Selasa, 27 November 2018

Self Forgiveness Itu Perlu!


Pelajaran tentang memaafkan bukanlah hal yang mudah. Setiap orang memiliki pergumulan dan hantu masa lalu. Sering kali, kita bahkan tidak sadar apakah kita sudah berdamai dengan diri sendiri atau belum.
Sudahkah Anda memaafkan diri sendiri?
Foto: Pixabay.


Pada dasarnya, semua orang memiliki sifat sulit memaafkan. Karena ini pula muncul ungkapan: forgiven but not forgotten. Jadi, meski mulut mengatakan sudah memaafkan, bisa jadi dalam hati masih ada kemarahan yang berkumpul dan siap-siap untuk erupsi.

Yang lebih buruk, sifat sulit memaafkan ini juga berlaku untuk diri sendiri. Tak jarang, kita semua memiliki kebiasaan menyalahkan diri sendiri secara terus menerus. Terus menyalahkan diri sendiri ini lama-kelamaan bisa membentuk karakter rendah diri dan menimbulkan perasaan depresi.

Farah (bukan nama sebenarnya), seorang penyintas depresi mengaku kalau sifat menghakimi diri sendiri ini sudah timbul sedari dia kecil. Dia dibesarkan dalam lingkungan penuh tekanan. Ibu dan ayahnya menuntut Farah menjadi sempurna, dan kerap membanding-bandingkan Farah dengan anak lain. Di sekolah pun, Farah kerap diejek, dirundung, dan dipermainkan.

Jadi, sedari kecil, Farah kerap disalahkan dan menanggung kesalahan yang tidak dia perbuat. Di rumah, dia harus bertanggung jawab memperbaiki kesalahan saudaranya. Di sekolah, Farah ikut dihukum saat teman-teman sekelasnya ribut.

Baik di rumah, maupun di sekolah, Farah sudah biasa dimarahi dan disalahkan. Mulanya, Farah merasa ini semua tidak adil. Dia memberontak dan melawan. Tapi apa daya, semakin Farah memberontak dan melawan, maka penindasan lebih parah akan dia alami.

"Semua salahmu!"
Foto: Pixabay.

Ketika menikah pun, Farah kembali dituntut jadi sempurna. Kali ini, kesalahan Farah menjadi bahan gosip keluarga besar dan diadukan ke suaminya. Sayangnya, sekuat apapun Farah mencoba, Farah tidak dapat menjadi sempurna sesuai apa yang keluarga besarnya harapkan. Setiap kali suaminya selesai berbicara dengan saudaranya, sang suami akan mengomeli Farah. Terus menerus begitu, hingga Farah merasa kalau di manapun dia berada, dia akan tetap orang yang buruk.

Farah pun menjadi sangat minder dan selalu menaruh curiga terhadap semua orang. Dia takut membuat kesalahan lalu disalahkan. Sedang mau mengeluh pada orang tua kandungnya pun, dia pasti dimarahi. Dia pun terus menerus menyalahkan diri sendiri karena tidak sanggup menyamai kesempurnaan orang-orang di sekitar. Dia merasa buruk tiap kali gagal melakukan sesuatu. Dia merasa tidak berharga.

Dan puncaknya, Farah menjadi depresi dan membenci dirinya sendiri. Dia mengutuk keberadaannya di dunia ini. Dia ingin menghilang, karena toh tak ada gunanya dia ada di dunia yang selalu menyalahkannya.
"Apakah saya layak hidup di dunia ini?'
Foto: Pixabay.

Seorang psikolog mengatakan kalau ada tipe orang yang selalu menjadi keset. Secara tak sadar, sikap dan tingkah laku orang ini memancing orang lain untuk segera menginjak-injak. Farah adalah tipe orang yang seperti itu. Karakter rendah diri dan kebiasaan menyalahkan diri sendiri menjadi pemicu orang lain untuk segera menindas Farah.

Lalu apa yang harus dilakukan?

Faktanya, lingkungan tidak akan berubah. Sikap orang-orang akan tetap sama. Kita tidak bisa mengubah sifat orang. Kita pun tidak bisa mengharapkan perlakuan orang akan berbeda. Para pendakwa akan tetap ada. Para penggosip akan terus bergosip. Dan masyarakat akan terus memiliki standar kesempurnaan menurut ukuran mereka.

Namun, kabar baiknya, kita bisa mengubah sikap dan pemikiran kita. Kita dapat memilih apakah akan terus menerus menghakimi diri sendiri, atau mulai belajar memberikan self forgiveness.

Farah berkata, sejak kecil dia memang tidak disukai karena dia merupakan anak perempuan, bukan anak laki-laki. Namun, memilih kelahiran dan jenis kelamin sendiri bukanlah kuasa Farah. Jadi, Farah belajar untuk memaafkan kelahiran dan keberadaannya. Dari sini, kapabilitas untuk mengampuni hal-hal lain menjadi lebih mudah untuk  Farah lakukan. Farah mulai belajar mengampuni dirinya yang hanya manusia biasa. Dia belajar menerima kalau dirinya tidak mampu menjadi sempurna sesuai standar masyarakat. Setiap kali dia disalahkan, dia akan berkata, “Tidak apa-apa, Farah. Lain kali kita coba dengan lebih baik lagi, ya.”

Dan Farah sadar, Farah tidak akan mampu menjadi seseorang yang diharapkan oleh orang tua, suami, maupun lingkungannya.

Yang bisa dia lakukan hanyalah berusaha menjadi versi terbaik dirinya sendiri.

 Ini tidak mudah dan memerlukan proses panjang. Akan tetapi, hal ini masih mungkin untuk dilakukan. Kita tidak bisa mencegah orang lain mengatakan hal yang menyakiti kita. Namun, kita masih bisa memilih apakah akan mengizinkan diri kita disakiti oleh ucapan itu.

Kritik memang baik, akan tetapi kalau bersifat membangun dan menasihati. Bukan menghancurkan, apalagi membunuh karakter dan citra diri.

Karakter kita masih bisa berubah menjadi lebih baik. Memaafkan diri sendiri adalah awal terbaik untuk memulai perubahan. Kembali, ini bukan sesuatu yang gampang. Namun, dengan bantuan-Nya … kita akan mengingat kalau kita semua ini berharga dan memiliki tujuan masing-masing di dunia.

Menjadi versi terbaik diri sendiri adalah pilihan terbaik.
Karena hidup hanya sekali. Jangan sampai ada penyesalan!
Foto: Pixabay


Tidak ada komentar:

Posting Komentar