Selasa, 12 Juni 2018

Keluarga: Mitra Sekolah Membentuk Generasi Baru


Hingga kini, banyak orang masih percaya bahwa sekolah adalah tempat menghasilkan ijazah untuk menjamin masa depan anak-anak. Angka-angka pada ijazah maupun rapor dipercaya penuh sebagai penentu nasib anak-anak. Orang tua sekarang akhirnya lebih suka melemparkan tanggung jawab sepenuhnya kepada sekolah dan enggan membantu pengajaran di bidang non akademik.
Padahal, apakah seharusnya benar begitu?

***
Saya mengamati orang-orang di sekeliling saya. Terutama sekali, mereka yang dahulu merupakan juara kelas dan sejenisnya. Tentu, ada orang-orang yang berhasil bekerja sebagai pegawai. Beberapa di antaranya sudah menduduki posisi sebagai manajer hingga direktur. Beberapa mantan siswa berprestasi agak ngoyo saat kuliah hingga bekerja. Ada yang hingga kini jadi pengangguran, ada yang masih mati-matian bekerja. Sementara yang lain cukup meneruskan usaha keluarga. Anak dokter jadi dokter. Pemilik toko membuka toko. Dan seterusnya.

Ada sedikit sekali anak-anak berprestasi ini yang berhasil menjadi pengusaha maupun berwiraswasta. Kebanyakan dari mereka lebih nyaman bekerja di lingkungan teratur, kemudian meraih gaji dan posisi tinggi. Mereka senang dipimpin, didikte, dan seterusnya.

Ketika mereka menghadapi kegagalan memperoleh pekerjaan atau kesepakatan bisnis, tidak sedikit dari mereka yang kemudian menjadi frustasi. Masalah pekerjaan pun merembet sampai ke rumah. Tidak jarang, tidak sadar akan kelemahan mereka ini membuat emosi begitu mudah tersulut. Beberapa orang yang saya kenal bahkan mengalami kehancuran rumah tangga akibat dari gagal mengontrol emosi.

Ada lagi contoh-contoh lain yang begitu dekat. Namun, orang-orang memilih untuk mengabaikannya. Kenapa? Orang-orang lebih memilih bertahan pada tradisi dan kepercayaan lama. Mereka memilih untuk menggantungkan nasib anak-anak mereka seratus persen pada angka-angka di rapor dan ijazah. Di mana kemudian tanggung jawab ditanggung sepenuhnya oleh pihak sekolah.

Sangat disayangkan, banyak orang tua saat ini justru tidak memahami apa sesungguhnya tujuan anak-anak memperoleh pendidikan.

Di masa lalu, Bangsa Indonesia tidak mendapat kenikmatan bernama pendidikan. Pendidikan adalah salah satu bagian dari politik etis atau politik balas budi yang terpaksa dilaksanakan oleh Belanda. Padahal, kita semua tahu bahwa dulunya Belanda enggan memajukan pendidikan di Indonesia. Pendidikan diperkirakan akan memunculkan benih-benih nasionalisme dan semangat perjuangan untuk merdeka.

Jadi, bisa dibilang … pendidikan sendiri dulu menimbulkan ketakutan dalam diri penjajah. Karena pendidikan dapat membentuk patriotisme dan karakter-karakter pemimpin yang kuat.

Namun, untungnya … politik etis tetap berjalan. Dari sini, kemudian hadir pemikir-pemikir dan pendidik bangsa. Salah satunya tentu kita hafal dengan pasti, karena hari lahirnya diperingati sebagai hari pendidikan.

Raden Mas Suwardi Suryaningrat atau lebih dikenal Ki Hajar Dewantara. Pendiri Perguruan Taman Siswa dan pencipta semboyan ‘Tut Wuri Handayani’ ini dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden RI pertama, Sukarno, pada tahun 1959 dan ditetapkan sebagai Bapak Pendidikan Indonesia.


Sumber gambar: Wien Muldian

Bagi Ki Hadjar, pendidikan harus mampu menumbuhkan karakter dalam diri peserta didik. “Bagi Ki Hajar, kecerdasan memang diperlukan, tetapi karakter lebih diperlukan. Kecerdasan tanpa diimbangi karakter akan menjerumuskan kehidupan anak didik itu sendiri, “sebut Supriyoko seperti yang dikutip dari Kompas.com.

Referensi:

Karena itulah, seharusnya keluarga tidak melemparkan tanggung jawab sepenuhnya kepada sekolah. Sekolah memang penting. Sekolah melengkapi anak-anak dengan berbagai ilmu pengetahuan. Guru-guru memiliki kemampuan di bidang pengajarannya masing-masing. Anak-anak bisa belajar ilmu pengetahuan yang sangat variatif. Anak-anak juga bisa belajar bersosialisasi bersama teman-teman sebaya, dan akhirnya mendapat teman-teman dari berbagai latar belakang.


Sumber Gambar: pixabay.com

Namun, di sisi lain, keluarga merupakan salah satu sumber kekuatan untuk memperbaiki kinerja dunia pendidikan dan kebudayaan. Orang tua memang tidak sempurna dalam semua mata pelajaran. Akan tetapi, semua kebiasaan, perilaku dan sikap orang tua sangat menentukan karakter anak di masa depan. Jadi, sesungguhnya … sekolah dan keluarga adalah mitra utama bagi anak. Di mana mereka dapat diperlengkapi dengan semua hal yang dibutuhkan untuk masa depan mereka.
Baca juga:

Hadirnya teknologi internet juga membawa banyak perubahan baru bagi pendidikan. Akhirnya, menggantungkan nasib pada angka-angka ijazah semakin tidak menjamin. Anak-anak kini tidak lagi harus menghafal semua catatan dan LKS untuk tahu suatu pelajaran. Cukup dengan mengetik apa yang dicari pada laman google, semua hasilnya akan muncul. Sistem pembelajaran kini tidak melulu melalui buku-buku cetak. Namun, juga melalui youtube, Instagram, dan berbagai media sosial.

Dengan adanya kemudahan belajar, banyak hal akhirnya lebih mampu dipahami ketika anak-anak daring dengan gawai mereka. Bagaimana alam semesta terbentuk, bagaimana pesawat dibuat, bagaimana perang dunia terjadi, semua bisa diakses melalui internet. Hal ini sebetulnya sangat membantu kegiatan pembelajaran. Ketika anak-anak mencapai satu titik ingin tahu, mereka pun bisa beralih mencari keterangan yang lebih lengkap dari buku-buku digital atau buku-buku cetak. Dengan demikian, anak-anak bisa paham betul mengenai satu masalah.


Sumber Gambar: pixabay.com

Peranan keluarga akhirnya semakin diperlukan dalam hal menyaring apa yang dibutuhkan anak. Kemudahan mengunggah dan mengunduh informasi kini malah memudahkan berbagai kejahatan di dunia internet. Hoax bertebaran di mana-mana. Jangankan anak-anak, orang tua pun banyak yang akhirnya terpengaruh isu-isu radikalisme. Hanya berbekal keyakinan buta, beberapa orang tua memilih untuk menanamkan kebencian kepada anak-anak mereka.

Baca juga:

Tidak hanya benih-benih radikalisme, ada banyak hal buruk di internet siap mengintai anak-anak. Misalnya saja pornografi yang tidak hanya disajikan dalam bentuk gambar, namun juga bebas diakses dalam situs berbagi cerita daring. Di sinilah, orang tua sebaiknya hadir memberi pendampingan, bukannya memarahi. Memberi arahan pada rasa penasaran anak dan menyesuaikan penjelasan sesuai dengan usia anak.

Perubahan memang terus terjadi. Kita sebagai orang tua tidak mungkin terus mengisolasi diri dalam nostalgia masa lalu. Mau tidak mau, anak-anak juga harus memiliki kemampuan adaptasi. Dengan demikian, mereka bisa bertahan menghadapi perubahan zaman.

Dan di sinilah, kita harus ikut belajar dan menerima kalau keluarga merupakan mitra sekolah membentuk masa depan anak.

Kita pun ikut memikul tanggung jawab atas masa depan anak.

Sumber Gambar: pixabay.com

Menjadi orang tua itu memang tidak mudah.
Akan tetapi, alangkah baiknya jika kita semua mencoba :)

#SahabatKeluarga

Putu Felisia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar