Senin, 02 Juli 2018

Tamiou: Komedi Serius tentang Politik dan Kemanusiaan


Negara Jepang sedang menghadapi krisis.
Saat inilah, muncul seorang perdana menteri yang ingin membenahi semuanya.
Akan tetapi, terjadi satu masalah ....
Di saat genting ini, terjadi pertukaran aneh antara jiwa sang perdana menteri dan putranya yang bodoh ....



Dorama Tamiou (sumber: Wikipedia)




  • Title: 民王

    • Title (romaji): Tamiou
    • Format: Renzoku
    • Genre: Comedy, drama, political
    • Episodes: 8
    • Viewership ratings: 7.14%
    • Broadcast network: TV Asahi
    • Broadcast period: 2015-Jul-24 to 2015-Sep-11
    • Air time: Friday 23:15
    • Theme song: Stress Free by miwa


    Isu-isu politik sebenarnya merupakan hal menarik untuk disimak. Setiap masa memiliki perkembangan-perkembangan sendiri dan ini sangat menarik untuk diceritakan. Sebutlah misalnya, pergerakan politik yang terjadi di Amerika Serikat saat Barrack Obama terpilih menjadi presiden. Adanya presiden kulit hitam pertama menjadi terobosan baru bagi rakyat Amerika. Cerita baru juga dimulai saat Donald Trump mencalonkan diri menjadi presiden. Banyak drama-drama terjadi, hingga akhirnya Om Donald resmi dilantik. Dan hingga kini pun, kebijakan-kebijakannya masih menjadi isu kontroversial.

    Jadi, sebenarnya … tema politik ini adalah tema panas yang sangat ‘seksi’. Selain menghibur, tema politik juga bisa menjadi kritik terhadap keadaan negara, di mana kondisi-kondisi pejabat dan masyarakat kecil bisa masuk semua.

    Akan tetapi, tidak banyak ada sineas yang berniat mengangkat politik sebagai tema utama sebuah cerita fiksi. Selain tema yang berat, tema politik juga riskan, bisa menimbulkan pro dan kontra. Karena itu, menulis cerita berbau politik sebenarnya sebuah tantangan bagi seniman. Bagaimana menghadirkan politik dalam kemasan yang bisa dicerna penikmat? Bagaimana menghadirkan kritik tanpa menimbulkan pro dan kontra? Nah, inilah tantangannya.

    Ikeido Jun—seorang penulis Jepang, berhasil menjawab semua tantangan di atas. Siapa sangka, tema politik yang berat ternyata bisa disampaikan dalam gaya komedi. Selain menghadirkan ketegangan, cerita Ikeido bahkan mampu memasukkan unsur-unsur komedi yang mengocok perut.

    Tahun 2015, karya Ikeido Jun ditayangkan di TV Asahi—salah satu stasiun televisi Jepang. Tamiou (民王) atau judul lainnya: The Prime Minister and His Foolish Son, memiliki tema yang cukup berat. Serial berdurasi 8 episode ini dengan berani mengangkat tema persaingan politik dan krisis negara.
    Dikisahkan, Muto Taizan (dibintangi oleh Endo Kenichi) dilantik menjadi Perdana Menteri. Tugas utamanya adalah mengatasi krisis yang sedang melanda Jepang.

    Tidak disangka, sesaat setelah dilantik, Taizan mengalami kejadian aneh. Jiwa Taizan mendadak pindah ke tubuh lain. Saat sadar, Taizan telah ada di tubuh Sho—putranya. Sementara Sho menempati tubuh Taizan. Pertukaran jiwa ini mau tidak mau menyebabkan Taizan harus berpura-pura menjadi Sho, dan sebaliknya … Sho harus berpura-pura menjadi ayahnya.

    Dari sinilah, kesulitan demi kesulitan mulai datang. Meski merupakan putra politikus terkenal, Sho tidak memiliki kepandaian dalam bidang akademis dan perpolitikan. Perpindahan jiwa ini juga menyebabkan perubahan karakter yang kemudian berpengaruh pada peristiwa-peristiwa selanjutnya.

    Sho yang tidak lancar membaca kanji berkali-kali keliru berpidato. Orang-orang langsung mengolok-ngoloknya sebagai Perdana Menteri Bodoh. Taizan sendiri harus berhadapan dengan berbagai masalah yang biasa dialami Sho. Dosen pengajar Sho ternyata adalah kritikus politik paling menyebalkan. Sho juga memiliki masalah kepercayaan diri yang membuatnya sulit mendapatkan pekerjaan.

    Di luar dugaan, kesulitan-kesulitan yang dilalui malah membuat ayah-anak ini mulai saling memahami. Taizan yang awalnya jengkel dengan Sho, kini mulai melihat sisi baik anaknya. Di balik ketidak sukaan Sho akan politik, ada idealisme tentang kesejahteraan rakyat. Hal ini diketahui ketika Sho mengatakan dengan tepat jumlah upah minimum pekerja. Kepolosan Sho juga rupanya mampu menyentuh hati pemimpin-pemimpin negara sahabat yang berkunjung ke Jepang. Banyak orang kemudian bersimpati pada ‘Sang Perdana Menteri’ karena tindakan-tindakan Sho yang di luar dugaan.

    Di lain pihak, Sho yang mulanya tidak suka pada sang ayah, mulai mengetahui masalah-masalah Taizan. Tekanan dari parlemen dan masyarakat ternyata sangat menyusahkan. Tidak heran, Taizan menjadi orang yang sangat keras dan pemarah. Musuh-musuh politiknya memiliki cara-cara licik menjatuhkan Taizan. Mau tidak mau, Sho harus menghadapi semua manuver politik ini.

    Masalah-masalah sosial menjadi bumbu dalam cerita ini. Namun, yang terpenting … mendekati bagian akhir, disajikan drama keluarga yang sangat mengharukan. Taizan yang mulanya merupakan ayah yang cenderung abai, akhirnya memutuskan akan berkorban demi Sho. Di sinilah masalah demi masalah mulai terurai. Hingga akhirnya, Taizan harus menghadapi musuh terbesarnya. Siapakah dia?
    Di awal, baik tema maupun alur cerita ini terkesan membosankan. Tema pertukaran tubuh bukanlah hal yang baru. Sementara permainan politik bukanlah hal yang cukup menarik untuk dijadikan hiburan.

    Akan tetapi, seperti yang sudah dikatakan di depan tadi, gaya komedi drama ini menjadi titik balik yang menjadikan drama ini menghibur dengan caranya sendiri. Kekuatan drama ini ada pada akting Endo Kenichi dan Masaki Suda. Masing-masing dari mereka mampu tampil serius dan konyol. Dalam usianya yang tidak muda lagi, Endo mampu tampil kekanak-kanakan—sesuai karakter Sho. Sementara Masaki mampu berteriak-teriak dan bergaya seperti orang tua tegas—sesuai karakter Taizan.

    Aktor-aktor lain juga tampil maksimal. Setiap aktor bermain membawakan karakter mereka dengan baik. Masao Kusakari—Kang Ji-young yang juga memainkan peran ayah-anak bermain sangat apik. Pertukaran tubuh antara lelaki dan perempuan menimbulkan masalah yang tak kalah aneh dan lucu. Si lelaki tua mendadak jadi kemayu, dan anak gadis menjadi tomboy dan cenderung kasar.
    Akio Kaneda dan Issei Takahasi juga mampu mangimbangi keanehan-keanehan yang terjadi akibat pertukaran tubuh ini. Akio yang merupakan aktor senior berkali-kali tampil konyol untuk menyelamatkan situasi. Sementara Issei—aktor muda pemeran sekretaris Perdana Menteri membuat penonton tertawa dengan akting polosnya.

    Ada keseimbangan antara kuatnya plot dan kemampuan akting para pemeran. Padahal,  pada dasarnya mereka memiliki tuntutan sama untuk bisa menampilkan karakter-karakter serius di tengah situasi-situasi lucu. Atau sebaliknya, tampil lucu di tengah situasi yang sudah genting.
    Mengenai penyebab pertukaran tubuh ini juga terbilang logis. Tidak ada unsur pemaksaan, atau kebetulan, atau mistis seperti di cerita-cerita lain. Masalah ini diselesaikan secara apik. Walau sebenarnya, penyelesaian pertukaran tubuh ini terbilang sangat sederhana dan nggak heboh-heboh banget. Bahkan, ending-nya pun masih menyisakan peluang untuk sekuel (Tamiou memang memiliki sebuah sekuel dan sebuah spin-off).

    Drama ini adalah drama yang menarik untuk ditonton. Muatan komedinya sungguh-sungguh mampu membuat tertawa. Di sisi lain, isu-isu politik menjadi sebuah kritik bagi masyarakat maupun wakil rakyat. Tema-tema humanisme yang dimasukkan juga menjadi sebuah tambahan ‘gizi’ pada serial ini. Dan puncaknya, keharuan tetap ada saat cerita menyentuh tentang kekeluargaan dan persahabatan.

    Pada akhirnya, apa yang diperlihatkan Tamiou adalah sebentuk pemerintahan ideal dengan impian-impian akan kesejahteraan rakyat. Dan semua itu terwakilkan oleh kisah Taizan Muto dan putranya.



    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar