Minggu, 17 Maret 2019

Membebaskan Diri dari Self Judgement dan Self Guilty


Ketika saya mengalami depresi yang sangat parah, satu hal yang menyiksa saya adalah: penghakiman terhadap diri sendiri (self judging). Terbiasa disalahkan menumbuhkan self guilty yang sangat kuat. Saya kemudian berpikir kalau saya memang tidak layak. Akhirnya, saya berpikir kalau dunia akan lebih baik tanpa kehadiran saya. Alangkah baiknya jika saya bisa mati dan mengakhiri hidup saya yang tidak berguna.
Mengikat diri sendiri dengan self guilty dan self judgement.
Foto: Pixabay.com



Hingga kini, orang-orang masih suka menuduh dan menghakimi saya. Semua kegagalan saya menjadi fokus mereka untuk menyalahkan saya. Walau saya ingin berubah, mereka tetap menganggap saya manusia gagal dan menyusahkan. Rasa sakit akibat disalahkan ini rupanya membekas dalam pikiran saya. Kadangkala, saya masih merasa bersalah kalau kesaksian maupun konseling kepada pendeta saya. Saya menganggap, saya salah kalau menceritakan perbuatan orang-orang. Saya tidak mau menjadi pendendam yang menghakimi mereka.

Perasaan ini sangat mengganggu. Ketika perlakuan orang di sekitar sangat membuat tidak nyaman, saya malah menganggap konseling dan bercerita adalah sebuah perbuatan yang jahat. Saya merasa jadi orang jahat yang membicarakan keburukan orang di belakangnya.

Ini sangat menyakitkan.

Syukurnya, Tuhan itu baik. Ketika saya curhat pada sahabat saya, Dhiko Surya Perdana, kata-kata Dhiko kemudian menyadarkan saya:
“Hancurkan self guilt dengan keegoisan untuk kuat.”

Egois ini sebenarnya adalah hal yang saya hindari. Lagi-lagi, saya merasa jahat kalau egois. Saya merasa berdosa jika memperhatikan perasaan dan kenyamanan saya, termasuk kesehatan jiwa saya sendiri.

Di sinilah, saya kemudian sadar: self guilty dan self judgement ini sudah membelenggu saya selama bertahun-tahun.
Saya harus bebas! Saya harus lepas! Ini muncul dalam pikiran saya dan akhirnya memicu keinginan saya untuk berubah.
Saya harus mengubah pola pikir saya. Jika tidak, saya akan kembali pada kondisi saya yang sakit dulu.

Saat itu, Dhiko mengatakan kepada saya: self guilty hanya muncul di 2 jenis orang:
(1)  Yang super baik, humble, dan merasa beban dunia itu ada karena dia.
(2)  Yang kacau karena dari dulu lingkungan menempelkan label ‘salahmu’ secara berulang-ulang.

Terikat oleh pendapat orang.
Foto: Pixabay.com

Dhiko juga menjelaskan, 2 tipe orang ini sama-sama menghadapi tekanan yang sama, yakni dari bacot-bacot sok suci dan benar tanpa peduli perasaan orang.

Sayangnya, satu-satunya jalan agar bisa bebas dari self guilty dan self judgement ini memang IGNORANCE (pengabaian). Mau orang bilang apa, terserah. Mau dibilang penjahat, ya … sudah. Yang penting, kita memiliki keuntungan dan tidak merugikan orang lain.

JADI SEHAT itu juga penting.

Kalau ada orang mulai membebankan sesuatu yang menyusah-nyusahkan, ada waktunya kita berpikir, “Ini bukan urusan gue.”  Lalu, ketika ada orang-orang super baik yang menolong tanpa memaksakan kehendak, kita perlu mengingat budinya.

Memiliki prinsip dalam sikap dan perilaku itu perlu dalam menghadapi para ‘polisi moral’. Dengan demikian, kita tidak akan bingung dan goyah.

Ngomong-ngomong, saya menuliskan kembali chat saya dengan Dhiko di sini. siapa tahu, ada teman-teman yang menghadapi masalah yang sama dengan saya J
Dhiko ini seorang terapis psikologi. Kalau kalian punya masalah dan butuh konseling, bisa menggunakan jasa profesional Dhiko.

Kalian bisa menghubungi Dhiko langsung di sini:



Semoga saja artikel ini bermanfaat. Saya pun masih berusaha untuk berubah dan menjadi lebih baik.

Hidup ini hanya milik Tuhan. Bukan milik orang lain.
Foto: pixabay.com

Semoga kita semua diberi kesehatan dan kemudahan.
Tuhan memberkati.
Penulis:
Putu Felisia.
Novelis dan blogger.

1 komentar:

  1. Aku lumayan sering merasa self guilty gitu, Fel. Dan Dhiko bener soal ignorance itu. Kita toh nggak bisa ngikutin semua kemauan dan ujaran orang.

    BalasHapus