Jumat, 23 November 2018

Catatan Pengharapan dari Ibu Kota


Senja itu, sebuah pemandangan unik terlihat di depan Hotel Menara Peninsula. Perempuan-perempuan dan para lelaki berpakaian adat berjalan gembira. Canda tawa mengiringi mereka, meski beberapa perempuan terlihat kesulitan sebab mengenakan sepatu berhak tinggi.


Bus-bus menunggu mereka, bersiap membawa para nomine lomba Jurnalistik dan Blog Pendidikan Keluarga 2018 itu menuju Plaza Insan Berprestasi-Kemdikbud.

Bus yang ramai oleh celotehan dengan dialek-dialek khas daerah berbeda.

Adalah kebanggaan bagi saya, bisa duduk di dalam bus itu, bergabung bersama-sama teman-teman blogger dari seluruh Indonesia. Pengalaman ini menurut saya adalah pengalaman langka dan sangat berharga.

Teman sekamar, Mbak Atiek, wartawan Kedaulatan Rakyat.

Kak Ibee yang ramah dan suka bercerita.

Bersama perwakilan Bali: Tubuh, guru dari Mengwi dan Angga Wijaya, pujangga yang tidak banyak bicara.


Ketika mengikuti lomba kemarin, saya tidak memiliki banyak harapan. Bagi saya, tujuan pendidikan di Indonesia dan pelaksanaan di lapangan sungguh berbeda jauh. Selama ini, saya merasa sendirian. Bahkan, curhat dengan Kepala Sekolah dan guru pun tidak banyak membantu. Saya akhirnya merasa berputar-putar di tempat yang sama, selama bertahun-tahun. Dari anak saya TK sampai SMP.

Ahaha kok jadi curhat xD

Berkumpul dengan teman-teman dari pelosok Indonesia saat ini memberikan banyak pengetahuan baru bagi saya. Saya jadi tahu, bagaimana sekolah di Jakarta, Solo, Kalimantan, dan daerah-daerah lain. Dari semua cerita yang saya dengar, memang tidak semua memiliki sistem dan fasilitas sama. Beberapa daerah kesulitan dalam bidang teknologi informasi. Sementara di daerah lain seperti Surabaya, wifi tersedia di setiap warung kopi, hingga timbul istilah multiple mobile legend (mobile legend adalah nama game daring), plesetan dari multiple intelligent.

Dalam acara ini juga banyak diadakan sesi pendidikan. Peserta mendapat sharing dari para pakar. Salah satunya, Bapak Dr. Sukiman, M.Pd memaparkan tentang cara-cara melibatkan orang tua di sekolah. Sesi lain diisi oleh Kang Maman Suherman yang memaparkan tentang kecerdasan literasi (sayang banget saya mendadak sakit jadi nggak bisa ikut sampai akhir L ), dan Bapak Gogot dari Pustekkom Kemdikbud yang memaparkan tentang pendidikan anak di era maraknya informasi dan konten negatif internet.

Malam Apresiasi Pendidikan Keluarga yang diadakan oleh Kemdikbud ini akhirnya menjadi pembangkit harapan di hati saya. Dalam acara yang berlangsung selama 2 hari ini, saya bertemu dengan teman-teman hebat dari seluruh nusantara. Para jurnalis, para guru, blogger, semua berkumpul dengan aspirasi sama: menginginkan kemajuan bagi pendidikan di Indonesia.

Dan kali ini, saya bersyukur, ternyata banyak orang menginginkan kemajuan. Bukannya ingin stagnan di tempat untuk meneruskan sistem yang kata Kak Seto ‘dari zaman Mojopait’ itu.

Oh, ya… sebagai informasi, Direktorat Pendidikan Keluarga ini baru berumur tiga tahun. Ini menunjukkan kalau pemerintah saat ini sungguh peduli dengan pelibatan keluarga dalam pendidikan anak. Bahkan, dalam malam apresiasi juga diberikan penghargaan pada orang tua yang dianggap berkontribusi besar pada keberhasilan anak-anak mereka. Penghargaan orang tua hebat ini juga menunjukkan adanya apresiasi pemerintah pada orang tua dan mengakui orang tua sebagai bagian dari sistem pendidikan Indonesia.

Dalam acara ini, jarak yang selama ini terbentuk dari ketidakpahaman orang tua dan kesan ekslusif dan elit yang seakan menjadi identitas sekolah, lembaga pendidikan, terutama dari Kementrian Pendidikan, pupus dengan sendirinya. Sebagai orang tua, saya akhirnya menyadari kalau mindset pelibatan keluarga ini sungguh-sungguh layak untuk disebarluaskan.

Terima kasih, panitia yang tidak pernah kehabisan energi.

Pada akhirnya, acara Malam Apresiasi Pendidikan Keluarga ini menjadi satu pemacu bagi saya untuk menjadi orang tua yang lebih baik lagi, blogger yang lebih baik lagi, dan tentu saja, tetap berpengharapan pada pendidikan Indonesia. Makin banyak orang yang peduli, semoga ini semakin memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia. Dimulai dari keluarga, lalu ke sekolah.

Jika kualitas pendidikan dalam negeri sudah baik, tentu kualitas generasi penerus kita tidak akan kalah dari anak-anak lulusan luar negeri, bukan? :)

1 komentar:

  1. Iya terharu banget semangat kawan-kawan dan panitia untuk mendukung pendidikan yang lebih baik, lebih baik langkah-langkah kecil daripada diam saja

    BalasHapus