Kamis, 31 Desember 2020

Catatan Akhir Tahun: 7 Hal yang Dipelajari Selama 2020

 

Tahun 2020 sebentar lagi berlalu. Bagi banyak orang, tahun ini mungkin merupakan tahun yang tidak bersahabat.  Saya sendiri tidak memiliki banyak pencapaian seperti teman-teman lain yang bersinar di tahun ini. Meski demikian, tahun ini tetap merupakan tahun yang sangat saya syukuri. Corona Academy, demikian gembala senior menamakan masalah COVID 19 ini. 

Dan memang benar, dalam tahun ini ada banyak hal berharga yang saya pelajari. Di antaranya adalah:

 


 

Tantangan di tahun 2020 benar-benar merupakan ujian yang sulit. Saya sendiri mengalami banyak pengalaman yang membuat saya merasa down. Ada saat-saat di mana saya merasa sendirian. Apalagi, keadaan keluarga saya begitu: senang mengeluh, senang menyalahkan, sama sekali tidak ada dukungan apalagi menyemangati.

 

Saat itulah, saya hanya bisa menangis sejadi-jadinya kepada Tuhan. Kadang, saya marah, kadang, saya mengungkapkan kekecewaan saya dan keputusasaan saya. Untungnya, tidak seperti orang-orang yang balik menyalahkan dan menghakimi saya, Tuhan memang menepati firmanNya: “Marilah kepadaKu engkau yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

 

Faktanya, Tuhan memang tidak pernah meninggalkan saya sendirian. Di tengah pandemi yang mengimpit dan membuat saya tidak bisa ke mana-mana, Tuhan memberi penghiburan dengan jalan tidak biasa. Tuhan juga selalu melindungi saya hingga selalu sehat lahir dan batin.

 

Pada akhirnya, Tuhan sayang saya, Inilah yang terpenting. Jika Tuhan bersama saya, iblis takkan mampu jadi lawanku.

 

 

 

Di masa pandemi, banyak orang yang berubah tapi bukan jadi Kesatria Baja Hitam, hehehe. Maksudnya, watak aslinya jadi kelihatan. Mungkin, ini adalah saat di mana saya paling sering ketemu orang yang beda kelakuan sama omongan. Ngomongnya A, yang dilakukan B. Atau bilang, jangan nganu, dong, tapi, sendirinya nganu. Nah, saya benar-benar belajar untuk memegang omongan sendiri. Soalnya, kena digituin itu keki banget. Oh, ya ... di media sosial juga banyak yang jago gaslighting sekarang. Jadi, beneran, deh ... tahun ini benar-benar tahun menahan godaan untuk berubah dari genuine jadi fake. Apalagi, branding kan penting banget, tuh. Ada juga penulis yang sukses meski omongannya beda sama kelakuan, jangan tanya siapa, pokoknya ada :p

 

 


Keadaan ekonomi yang sulit, tekanan dari lingkungan sendiri, sama sekali nggak ada support dari keluarga, membuat saya benar-benar belajar untuk mengampuni dan memaafkan. Tidak hanya memaafkan orang yang menyalah-nyalahkan saya, tapi, memaafkan diri sendiri yang belum mampu memenuhi ekspektasi orang termasuk orang tua sendiri. Saya juga masih terus belajar memaafkan diri saya di masa lalu, saya yang banyak dihakimi dan disalah-salahkan karena dianggap tidak becus mengurus rumah sampai terkena sakit mental itu.

 

Kata seorang teman, bisa jadi itu bukan karena saya tidak mampu, tapi, standar orang yang ketinggian. Jadi, begitulah ... memaafkan ini adalah proses panjang dan saya masih terus dan terus belajar.  

 

 


Selama ini, saya selalu jaim kalau berdoa. Namun, saya banyak diberkati saran Amanda soal tampil apa adanya di depan Tuhan. Saya pun akhirnya stop jaim dan tampil jujur menyatakan segala perasaan. Saya menangis, saya marah, tapi, pada akhirnya, Tuhan ternyata tidak murka atau memberi hukuman seperti orang-orang yang sebal melihat saya marah atau menangis.

 

Dari sini, saya mulai berani mengekspresikan emosi saya dan segala ketidaknyamanan yang saya alami. Herannya, stres jauh berkurang!


 

Banyak orang tidak menyukai kejujuran. Saya pun kerap dibenci karena ngomong apa adanya. Akan tetapi, saya belajar untuk tidak diam dan bungkam. Untuk beberapa hal krusial, saya termasuk lantang bersuara. Apalagi soal menulis dan kampanye-kampanye kekerasan, rape culture, paham misoginis, glorifikasi lelaki pengidap penyakit mental sebagai sosok yang pantas dibucinkan dalam cerita-cerita fiksi. Penulis itu punya tanggung jawab. Saya sangat serius menyuarakan ini.

 

Saya nggak mau sok bijak. Saya hanya ingin mengatakan kejujuran, meski itu tidak enak didengar.

 

 

 


Buat saya yang sejak lahir didikte dan mengalami berbagai modus gaslighting, mengambil keputusan itu susah. Saya sering takut salah, takut diomeli, diejek, dan disalahkan. Akan tetapi, saya belajar bahwa konsekuensi keputusan adalah bagian tanggungan saya. Namun, tidak dengan perasaan orang dan pendapat orang.

Untuk orang yang biasa dihukum dengan doktrin agar selalu menyesal ini adalah hal yang sulit. Namun, saya tetap harus belajar karena saya ingin hidup tanpa menanggung banyak penyesalan karena mengecewakan atau tak selalu mampu menyenangkan orang lain.

 

 


 

Rasanya, ini adalah pelajaran yang semua orang pelajari. Dengan banyaknya kasus Covid 19, banyaknya kabar orang meninggal, sakit, ini membuat saya lebih bersyukur atas kesehatan dan berusaha menjaga kesehatan. Semoga 2021 juga kita diberkati dengan kesehatan, ya ^ ^

 

Demikianlah 7 hal yang saya pelajari selama tahun 2020. Pengalaman saya mungkin berbeda dengan pengalaman kalian. Namun, saya harap kita semua telah menyelesaikan 2020 dengan baik ^ ^

 

Selamat tinggal tahun 2020. Terima kasih atas semua waktu beserta segenap suka duka di tahun ini.

 

 


 

Penulis:

Putu Felisia

Novelis dan blogger

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar