Senin, 20 September 2021

Cerita Kue Bulan (2021)

 Kisah ini mungkin tidak seepik kisah Mooncake Festival beberapa tahun lalu. Ini hanya kisah daily yang sebenarnya cukup sederhana. Meski sederhana, kisah ini cukup berarti dalam lembaran hidup saya di tahun ini.

 

Gambar dari pixabay.

 


Kisah Kue Bulan tahun 2017 bisa dibaca di sini.

 

 

Gambar dari pixabay.

 

Kisah ini dimulai waktu saya browsing mooncake buat dijual. Siapa sangka, alih-alih memberi info, seorang teman malah langsung mau memberikan mooncakenya. Saya ini orangnya sungkanan, Cuma mooncake ini termasuk salah satu makanan favorit saya juga *malu*. Pada akhirnya, saya mengiyakan saja (dengan hati gembira).

 

Dan, akhirnya, Mooncakenya datang!

 

Harus diakui, packaging mooncake ini sangat buruk. Mooncake yang biasanya memang dibungkus dus karton tipis tidak diamankan lagi dengan bubble wrap, hanya diberi koran dan plastik. Mooncake jadi penyok, tentu tidak perlu heran lagi. Yah, meski demikian, saya masih senang juga karena mooncakenya toh masih bisa dimakan.

 

Namun, ternyata, teman saya yang jadi panik. Saya beberapa kali bilang kalau mooncakenya bisa dimakan, tapi, kayaknya, dia jadi nggak enak banget. Padahal, kesalahan membungkus dan mengirim kan bukan sama dia, cuma saya tahu dia jadi nggak enak meski saya sendiri nggak masalah.

 

Melihat sikapnya ini, entah mengapa, saya jadi ingat kisah saya sendiri. Saya ingat, dari saya kecil, saya jarang ketemu orang yang mau menghargai pemberian saya. Apapun yang saya lakukan atau berikan, selalu dianggap jelek dan hina. Sekeras apapun mencoba, semua yang saya lakukan dan berikan itu dianggap jelek dan buruk. Orang hanya mau memandang hasil, bukan usahanya.

 

Saya pun jarang mendapatkan sesuatu dengan cuma-cuma. Jika orang memberi sesuatu, pasti ada embel-embel balas budi. Kamu sudah dikasih ini, maka kamu harus ingat dan membalas budi sepenuh hati. Ini pun masih ditambah diberi pemberian yang tidak layak. Orang tua saya juga begitu. Mami pernah cerita, suatu kali, dia diberi sekotak kue oleh mertua saya. Ketika dibuka, isi kotak itu hanyalah kue-kue yang sudah dipotong alias kue-kue sisa.  

 

Pada akhirnya, ketika saya membuka mooncake itu, mengamati isinya yang memang tidak sempurna, saya merasa buncah dan air mata juga menitik di pipi saya. Saya bisa membayangkan teman saya memesan mooncake, waswas menunggu kiriman sampai, dan panik ketika mooncake yang sampai tidak sesuai yang dia harapkan. Membayangkan proses ini dan semua perhatian yang dia curahkan, saya jadi sangat terharu.

 

Ngomong-ngomong, mooncake itu isinya banyak, kulit luarnya tipis dan lembut. Saya makan mooncake itu, menikmati rasanya dengan senang hati, sementara saya menangis dan bersyukur, berterima kasih pada Tuhan karena saya ada teman yang begitu perhatian dengan saya.

 

Mooncake penyok itu mungkin hanyalah sebuah hal kecil. Namun, itu sangat menghibur hati saya dan membuat saya bersemangat lagi.

 

Sekali lagi, terima kasih.

 

P.S.: Setelah mooncakenya habis, saya membuang kotaknya di tong sampah. Kotak itu kemudian dipungut papi dan disimpan sampai sekarang.

 



Penulis:

Putu Felisia

Novelis dan blogger.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Protected by Copyscape
Protected by Copyscape