Rabu, 17 Januari 2018

Ketika Terbangun dari Mimpi Bernama Pernikahan

Mula-mula, hanya sebatas basa-basi.
Lalu perlahan-lahan… namamu akan segera terhapus dari ruang hati.
Kau berubah,
Dari seorang istri menjadi sebuah tanggung jawab,
Lalu menjadi satu beban menjengkelkan dalam hidupnya.
Keluarganya akan memandangmu sambil menahan perasaan,
Entah itu kasihan, atau malah marah dan benci.                                 
Anak-anakmu akan datang dan pergi,
Tidak tahu menahu apa yang terjadi.
Hinaan-hinaan yang menghampiri,
Tidak sebanding dengan satu kenyataan:
Bagaimana kau akan hidup esok hari?

*

Ketika saya membuat status yang menggambarkan betapa riskannya posisi perempuan dalam sebuah pernikahan, apalagi menyinggung kemandirian finansial, biasanya ada saja yang memarahi saya. Yang paling keras bersuara biasanya adalah laki-laki yang sudah merasa “Saya sudah memberi segalanya” dan perempuan-perempuan yang kebetulan memiliki rumah tangga nyaman, bahagia dan sejahtera.

Saya tidak memungkiri, memang ada pernikahan-pernikahan ala dongeng yang happily ever after. Kalau kata orang Bali, Clebingkah batan biu, gumi linggah ajak liu. Di dunia ini ada berbagai-bagai macam orang dengan berbagai macam karakter. Tidak semua orang baik. Tidak semua orang buruk. Jadi, ya… kalau memang anda memiliki rumah tangga luar biasa menyenangkan, itu adalah keberuntungan.

Ya, anda beruntung. Ketika sebagian perempuan lain dicaci maki, dihajar hingga memar-memar, disiksa hingga meninggal dunia, dilecehkan secara seksual, dipaksa berhubungan badan dengan teknik-teknik menyimpang, dan lain-lainnya… anda masih bisa tenang membaca artikel ini.

Pada bulan Maret 2016, Komnas Perempuan mendokumentasikan catatan tahunan kasus kekerasan kerhadap perempuan. Di tahun 2016 lalu, ada 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan personal tertinggi terjadi melalui kekerasan fisik (42%), kekerasan seksual (34%), dan kekerasan psikis (14%), dan sisanya adalah kekerasan ekonomi (sumber: Kompas.com, 7 Maret 2016, penulis: Lutfy Mairizal Putra).

Soal kekerasan ini, lebih jelasnya akan diulas di artikel lain. Kali ini, saya hanya berfokus pada apa yang tadi bikin bapak-bapak dan ibu-ibu emosi.

Kemandirian perempuan (terutama soal finansial).

Begini, Bapak-bapak sekalian. Terutama ibu-ibu sesama perempuan…

Bukannya saya mengajarkan para ibu ini jadi pemberontak, lho… ya. Prinsip saya, saya tidak akan menyuarakan hal yang jauh di luar jangkauan. Singkatnya, saya sendiri pernah mengalami nggak enaknya tercampakkan dari sebuah rumah tangga. Saya pernah mengalami bagaimana sulitnya mencari pekerjaan. Dan hingga kini pun, saya masih harus berjuang untuk mandiri. Kalau saja Tuhan tidak berbaik hati, memberi orang tua yang rela diejek masyarakat untuk mempertahankan saya, bisa dijamin saya bunuh diri karena putus asa, atau tidur ngemper di jalan, mengemis-ngemis atau mati kelaparan. Ini serius, bapak-bapak dan ibu-ibu. Saya nggak mengarang-ngarang.

Faktanya: LOWONGAN PEKERJAAN HANYA DISEDIAKAN UNTUK MEREKA YANG BELUM MENIKAH. ITU PUN DENGAN BATAS MAKSIMAL USIA 25 TAHUN.

Anda akan melihat syarat ini bahkan untuk lowongan kasir gerai-gerai minimarket.

Kalau ngomongin cari kerja karena koneksi, ini pun nggak gampang. Saya pernah memohon-mohon pekerjaan kepada seorang aktivis rumah ibadah yang sangat terkenal kedermawanannya. Kata orang, si ibu ini sangat amat sangat suka menolong orang yang kesusahan. Nah, sebagai orang yang kesusahan, saya pun meminta dengan sangat agar diberi pekerjaan.

Tahu apa jawaban beliau?

“Mohon maaf, saya hanya mau mempekerjakan mereka yang memiliki passion. Saya tahu kalau kamu tidak ada passion di bidang ini. Jadi, maaf. Mungkin kamu lebih cocok di bidang lain.”

Pahit, kan?

Inilah realita, bapak-bapak dan ibu-ibu. Terbangun dari mimpi bernama pernikahan itu memang tidak enak. Terutama bagi perempuan yang selama pernikahan hanya tahu ngemong anak dan melayani suami. Perempuan-perempuan yang hanya bisa hidup di bawah bayang-bayang suami. Perempuan yang taat pada dogma masyarakat bahwa perempuan haruslah berputar di urusan dapur-sumur-kasur saja.

Tapi masalahnya, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Saya pun dulu tidak pernah membayangkan akan mengalami depresi lalu dikembalikan ke rumah orang tua (tolong jangan tanya udah resmi atau tidak cerainya, ya! *tonjok nih* :v).

Ada baiknya sedia payung sebelum hujan, bukan? Jadi, kalau sekarang bapak-bapak dan ibu-ibu masih ada dalam sebuah rumah tangga yang stabil, ada baiknya mendorong para ibu untuk mandiri. Bapak-bapak bisa mengupayakan ibu-ibu bisa kursus sesuai minat dan bakat. Ibu-ibu pun bisa memulai merintis usaha. Walau kecil-kecilan, yang penting halal. Terus para ibu jangan lupa, tetap hormati suami sebagai kepala rumah tangga, ya… :v hahaha… gimana pun, suami yang bertanggung jawab dan sayang istri itu berkat kehidupan ^^v

Doa saya untuk para perempuan yang kini sedang bergumul. Doa saya untuk para perempuan yang masih berusaha bertahan hidup. Doa saya untuk perempuan-perempuan yang ditinggalkan dan terkucilkan.

Dear teman-teman tersayang, ingatlah kalau Tuhan itu ada. Tuhan tidak akan meninggalkan kita sebagai yatim piatu. Dunia mungkin menganggap kita tidak berguna, keluarga dan lingkungan mungkin menganggap kita sebagai beban. Tapi Tuhan menyayangi kita. Selama Tuhan masih memberi napas, berarti Tuhan masih memberi kesempatan pada kita. Tinggal kita yang berdoa dan beriktiar :)
*

 gambar dari pixabay.com

Napas hujan adalah jalan kecil menuju rumah,
Di atas jalan, ada aku yang menjejaki langkah kaki-Mu.
Kehangatan hari kemarin tersaji manis dalam foto-foto lawas.
Kau memelukku sekokoh pohon besar menghangatkan.
“Sekarang sedang hujan, hati-hatilah di jalan,”
Kuingat kata-kata ini,
“Tak peduli sekuat apapun angin bertiup,
Itu takkan menghalau berkat ini pergi.
Setelah hujan akan terbuka jalan.”
Persis seperti tahun itu,
Menyaksikan matahari mulai terbit.
Kau memegang tanganku, melewati embun,
Kau katakan kalau harapan itu tepat berada di ujung gelapnya malam….

陪我看日出 dinyanyikan oleh Joi Chua (蔡淳佳)





God bless you :)

Putu Felisia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar