Jumat, 02 Agustus 2019

Menghadapi Kekecewaan dengan Rasa Syukur


Ada banyak alasan untuk kecewa dengan kehidupan. Keluarga yang tidak sempurna, keuangan yang pas-pasan atau bahkan kurang, percintaan yang tidak menyenangkan hati, dan lain-lain.
Karena itu, banyak orang mempertanyakan eksistensi hidup di dunia. Mengapa harus terus hidup sementara jiwa ini sudah lelah?
Saat inilah, orang mulai mengeluh dan menyalahkan segala sesuatu di sekitar. Mulai keluarga, pekerjaan, bahkan negara.


Rasanya bukan suatu kebetulan, minggu ini saya tergerak untuk menuliskan sesuatu tentang rasa syukur dan menghargai hidup. Kemarin, seorang curhat seorang penulis populer mendadak ramai. Walau buku-buku beliau sudah terkenal, rupanya beliau ini masih kecewa dengan profesi penulis bahkan ingin pindah kewarganegaraan.

Alih-alih menghakimi, saya malah ingat masa lalu yang kelam. Saya pun pernah menuliskan duka saya menjadi penulis dalam artikel ini:


Faktanya, saya juga pernah kecewa dengan apa yang saya miliki. Saya tidak suka talenta menulis yang diberikan Tuhan. Saya ingin bekerja apapun, kecuali menulis. Saya juga sempat tergoda bekerja sebagai pemijat spa di luar negeri, tergiur dengan penghasilan yang konon bisa membeli rumah, tanah, dan mobil pribadi itu.

Kalau saja waktu itu saya ada biaya berangkat, mungkin sekarang saya sudah berada di India atau Arab Saudi, mijitin orang, bukannya ngisi blog kayak gini -_-

Berkali-kali saya kecewa dan mempertanyakan, kenapa Tuhan tidak memberikan pekerjaan yang lebih membanggakan? Kenapa saya tidak bekerja di kantor seperti orang lain? Atau kenapa saya tidak memiliki warung atau usaha catering yang memperlihatkan dengan jelas kalau saya ini bekerja, bukan nganggur.

Bahkan tetangga saja risih dan kalau ketemu selalu nanya, “Kerja di mana sekarang?”

Intinya, saya pernah dalam fase benar-benar kecewa sama kehidupan kepenulisan saya. Saya bahkan ingin berhenti menjadi penulis lalu mencari profesi yang dihargai orang. Boro-boro bersyukur, saya malah marah dengan diri saya sendiri yang tidak mampu memenuhi harapan orang-orang di sekitar.

Sayangnya, sampai sekarang, profesi itu belum berhasil saya dapatkan. Saya pernah mencoba bisnis makanan kecil-kecilan. Saya bangun subuh, memasak, memastikan barang dikirim ke toko/warung. Hasilnya adalah: banyak barang retur dan saya jadi frustasi ketika melihat makanan itu akhirnya menjadi penghuni tong sampah.

Saya pun pernah mencoba menjahit baju. Ongkos menjahit memang lumayan, tapi karena saya tidak terlalu mahir, saya hanya bisa menyelesaikan 1 stel pakaian dalam waktu minimal seminggu. Pernah juga tidak selesai dalam waktu sebulan-3 bulan. Jangan ditanya keadaan keuangan saya waktu itu. Menyedihkan sekali pokoknya.

Sayangnya, meski Mbak Dewi Lestari dan Mbak Alberthiene Endah masih menyemangati saya waktu itu dan memberi tahu banyak peluang dalam dunia kepenulisan, saya masih kecewa sama profesi penulis. Saya malu disebut pengangguran dan dianggap beban keluarga.

Berkali-kali jatuh bangun seperti itu, herannya saya akhirnya balik lagi ke dunia kepenulisan. Ketika ini, saya sudah ada dalam titik pasrah dan memasrahkan semua ke Tuhan saja. Saya kerjakan apa yang bisa saya kerjakan. Kalau memang nggak bisa, nggak usah maksa. Bikin capek.

Puji Tuhan, sampai sekarang ternyata keuangan saya berangsur-angsur membaik. Saya sendiri heran kalau ada orang bilang saya ini produktif. Padahal, saya hanya melakukan yang tadi: kerjakan yang bisa, nggak maksain yang nggak bisa. Lalu saya pun mulai sadar kalau ternyata apa yang Tuhan kasih ke saya itu tidak ada yang sia-sia. Saya bahagia saya bisa menulis dan berbagi apa yang saya tahu dengan pembaca. Hal ini sudah sangat tak ternilai bagi diri saya, lebih dari nilai materi.

Baru-baru ini, Pak Paul Suryanto pernah bilang, “Kita hidup bukan dari pekerjaan, tapi dari berkat Tuhan.” Tak lama berselang, Pak Agus—Gembala Komsel saya juga bilang, “Password untuk masuk ke hadirat Tuhan itu adalah (rasa) SYUKUR.” Saya semakin sadar bahwa dulu saya itu kurang banget bersyukurnya. Tanpa rasa syukur itu, saya semakin terpengaruh kata-kata orang dan malah membuat saya semakin memaksakan diri mencapai hal yang sebenarnya tidak perlu saya capai.

Kenyataannya, manusia memang tidak hidup dari roti saja. Namun, juga dari setiap firman yang keluar dari mulut-Nya. Ketika kita lebih menghargai rasa khawatir akan makanan atau pendapat orang, tanpa sadar kita sedang menjadikan pekerjaan dan pendapat orang sebagai ‘berhala’. Kalau hidup jadi kacau, ya … jangan heran. Tuhan kan memang membenci penyembahan berhala.

Sampai sekarang pun, saya masih harus belajar. Kalau kita tidak menghargai hidup dan apa yang diberikan Tuhan, kita akan cepat merasa lelah. Sebaliknya, jika tiap hari kita sadar: napas hidup, kesehatan, makanan, minuman, air, kehadiran orang-orang yang kita sayangi, sinar matahari yang cerah, air yang segar untuk mandi, semua yang ada itu bisa terlihat jelas. Dan pada akhirnya, damai sejahtera itu akan datang sendiri.

Kehidupan itu berproses. Apa yang saya bagikan adalah apa yang pernah saya alami dan rasakan, tidak bermaksud menghakimi atau membanding-bandingkan. Jika hidup Anda dalam pergumulan dan masalah, saya berdoa semoga Tuhan melawat dan memulihkan hidup Anda semua.

Semoga kita semua berbahagia.
Gambar dari situs berbagi Pixabay.com

P.S.: Doa untuk Jakarta, Banten, dan wilayah-wilayah lain di Indonesia. Semoga Tuhan menjauhkan kita dari bencana. Amiiin.

Penulis:
Putu Felisia
Novelis dan blogger.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar