Minggu, 16 Desember 2018

Perjuangan Mencari Natal (Kelahiran)


Tahun ini adalah Natal ketiga yang saya rayakan. Namun, saya tidak memaksudkan Natal ini sebagai momentum agama. Setiap Natal yang datang, saya merasa ada bagian-bagian diri saya yang kembali utuh. Diri saya yang pernah terpecah belah dan hancur, dikembalikan sesuai hakikat kelahiran yang sebenar-benarnya, yakni untuk memuliakan Tuhan.

Sebelum saya sakit, saya sempat merenungkan, apakah sebenarnya yang saya inginkan dalam kehidupan saya ini? Saya merekap semua hal-hal yang saya lakukan dari kecil. Saya merenungkan kembali, keputusan-keputusan mana yang saya ambil dengan memikirkan diri saya sendiri. Hasilnya: 80% keputusan saya di masa lalu diambil berdasarkan PERTIMBANGAN ORANG LAIN.


Keputusan sekolah.

Keputusan menikah.

Keputusan berhenti kuliah.

Semua.

Meski pada akhirnya, orang-orang akan tetap membalikkan kesalahan ke saya. Karena saya yang mengambil keputusan, maka sayalah yang salah. Bukan orang lain.

Bagi orang lain di sekitar saya, saya adalah sumber kesalahan. Bahkan ipar saya terang-terangan membandingkan saya dengan orang Farisi setelah saya memutuskan ikut Tuhan. Setiap hari, saya selalu dihantui rasa bersalah. Terlebih karena keadaan ekonomi Mama dan Papa semakin parah belakangan ini. Semua langsung mengarahkan kesalahan pada saya yang harusnya sudah tidak memberatkan orang tua.

Anak yang sudah menikah harusnya pergi dari rumah.

Harusnya anak yang sudah dewasa yang menanggung orang tuanya.

Begitulah kata-kata yang sering diucapkan.

"Saya siapa?"
sumber: Pixabay.


Akhir-akhir ini, saat pergumulan saya sudah mendekati titik toleransi yang saya terima, Puji Tuhan, Tuhan mengirimkan banyak petunjuk-petunjuk agar saya tidak tersesat lagi. Saya bersyukur, sahabat saya Dhiko Surya Perdana juga selalu ada ketika saya butuh pertimbangan waras. Dari Dhiko, saya kembali meneliti kondisi saya sendiri. Dengan menggunakan data-data dan penelitian-penelitian psikologi yang sudah dipublikasikan di internet, saya akhirnya menemukan banyak hal dalam kehidupan saya di masa lalu. Hal-hal inilah yang menumbuhkan akar-akar kepahitan dalam diri saya.
Pada akhirnya, saya menemukan semua pergumulan saya hanya berasal dari satu sumber: OMONGAN ORANG.

Jujur, saya sangat takut mempublikasikan hal ini. Saya takut, semua orang di sekeliling saya akan kembali menghakimi. Saya takut, Mama dan Papa menyebut saya anak durhaka. Saya takut, saudara-saudara Mama mengomeli dan menyindir-nyindir saya lagi. Saya takut, mertua kembali menyebarkan kejelekan saya ke mana-mana. Saya takut, suami benar-benar menceraikan saya. Saya juga takut, anak-anak akan menganggap mama mereka tidak waras dan membenci saya.

Saya takut.

Takut sekali.

Tapi saya tahu, keterdiaman saya tidak akan menghasilkan apa-apa. Saya tahu, masih banyak perempuan-perempuan lain di sini, perempuan-perempuan yang masih terkurung dalam lingkaran penghakiman orang lain, yang paling menyakitkan … dari keluarga mereka sendiri.

Ya, keluarga sendiri. Entah itu orang tua. Entah itu suami. Entah itu ipar-ipar, paman-paman, bibi-bibi, dan seterusnya. Orang-orang yang tanpa sadar merongrong hingga seseorang kehilangan identitas. Seperti saya yang dulu tidak tahu saya siapa setelah suami bilang, “Kamu beban hidupku,” kelurga suami mengecap, “Kamu nggak becus urus anak,” paman dan bibi-bibi bilang, "Gitu aja nggak tahan," dan orang tua sendiri mengatakan kalau, “Nasibku jelek punya anak begini.”

Di saat saya sadar, saya tidak diinginkan sebagai istri, sebagai ibu, atau sebagai anak, saat itulah saya hancur, sehancur-hancurnya.

Hari ini, saya membaca sebuah artikel dari VICE. Jawaban terakhir dari semua yang saya alami terbongkar sudah. ECHOISME. Hati saya nelangsa seketika, mengingat apa yang saya lakukan selama ini tanpa sadar hanyalah proyeksi-proyeksi dari keinginan-keinginan dan luka-luka batin dari orang-orang di sekeliling saya.

Saya kehilangan identitas.

Saya tidak tahu siapa diri saya.

sumber VICE


Itu yang terjadi saat saya sakit kemarin.

Artikel mengenai Echoisme bisa dibaca di sini: Kenali Echoisme

Saya diberikan obat Arkine, yang setelah saya google merupakan obat untuk Parkinson (tolong koreksi jika saya salah), saya diberikan obat-obatan untuk penyakit skizofrenia. Saya juga divonis paranoid. Psikiater saya bilang, saya tidak mungkin sembuh seumur hidup saya.

Suami kemudian memulangkan saya. Seorang kerabat dengan sangat menyindir bilang, “Kalau nitip babi saja orang kasih uang buat memelihara.” Semua penghakiman bertubi-tubi mulai datang buat saya. Mama yang paling sering kena serang. Semua mengatakan kalau Mama punya anak nggak berguna. Mengecewakan.

sumber: scienceofpeople
Tipe-tipe orang beracun bisa dibaca di sini: 7 Types of Toxic People

Yang saya syukuri, dalam lubang hitam tanpa dasar itu, Tuhanlah yang datang sendiri membela saya. Dengan cara-Nya yang ajaib, Tuhan memberikan pemulihan dan kesembuhan pada saya. Untuk yang ini, saya sangat amat teramat bersyukur, karena tanpa mujizat-Nya, saya pasti sudah bunuh diri dengan menabrakkan diri ke depan truk.

Catatan ini saya buat menjelang Natal 2018. Sebuah pengingat sekaligus kelepasan bagi saya. Jujur, saya adalah manusia biasa. Kadang, hati saya sakit mengingat sampai sekarang pun penghakiman orang tidak pernah berhenti buat saya. Saya tidak tahu, kapankah mereka bisa melihat kebaikan, alih-alih keburukan saya. Dan sayangnya, tanpa kuasa Tuhan dan lawatan Tuhan di hati mereka … saya hanya bisa menemukan satu kata untuk pertanyaan itu: MUSTAHIL.

Saya tidak menyangkal, kehidupan orang-orang lain banyak yang menderita, bahkan memiliki rumah tangga cacat. Mereka sangat BERHAK marah. Tapi mereka sangat TIDAK BERHAK melampiaskan semua kemarahan mereka KEPADA SAYA.

Saya harus belajar bertanggung jawab atas perasaan dan diri saya sendiri. Saya tidak memiliki tanggung jawab atas kenyamanan dan perasaan orang lain. Dengan begini, barulah saya dapat berdamai total dengan diri saya dan menerima diri saya sesuai apa yang dipandang oleh Tuhan.

THE POWER OF MASA BODO.

Mungkin terasa kejam, tapi hanya ini jalan satu-satunya. Tidak ada jalan lain.
Kawan, jika ada yang saat ini masih terjebak dalam rantai penghakiman dan kebencian, saya mengajak kawan-kawan untuk mulai mencari diri sendiri. Jangan sampai, kawan-kawan memiliki nasib sama dengan saya. Hilang identitas hingga kemudian divonis harus berobat seumur hidup.

Kadangkala kita tidak sadar, sakit penyakit kita ditanam sendiri oleh orang-orang di sekeliling kita. Dan pada akhirnya pun, mereka tetap akan melimpahkan semua kesalahan pada diri kita tanpa rasa empati sedikit pun.

Saya berdoa, semoga kawan yang kini sadar, bisa segera pulih dan bebas dari racun lingkungan sekitar.

Kawan, kamu tidak sendiri!

Berjuanglah mencari Natal-mu!

Terima kasih saya untuk:

YESUS KRISTUS

Dhiko Surya Perdana (Velvet Sparks Excellence)
Bung Joss
Ellen Kristi (Komunitas Charlotte Mason Indonesia)
Giez Lantu
Yehezkiel Dedi.
Lenny Kusmana
Pak Agus.
Dewi Anita.
Bambang Irwanto
Dian Kristiani
Dyah Rinni
Donna Widjajanto
Esti Budihabsari

Ally Jane Parker, Aiu Ahra, Stefani Jovita, Elsa Alina, Hanny Dewanti.
Teman-teman Komsel.
Teman-teman KANOI.
Teman-teman penulis.
Teman-teman yang tidak membenci saya.

Special Thanks for: 
Pinky Xu Lun.
Karenamu, aku berani menceritakan ini.


#2019MulaiHidupBaru





1 komentar:

  1. Setuju mba, kadang kita terlalu memedulikan memedulikan omongan orang sampai kita sakit sendiri..kudu masa bodo aja sekarang..

    BalasHapus