Kamis, 04 Mei 2017

SATUPENA: Harapan Baru Bagi Penulis Indonesia

“Pena adalah alat yang tak pernah lekang.”
Dewi “Dee” Lestari

Perlu keberanian yang besar untuk bertekun dalam kepenulisan. Sebuah profesi yang sunyi, tanpa jaminan kesejahteraan, belum persaingan gila-gilaan, dan minim penghargaan. Karena ini pula, saya sendiri beberapa kali maju mundur. Maunya ganti profesi jadi dagang sate aja, tapi sayang… kehidupan tanpa menulis itu hambar. Ibaratnya kehilangan pacar. Jiwa nelangsa. Hati hampa tanpa impian. Eaaa…

Ketika saya membaca kata-kata Pramoedya Ananta Toer kembali, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama dia tidak menulis. Ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Saat itu saya tercenung. Satu pikiran mendadak terlintas dalam kepala, bahwa sejatinya para penulis adalah orang-orang yang dipercaya Tuhan untuk menggerakkan peradaban. Membawa karya-karya yang mencerahkan banyak jiwa.

TAPI KENAPA BANYAK PENULIS YANG NASIBNYA NGENES?

Harus diakui, tidak semua penulis beruntung seperti penulis-penulis best seller. Tidak semua penulis bukunya ludes sebelum tutup PO. Tidak semua penulis bisa merasakan bukunya dicetak ulang sampai lima puluh kali lebih. Tidak semua penulis menerima orderan naskah dari penerbit, atau novel di-acc padahal baru judul doang.

Intinya, profesi penulis tidaklah seseksi kelihatannya. Profesi ini tidak menjanjikan kesejahteraan atau kemakmuran. Kecuali si penulis sudah jadi langganan best seller dan punya banyak fans.

Adanya kongres perdana yang didukung langsung oleh BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif milik pemerintah) bak angin segar di padang tandus. SATUPENA menjadi nama yang sakral. Ibaratnya, dengan sekian banyak penulis, sekian banyak genre, sekian banyak perbedaan usia, para penulis ingin mempersatukan visi dan misi. Untuk mencapai kemajuan bersama. INI ADALAH SATU KABAR YANG LUAR BIASA!!!




Seperti diketahui, para penulis biasanya memiliki ego sendiri. Apalagi, yang tergolong penulis senior atau penulis best seller. Tapi dengan adanya SATUPENA, para penulis bahu membahu menyingkirkan ego untuk menyuarakan aspirasi dan opini hingga solusi demi terwujudnya dunia literasi yang lebih baik.

Pajak royalti menjadi bahasan utama yang dikemukakan. Untuk profesi yang tidak tercantum dalam formulir pengisian KTP *bold italic underline* pajak penulis tergolong sangat besar, yakni sekitar 15-30%. Silakan dihitung sendiri besarannya. Yang jelas, potongan penghasilan untuk pajak itu cukup bikin gigit jari. Saya sendiri pernah membayar pajak sekitar 1-2 juta Rupiah untuk satu buku. Kira-kira uang itu bisa buat bayar SPP beberapa bulan, lah… *penting banget*. Gimana orang mau jadi penulis kalau pajaknya mencekik begini?

Hal ini akan menjadi sebuah PR besar bagi SATUPENA nantinya. Selain PR-PR lain yang selama ini menjadi permasalahan penulis. Masalah riset, promosi, kehumasan, dan lain-lain juga dibahas dalam divisi-divisi yang dibentuk. Masing-masing divisi yang nantinya membuat program-program untuk membantu penulis menggemakan karya dan merawat pembaca.

Harapan-harapan besar kini tergantung di bahu Ketua SATUPENA, Bapak Nasir Tamara. Yang dengan pengalamannya dipercaya menumbuhkan SATUPENA menjadi organisasi yang solid dan menjadi berkat bagi para penulis. Bersama Ibu Imelda Akmal, dan semua pengurus yang terpilih… semoga SATUPENA bisa menjadi terobosan baru. Memayungi penulis-penulis hingga profesi ini terangkat dan tidak sekadar dipandang sebelah mata.



Selamat bekerja, SATUPENA! Selamat bertugas, Pak Nasir dan Bu Imelda.

Astungkara…


Berikutnya : Online VS Offline, Daud VS Goliath (?)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar