Sabtu, 03 Oktober 2026
Sebagai orang Tionghoa (Chindo), dari kecil aku dibesarkan dengan gaya hidup frugal living, cermat, dan berhati-hati; termasuk dalam urusan berbelanja. Di keluargaku, ada prinsip kuat yang selalu dipegang: ada harga, ada rupa. Daripada beli barang murah yang ujung-ujungnya gampang rusak dan bikin boros, kami lebih memilih berinvestasi pada barang bermerek yang kualitasnya terjamin dan tahan lama.
Sayangnya, prinsip itu makin ke sini makin susah diterapkan.
Kapan hari, aku berniat membeli raket nyamuk. Seperti biasa,
aku bilang ke engkoh penjualnya, “Koh, cari raket nyamuk yang bagus ya.
Harga nggak masalah, yang penting awet.”
Engkohnya lalu menyodorkan satu raket nyamuk yang harganya lumayan mahal untuk ukuran raket nyamuk—hampir dua ratus ribu rupiah. Dalam hati, aku berharap barang ini bakal tahan banting. Minimal bisa mendekati raket nyamuk milik Iik-ku yang sampai 10 tahun masih awet dan berfungsi normal.
Baca juga:
Tapi ternyata? Baru dipakai beberapa bulan, eh, sudah rusak
dan mati total.
Rasa kecewa ini bikin aku berpikir: Ke mana perginya
kualitas barang-barang hari ini? Apakah ini cuma perasaanku saja, atau industri
modern memang sengaja bikin barang cepat rusak supaya kita terjebak dalam
lingkaran setan beli-rusak-buang?
Kejadian raket
nyamuk itu sejujurnya bikin aku merasa bodoh sekaligus ironis.
Bagaimana tidak? Di
satu sisi, kita dituntut—bahkan mengajarkan anak-anak kita—untuk begitu peduli
pada lingkungan. Anak-anak di sekolah diajari memilah sampah organik dan
non-organik. Kita kemas keliling bawa tumbler sendiri, dan tempat
belanja di mana-mana sudah dilarang memberikan tas plastik kresek. Rasanya,
masyarakat zaman now itu keren dan peduli banget sama bumi.
Tapi di sisi lain,
ada realita pahit yang kontradiktif: barang-barang yang kita beli sehari-hari
justru makin berumur pendek.
Prinsip "ada
harga, ada rupa" yang dulu jadi benteng pertahanan kita makin ke sini
makin memudar. Bahkan saat kita sengaja menyisihkan budget lebih demi
memboyong produk dari brand ternama atau edisi premium, hasilnya sering
kali sama saja. Barangnya tetap cepat rusak, bermasalah, atau fungsi utamanya
menurun drastis hanya dalam hitungan bulan atau tahun.
Rasanya konyol.
Kita bersusah payah menolak satu kantong plastik kresek demi mengurangi sampah,
tapi di saat yang sama, kita terpaksa membuang alat elektronik seharga ratusan
ribu hingga jutaan rupiah ke tempat sampah karena tidak bisa diperbaiki lagi.
Lalu timbul
pertanyaan besar: Kalau beli barang
mahal pun sudah tak lagi menjamin daya tahan, ke mana lagi kita harus mencari
kualitas? Dan ada berapa banyak "sampah bermerek" yang akhirnya cuma
bisa menumpuk pasrah di sudut rumah dan TPA?
Ternyata, fenomena
ini bukan cuma ilusi atau perasaan kita saja. Ada beberapa alasan di balik
industri modern yang membuat barang bermerek sekalipun umurnya sependek itu:
Baca juga:
Sengaja Dibuat
Sulit Diperbaiki (Right to Repair): Coba perhatikan, barang zaman sekarang
makin tertutup dan rapat. Begitu rusak sedikit, biaya perbaikan dan harga
sparepart resminya sengaja dibuat mahal hampir menyamai harga beli unit baru.
Akhirnya, kita pilih membuang dan membeli lagi.
Baca juga:
Manfaat Batu Bara dalam Kehidupan Modern
Kelelahan Mental
(Consumer Burnout): Capek nggak sih harus terus-terusan riset, menabung, beli,
merawat barang bermasalah, lalu ujung-ujungnya membuangnya lagi dalam jangka
waktu singkat?
Sebagai konsumen,
kita mungkin tidak bisa mengubah cara pabrik berproduksi, tapi kita bisa
mengubah cara kita berbelanja:
1. Cari Long-Term
Review, Bukan Unboxing: Jangan langsung tergiur review bagus di hari pertama
pemakaian. Cari tahu pengalaman orang yang sudah memakai barang tersebut selama
1–2 tahun.
2. Cek Garansi dan Kemudahan Servis: Sebelum checkout, pastikan brand tersebut punya service
center yang jelas, transparan, dan menyediakan suku cadang.
3. Kembalikan Budaya
Merawat & Memperbaiki: Maksimalkan fungsi barang yang ada. Jika memang
perlu beli pengganti, tidak ada salahnya melirik barang preloved atau vintage
berkualitas dari era ketika standar manufaktur masih mengutamakan ketahanan
fisik.
Penutup: Cerdas
Berhitung di Era Industri Modern
Menjadi konsumen
yang cermat, berhitung, dan mencari nilai terbaik (value for money) adalah
bentuk kecerdasan finansial. Namun di era sekarang, kecerdasan itu perlu
dilengkapi dengan sikap kritis terhadap taktik pemasaran industri. Kita punya
kendali penuh atas keputusan membeli—dan membuang—di rumah kita sendiri.
Baca juga:
Kalau kamu sendiri
bagaimana? Pernah nggak merasa kecewa berat karena barang bermerek yang kamu
beli mahal-mahal ternyata rusaknya cepat banget? Barang apa itu? Yuk, cerita di
kolom komentar!
Tidak ada komentar:
Terima kasih telah berkunjung ke blog ini. Mohon tidak mengcopas isi artikel tanpa izin. Jika berkenan, silakan tinggalkan komentar dengan sopan. Diharapkan untuk tidak mengirimkan link hidup dalam komentar. Terima kasih atas perhatiannya :)