Selasa, 23 Januari 2018

3 Lives, 3 Worlds, 10 Miles of Peach Blossoms: Cinta Itu Abadi.

Seorang perempuan tampak terjun dari ketinggian. Kain penutup matanya terlepas. Perlahan-lahan, perempuan itu berubah menjadi seekor rubah putih yang meraung dengan pedihnya.
“Pernahkah kau mencintai seseorang sebelumnya? Pernahkah kau membenci seseorang?”
Seorang gadis cantik kemudian tampak mabuk di bawah pohon persik. Dia pun berkisah tentang mimpi-mimpi yang selalu membuatnya bersedih tiap kali tertidur…

*

Adegan di atas adalah adegan pembuka film bertajuk “Once Upon A Time” yang merupakan adaptasi dari novel bertajuk 三生三世,十里桃花 (3 Lives, 3 Worlds, 10 Miles Peach Blossom) Novel ini dikarang oleh Tang Qi. Meski banyak sekali kontroversi dan isu plagiarisme dari cerita ini, 10 Miles of Peach Blossoms terbukti menjadi cerita yang disukai oleh pembaca dan penonton. Cerita ini pun kemudian diadaptasi menjadi sebuah serial berjudul Eternal Love. Sukses dengan serialnya, produser pun kemudian membuat film dengan artis-artis berbeda.

Berikut adalah sinopsis dari 10 Miles of Peach Blossoms dari novelupdates.com yang terjemahannya sudah saya edit supaya mudah dipahami:

Tiga ratus tahun lalu, seorang wanita yang dikenal sebagai Su Su berdiri di atas Teras Zhuxiantai. Su Su terjun tanpa penyesalan, membawa luka hati.
Saat itu, Pangeran Mahkota Yehua hanya bisa melihat peristiwa itu dari sebuah cermin perunggu. Matanya menyaksikan sendiri kematian wanita yang paling dia cintai.
Tiga ratus tahun kemudian, di Istana Naga Laut Timur, dua orang itu kembali bertemu.
Kini Su Su telah berubah menjadi seorang dewi bernama Baiqian. Dalam kehidupan yang lain, di dunia berbeda, sekali lagi Baiqian menghadapi pria yang mengkhianatinya. Namun, perasaan Baiqian kini tak ubahnya angin yang berlalu. Sedang Yehua sendiri masih mengingat kerling mata Baiqian dalam dingin hatinya.
Tiga kehidupan dan tiga dunia. Pria dan wanita yang sama, akankah mereka ditakdirkan untuk menyatukan tali cinta kembali?

Gambar dari: someonescorner.wordpress

Karena saya belum pernah baca novelnya, saya akan membahas 2 tontonan megah berdasarkan cerita ini., dimulai dari filmnya dulu.

Once Upon A Time
dibintangi Yang Yang dan Crystal Liu.
Gambar dari: Wikipedia

Jujur, saya menonton film ini setelah eneg lihat Qianqian tersasar di gubuk yang punya fasilitas kayak villa. Yang bener aja, ada gubuk ada bahan makanan lengkap gitu. Gak tahu apa harga beras mahal gini? *lho kok malah ngomel* xD

Saya akui, film Once Upon A Time ini sangat ringkas dan padat. Sangat membantu buat saya yang enggan berlama-lama dibodohi penulis skenario melihat betapa mudahnya hidup tanpa kerja atau cari uang, hahaha :v #realistis

Teknik CGI film ini sangat mantap. Terutama saat Baiqian memasuki Laut Naga Timur di dalam kelopak bunga bening. Settingnya dibangun dengan mantap. Benar-benar terasa dunia ala dongeng.
Kostumnya sendiri sangatlah kece badai. Crystal Liu tampil dengan gaun-gaun melayang dengan detil-detil yang dikerjakan dengan teliti. Satu-satunya kostum yang ganggu mungkin pakaian pengantin yang rada… ewww… nggak banget deh :(

Yang Yang juga tampil memikat dalam kostum-kostum megah dengan detil-detil sedap dipandang mata. Sayang, beberapa kali karakter Yehua tampil dalam pakaian non-hitam. Jadi sedikit ‘melanggar’ prinsip Yehua yang mengatakan ‘Hitam menyamarkan warna darah. Aku tidak ingin keluarga atau musuh-musuhku tahu aku terluka’ itu.

Soal akting, ketampanan Yang Yang membuat saya melupakan aktingnya (wakakak). Duh, ganteng banget, kamu, dek xD Cocok banget pakai kostum Ancient Chinese gitu. Lalu dengan keimutanmu, karakter Yehua jadi kelihatan maniiiiiis kayak marshmellow x3 #eh

Meski demikian, ketampanan dan keimutan hakiki ini bikin Yang Yang rada nggak cocok jadi Mo Yan (gurunya Qianqian). Jadi nggak salah kalau Mo Yan kebagian adegan seiprit doang.
Crystal Liu sendiri seperti biasa, ya segituan aja, deh… hahaha xD Mukanya emang datar begitu ya mau diapain lagi xD

Soal plot, karena ringkas tadi, plotnya cukup efektif. Kekurangannya mungkin hanya kemunculan Raja Iblis (Yan Yikuan) yang hanya terkesan ditempel. Karakter si penjahat jadi kurang tereksplor dengan baik. Sayang banget, padahal kostumnya keren dan Yan Yikuan ganteng banget di sini :(
Pokoknya kostum dan settingnya bikin saya bisa memaafkan segala kekurangan film ini, hahaha xD
Dan yang  paling penting: nggak ada adegan gubuk berfasilitas villa.

Lanjut ke serialnya.

Eternal Love
dibintangi oleh Mark Chao dan Yang Mi
Gambar dari wikipedia


Saya akui, karena durasi waktunya (sangat) panjang, serial lebih punya potensi untuk mengeksplor cerita. Asal-usul semua karakter, masa lalu, masa kini, semua bisa digambarkan dengan bebas. Nah, kelebihan ini sayangnya juga merupakan kekurangan dari serialnya. Terlalu banyak tokoh, terlalu banyak cerita, membuat serial ini rada-rada membosankan, terutama kalau yang diceritakan bukan merupakan tokoh favorit.

Terus yang jelas, logika cerita serialnya bolong-bolong :( Jadi untuk penonton yang mementingkan logika, pengin banget jewer penulis skenarionya. Ini apaaaa coba… grrrrh… makanya saya sempat berhenti nonton dan berharap ada yang spoilerin endingnya (meski saya sendiri nggak suka spoiler).

Yah, untungnya saya akhirnya melanjutkan nonton setelah nanya ke temen, “Episode berapa tuh yang ketemu di Istana Naga Laut Timur?” XD Alhasil, karena nyari baper doang, saya pun nontonnya diskip-skip. Cari adegan romantis aja lah, pengin tahu banget kenapa serial ini bikin banyak cewek termehek-mehek gitu… hahaha… xD

Setelah berusaha merenungi dan menghayati serialnya #halah akhirnya saya bisa juga enjoy lihat pasangan Yehua-Baiqian itu. Lebih tepatnya, saya awalnya jatuh hati sama Ah Li (Zhang Yihan). Bocah imut anaknya Yehua. Tingkah laku dewa kecil berumur 300 tahun ini asli ngegemesin banget. Belum kalimat-kalimatnya yang polos tapi kayak orang gede itu hahaha xD

Ironisnya, karena Ah Li ini saya jadi suka juga sama Yehua yang awalnya sudah pengin saya gorok saking nyebelinnya (iyalah, suami kok pergi mulu kayak Bang Toyib xD) hahahahaha… Nah, kalau Yang Yang menyihir dengan keimutannya, Mark Chao berhasil mencuri hati dengan sikap dingin tapi romantisnya itu. Oke, sama seperti Baiqian, saya juga jadi jatuh hati sama Mas’e. Sukaaaa banget sama sikap protektif dan tegasnya.

Yehua di film imut dan manis.
Yehua di serial berwibawa dan dewasa.

Okesip.

Saya suka setting dan kostumnya juga. Kalau di film terasa dipoles habis, serialnya main natural aja. Meski demikian, pemandangan yang disuguhkan sungguh memanjakan mata. Denger-denger desainer kostumnya juga pernah masuk nominasi Oscar atau Golden Globe gitu. Jadi memang keren-keren. Kecuali kostum Yehua di adegan-adegan terakhir yang nggak banget menurut saya hahaha xD
Bener kata temen saya, Lia Zhang. Sekian lama waktu berlalu, kostumnya nggak ganti zaman. Jadi rada cacad logika juga. Tapi dipikir lagi, gaya beberapa dinasti memang udah ditampilkan di awal. Agak sulit membuat diferensiasi dengan bagian akhir.

Dan satu lagi, kostum Yehua terakhir itu, tolong… kayaknya lebih oke kalau bordirnya jangan full gitu. Collarnya aja, kek. Atau dari bahu menurun ke pinggangnya, kek.  Jadi masih kelihatan lakinya lah. Hahahah… #CurhatPenonton

Soal akting harus saya akui, Yang Mi dan Mark Chao-lah yang lebih unggul. Pemeran Ah Li juga pas banget di serial ini. Untuk chemistry, mereka bertiga benar-benar kelihatan kayak happy family xD Oh, Ah Li… sini main sama iik, hahaha xD

Sekali lagi, ini soal selera, sih. Kalau menurut saya, cerita ini nggak termasuk wow banget. Tapi cocoklah buat ditonton untuk menghabiskan waktu. Terutama kalau pengin larut dalam nuansa romansa yang bikin gagal move on xD

Gimana? Udah pengin nonton?

*

Gambar dari: Mark Chao - Pinterest


“Walau ada 10 mil hutan persik, satu pohon sudah cukup bagiku.”
Yehua.



Putu Felisia

www.putufelisia.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar