Minggu, 05 Februari 2017

Hati-hati dengan Kata-kata, Kau Bisa Membunuh Seseorang!

Namanya Yantiari (bukan nama sebenarnya). Bocah Batita ini tinggal bersama nenek, kakek, serta tantenya. Tentu kehadirannya membuat suasana rumah itu menjadi ramai. Karena kehadiran Yanti juga menjadi hiburan bagi keluarga.

"Yanti TAHIIII!" demikianlah kerap sang nenek menggoda Yanti. Guyon. Memelesetkan nama Yantiari menjadi Yanti Tahi. Si Bocah menangis. Nenek tertawa puas. Dengan memberi kata hiburan, "Keto gen ngeling... (gitu aja, kok nangis)"



Di lingkungan saya, mengolok-olok orang, terutama anak-anak dengan sebutan aneh bin nyeleneh sudah menjadi hal lazim. Anak laki-laki ganteng bisa seenaknya dipanggil Kampret. Anak perempuan cantik bisa dipanggil Nyi Pelet. Entah apa maksudnya, apakah memang hanya untuk hiburan.

Menimbulkan Luka
Apapun alasannya, mengolok-olok anak dengan kalimat negatif sangat tidak dianjurkan. Walaupun tujuannya, mungkin untuk 'membiasakan' anak dengan gempuran caci maki saat mereka telah dewasa.

"Bagi saya, semua kata/kalimat yang negatif tidak diperkenankan untuk diberikan kepada anak-anak, walau itu berupa 'larangan bermaksud baik' seperti 'jangan nakal' dan kalimat senada, apalagi yang jelas2 caci maki dan yang parahnya juga ketika caci maki jadi guyonan atau kata/kalimat ysng bernada melecehkan, merendahkan serta menihilkan keberadaan," ujar Bung Joss, salah satu praktisi psikologi di Bung Joss Management, "Kata/kalimat negatif tersebut jelas berdampak secara psikologis bahkan menimbulkan luka yang bisa terbawa sampai dewasa."

Lebih jauh dia menambahkan, "Penggunaan kata/kalimat negasi (jangan, tidak) dalam komunikasi tidak efektif, contoh:
"Jangan nakal"
"Tidak malas"

Kata-kata caci maki dan pelecehan, bisa mengisi bawah sadar yang kemudian akan mempengaruhi pembentukan self image. Kata2 bernilai negatif ini akan cenderung membentuk citra diri yang negatif. Ketika citra diri negatif, maka individu akan melihat dunia disekitarnya negatif semata-mata.

Kata-kata negatif berupa makian yang sering diterima anak, juga bisa membuat anak menirunya kelak; anak kelak menjadi pelaku caci maki.

Bagaimana menghadapi, hindari semaksimal mungkin lingkungan seperti itu. Kalau bisa ditegur, tegurlah mereka yang melakukannya.

Ketika anak dicaci maki atau menerima apapun kata2 negasi, kita yang mengerti perlu juga menjelaskan kepada anak, bahwa itu adalah kata2 yang negatif, dan bila perlu jelaskan pula dampak negatif dari kata2 negatif tsb. Supaya anak mengerti dan tahu kemudian bersikap untuk tidak menirunya.

Jangan sekalipun-sedikitpun mengganggap kata2 dimaksud sebagai sesuatu yang wajar. Hindari, lawan, larang dan jelaskan pada siapa yang terkait.

Anak-anak yang sudah terluka karena sering dicaci maki, juga perlu dibuang emosi negatif terlukanya itu. Harus ada intervensi khusus. "


Membangun Citra Diri Negatif dan Rasa Minder

Tari (bukan nama sebenarnya), seorang ibu berumur tiga puluhan, mengaku dirinya pernah ke psikiater karena gangguan emosi. 
"Saya tidak bisa menangis. Dan apa yang saya tahu, adalah... menangis itu jelek. Menangis akan membuat saya malu. Menangis akan membuat saya terlihat lemah..."
Dari cerita Tari, diketahui ternyata sejak kecil dirinya telah diejek-ejek sebagai "Si Cengeng" karena sering menangis. Dari nenek, ibu, berlanjut hingga sepupu-sepupunya. Bahkan kemudian teman-teman sekolah ikut-ikutan suka menggoda Tari hingga menangis. Hal ini diperparah dengan keluarga sang suami yang mengajarkan, "Tidak boleh marah. Marah itu buruk. Menangis itu lemah."

Dhiko Surya Perdana, salah satu terapis di Velvet Sparks Excellence mengatakan ada 2 kemungkinan bagi si anak di masa depan. 

Jika si anak tumbuh jadi orang bermental lemah, dia bakal jadi dua jenis orang:
1. Dendam dan berubah jadi orang yang mengejeknya.
2. Hancur self-esteemnya dan jadi isolatif.

Jika dia mampu menjadi orang bermental kuat, maka ucapan2 seperti itu bakal jadi cambuk dan peljaaran berharga , dia akan jadi orang yang sangat paham artinya ddicemooh dan tidak akan mengikuti pendahulunya, bahkan akan mengajarkan untuk tidak berkata kasar.

Patokan mental kuat atau tidak itu apa?

Ada yang memberikan dia kekuatan dari dukungan2 kecil selama dia bertumbuh kembang.

yang harus dilakukan agar kata2 itu terdengar "wajar"...?


Kata-kata Kasar BUKAN KEWAJARAN

Yang pasti, apapun alasannya, kata-kata kasar maupun negatif tidak memberi manfaat apapun selain luka. Tidak boleh membiarkan kata-kata itu terdengar wajar.

Sikap dan pengucapan buruk itu seharusnya dipahami sebagai hal yg tidak membawa manfaat. Masalahnya, dalam kondisi menghadapi "ketidakwajaran" itu, kita tidak bisa main langsung serang dan berkata "itu tidak wajar", karena hasilnya malah mereka yg melakukan pengucapan itu makin defensif dan ga mau sadar. Selalu ada cara2nya.
Mulai dari ignoring, mendoakan, sampai melakukan pendekatan2 khusus agar ketidakwajaran itu tidak dilakukan lagi.

Mengarah ke Bully

"Kalau berulang-ulang dan dilakukan pada yang inferior (lebih lemah)  tentu termasuk bully. Kalau nggak salah dalam definisi bully ada unsur perulangan dan relasi kuasa yang tidak seimbang. (misalnya kakak kelas pada adik kelas. Atau yg kuat fisiknya pada yang lebih lemah). Bully juga bisa dlm bentuk verbal."
Ken Terate - Penulis Novel Remaja

Banyak orang menganggap remeh masalah kekerasan verbal. Padahal pepatah pun mengatakan "fitnah lebih kejam dari pembunuhan." Bukankah itu berarti kata-kata bisa lebih menyakitkan daripada tusukan pedang? Masalahnya, banyak orang yang tidak mau ambil pusing dengan memilih kata-kata sebelum menyemburkannya ke orang lain. Toh, orang itu tidak mengalami luka fisik.

Padahal mereka lupa, kata-kata bisa membunuh karakter seseorang secara perlahan-lahan.

"Saya pernah melupakan semua hal yang pernah saya kuasai," aku Tari, "Bahasa Jepang, Korea, bahkan IP kuliah saya yang cumlaude mendadak menjadi asing bagi saya. Saya merasa saya terlalu bodoh, tidak berguna, dan tidak bisa apa-apa." Tari bertutur sambil menyeka air mata, "Hanya kekuatan Tuhan yang membuat saya tidak bunuh diri karena suami dan keluarga besarnya menganggap saya bodoh dan menjadi beban keluarga."


Para Pelaku Pernah Menjadi Korban

Sayangnya, perilaku berkata-kata kasar ini sudah mendarah daging hingga diteruskan bergenerasi-generasi berikutnya. Padahal, para pelaku bisa jadi hanya meniru apa yang mereka alami di masa lalu.
Kembali, Dhiko menegaskan:

1. Siapapun yang bisa berucap buruk begitu dan menyatakan itu demi "membiasakan agar bisa kuat dengan gempuran dunia", ketahuilah mereka dulu juga korban, tak ada yg menyokong mereka saat sakit.

2. Kadang, kata-kata buruk itu perlu aebagai pelepasan emosi negatif. Hanya saja...waktu, tempat, atas alasan apa, kepada siapa dan kadarnya seberapa besar harus bisa diperhitungkan, kalau tidak, hasilnya akan makin buruk.

So, sudah sepatutnya kita menjaga lidah kita. Semoga saja, pembiasaan berkata-kata kasar tidak lagi terjadi di masa depan.

Terima kasih untuk para narasumber: Bung Joss, Dhiko Surya Perdana, Aryavamsa Frengky, Impian Novitasari, Idha Febriana, Ken Terate, Pik Parwati.

Foto dari buku Stay Strong, oleh Pdt Hanny Yasaputra




Tidak ada komentar:

Posting Komentar