya, Yuda merasa bersalah. Bapak dan Ibu begitu bersusah-susah. Sementara Yuda … dia hanya mengikuti renjananya. Dia menikmati kehidupan kuliah yang bebas. Dia menikmati kekaguman gadis-gadis melihatnya beraksi sebagai barista. Baik di tempat kuliah maupun tempat kerja, dia hanya diam jika ada yang menanyakan asalnya.

“Meski mungkin buat kamu, jadi orang Indonesia itu keterpaksaan, buatku … Indonesia adalah Indonesia. Negeri ini tempatku lahir dan besar. Meski orang-orangnya mungkin mengecewakan, aku tidak ingin kehilangan pengharapan, Da. Pada akhirnya … kita ini tetaplah orang Indonesia, kan?”

Yuda terdiam. Ariani akhirnya menyuwir sedikit ayam lalu menyorongkannya ke mulut Yuda. Isyarat di matanya mempersilakan Yuda untuk makan.

‘Aem! Suwiran betutu langsung masuk ke mulut Yuda. Serbuan gurih, hangat, dengan tendangan pedas di akhir membuat setetes air mata turun di sudut mata Yuda. Mendengar kata pengharapan diucapkan, seketika Yuda merasa malu sekali. Ariani benar sekali. Pada akhirnya, mereka tetaplah orang Indonesia.

“Kalau bukan kita yang berbuat sesuatu untuk Indonesia, siapa lagi?” lanjut Ariani,  “Kita nggak mungkin ngarep Belanda dan Jepang datang ngurusin kita lagi, kan? Amit-amit banget kena keharusan kerja rodi! Aku sih, nggak mau!”

Yuda berkata sinis, “Dijajah bangsa lain dan bangsa sendiri apa bedanya?”

“Nah! Itu! itu!” Ariani menunjuk Yuda dengan antusias, “Kalau tahu sebagian orang masih bermental penjajah, kan lebih baik berjuang membebaskan yang lain dari penjajahan. Itu lebih baik daripada lari ke luar negeri, lalu malu mengaku jadi orang Indonesia!”

“Hahaha! Bicaramu udah kayak Guru PPKn aja, Ri!” Yuda tertawa getir. Kata-kata Ariani seketika mendatangkan rasa penasaran dalam hati Yuda, “Ngomong-ngomong, masih suka SNSD dan K-pop?”

“Ya, masihlah. Cuma nggak seheboh dulu,” Ariani langsung cengengesan sambil membuat tanda V dengan tangan, “Sebenarnya, kalau dengar musik K-pop, aku menghayalkan seandainya Indonesia punya semangat dan passion sebesar itu. Menurutku, musisi Korea itu tidak asal tampil. Mereka menyiapkan konsep sepenuh hati, memilih lagu dengan hati-hati, dan mereka punya idealisme yang tinggi. Semua lagu mereka punya misi, tidak hanya untuk menghibur orang.”

Ariani menarik napas. Baru kali ini, Yuda sekilas kekecewaan dalam senyuman Ariani, “Seandainya, ada banyak orang kreatif yang punya hati sama Indonesia. Musisi-musisi yang tampil bukan sekadar menghibur. Mereka yang nggak plagiat dan menghargai karya orang lain. Mereka yang nggak cuma goyang seksi dan bikin sensasi gosip. Aku pengin musik Indonesia bisa semaju K-pop. Eh … maaf, aku malah jadi ‘ngeluh.”

“Nggak apa-apa. Aku senang kok dengarnya. Aku baru tahu kenapa kamu suka dengan K-pop,” kata Yuda seraya tersenyum tulus.

“Hahaha! Semoga masih ada harapan, ya. Aku bersyukur … sekarang, sudah ada Mas Addie MS. Aku sering nonton video Mas Addie dan orkestranya mainin lagu daerah di Youtube. Keren banget! Sumpah! Semoga makin banyak seniman yang mencintai Indonesia! Jadi, mereka bisa menggunakan bakat mereka untuk memajukan Indonesia!”

Sikap ceria Ariani menyadarkan Yuda kalau gadis ini sudah tidak marah lagi. Ah, Ariani memang begini. Cepat marah, cepat pula hilang marahnya.

“Hebat, kamu, Ri! Nggak nyangka, kamu bisa nasionalis gini!”

Ariani menggosok hidung, tanda sedang malu, “Aku … aku cuma merasa mengeluh dan lari bukan jalan keluar … emangnya apa yang udah kita lakuin buat bangsa ini? Ngomel terus? Nyinyir terus? Nggak guna, Da! Selama kita semua jadi orang pemalas yang ogah mikir dan maunya jalan pintas aja, negara ini nggak akan pernah berubah.”

Mata Ariani menyipit, menyidik Yuda, “Kamu udah mikir, kan … apa yang kuomongin tadi siang? Kamu masih bakalan diam aja sekarang?” kerling Ariani kini menunjuk Bapak dan Ibu. Bapak masih merem melek dipijat, sementara Ibu mengerahkan segenap tenaga untuk memijat. Suara iklan kena tipu barang palsu itu kembali terdengar. Iklan ini akhirnya mendatangkan sebersit ide dalam kepala Yuda.

“Lihat, ya! Jangan pikir aku nggak bisa ngelakuin sesuatu!” Yuda kini meraih ponsel. Dengan cepat, tangannya membuka situs belanja tadi.


“Ngapain, sih?” Ariani langsung memelotot penasaran.

“Lagi daftar, nih,” Yuda tersenyum penuh arti. Tangannya kini bergerak menelusuri alat-alat kesehatan di situs itu. Dengan cepat, Yuda menambahkan sebuah alat pijat ke keranjang belanja lalu mengonfirmasi pembayaran.

“Tuh, aku udah buat sesuatu, tuh. Nanti kalau alatnya datang, tugas ‘mijat bisa jadi lebih ringan,” kata Yuda semringah.

Ariani langsung mencibir jengkel, “Cuma gitu aja?”

“Satu langkah kecil masih lebih bagus daripada nggak melangkah sama sekali,” kali ini Yuda yang mulai berfilsafat, “Kalau ada rezeki, aku bakal cariin kios buat Bapak, Ri. Dengan begitu, Bapak nggak perlu dorong-dorong gerobak bakso lagi. Sebenarnya, ini yang kucita-citakan waktu dulu berangkat dulu.”

“Nah, gitu, dong!”

“Hahaha! Kalau gitu, kamu bantuin aku, dong!”

“Bantuin apa lagi?”
“Bantuin aku memenangkan My Chef’s Rules, dong. Kalau kita menang, cita-citaku itu bisa lebih cepat terwujud. Lagian, kamu masih mau melakukan sesuatu buat Indonesia, kan?”

“Melakukan sesuatu buat Indonesia? Maksudmu?”

“Ya, Collin—juri My Chef’s Rules udah bilang pengin makan masakan Indonesia yang enak. Jadi … siap gunakan bakatmu buat Indonesia?”

Senyuman Ariani terkembang cerah sekali, “Tapi, aku nggak bisa bikin bakso Solo!”
“Kamu bikin sambalnya aja!”

“Bakso Solo Sambal Matah?”

“Bukan! Bakso Cinta Sambal Sayang!”

“Deal! Mari kita guncang dunia! Hahaha!”


Catatan:

Cerita ini terinspirasi dari ajang Master Chef dan My Kitchen Rules. Master Chef adalah reality show yang menghadapkan para koki rumahan hebat. Sedang peserta My Kitchen Rules adalah pasangan koki rumahan yang memiliki hubungan khusus, seperti pacar, teman, atau saudara. Baik Master Chef maupun My Kitchen Rules sering menantang peserta untuk membuat masakan yang menunjukkan daerah dan budaya tempat asal mereka.

Toxic masculinity menjadi tema utama cerita saya kali ini. Di lingkungan saya, memang masih banyak yang berpedoman kalau lelaki pantang ke dapur. Dulu, teman saya malah dimarahi kalau pergi ke dapur. Katanya, cowok nggak pantas pergi ke dapur.

Semoga saja cerita ini bisa menghibur ^^v

Putu Felisia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar