Selasa, 03 Oktober 2017

Offline vs Online : Daud VS Goliath?

Tak dapat dipungkiri, beberapa tahun terakhir ini… teknologi telah berkembang dengan sangat cepat. Banyak aplikasi bermunculan. Toko online, angkutan umum online, semua aplikasi yang sangat memudahkan dalam hal berbelanja atau menggunakan jasa orang.

Begitupun dalam dunia kepenulisan. Setelah hadirnya e-book alias buku elektronik, beberapa aplikasi maupun platform hadir menghadirkan cerita-cerita yang dapat dibaca secara GRATIS. Ya, cukup dengan mengunduh aplikasinya, mendaftar, dan voila… dirimu bisa membaca semua cerita yang tersedia tanpa mengeluarkan biaya, kecuali untuk kuota internet.


Kabar baiknya, aplikasi maupun platform ini sangat mendukung orang-orang menyalurkan hobi menulis. Tak perlu memikirkan seleksi ketat, bahkan kerapian dan logika, asalkan sudah punya akun, semua bebas mengunggah cerita apapun yang mereka mau.

Wattpad, salah satu situs terbesar, memiliki format seperti buku hingga pembaca merasa nyaman dalam membaca. Yang lebih menarik lagi, ada fitur khusus sehingga kita bisa memasukkan link youtube, atau foto-foto, sehingga cerita kita lebih menarik lagi untuk dibaca. Sungguh mempermudah orang untuk menulis dan membaca, bukan?

Sayangnya, perkembangan masif dari situs-situs gratis ini akhirnya membuat pembaca semakin lama semakin beralih dari buku konvensional ke bacaan digital. Dunia kepenulisan memulai era digital. Yang artinya, hal ini menggusur para penulis, penerbit, dan toko buku konvensional.

Beberapa toko buku besar akhirnya gulung tikar. Harga buku terjun bebas. Obral buku terjadi di mana-mana. Sayangnya, tidak diimbangi dengan naiknya minat baca buku fisik. Hal ini akhirnya membuat penerbit lebih selektif lagi dalam memilih naskah. Lagi-lagi disayangkan, yang jadi acuan kemudian bukanlah kualitas. Tapi popularitas.

Genre wattpadlit pun mulai dikenal di Indonesia. Kata JUTAAN VIEW seolah menjadi magnet yang mampu menarik pembaca. Para penerbit berlomba-lomba meminang penulis yang sudah beken di wattpad. Bahkan tanpa malu, tahun ini sebuah penerbit telah berani menampilkan persyaratan ‘minimal dibaca satu juta view’ di syarat penerimaan naskah.

Dari hanya riset dan membuat naskah sebaik-baiknya, kini penulis diharuskan mengemas karya mereka semenarik mungkin. Dari membuat cover, mengedit, hingga memberi kata-kata mutiara dan rajin minta vomments ke mana-mana. Hal ini juga dibarengi dengan promosi besar-besaran bahkan ketika cerita itu mulai ditulis. Tentu dengan harapan, bakalan ada banyak pembaca. Syukur-syukur memenuhi persyaratan minimal satu juta view itu.

Di sini mulai terlihat kalau persaingan yang terjadi adalah persaingan kemasan versus kemasan. Popularitas versus kualitas. Mengenai apakah ini persaingan yang fair, saya tidak berani banyak bicara. Yang jelas, sejak wattpadlit mulai marak, saya sangat mempertanyakan: apakah saat ini editing bahkan tidak diperlukan?

Di luar cerita wattpad yang seringkali berkutat seputar cinta-cintaan CEO perfect, CEO playboy tobat bertemu gadis miskin polos. Atau bad boy teenlit ketemu cewek yang biasa-biasa saja… seolah-olah teknik kepenulisan, logika dan segala EBI hanya omong kosong belaka. Lebih penting menebar banyak adegan romantis, atau mengeksploitasi seks secara vulgar dan blak-blakan.

Offline VS Online, apakah seperti Daud melawan Goliath?

Seperti diketahui, hingga kini semakin banyak lagi platform dan aplikasi online. Yang sayangnya, semakin mengukuhkan kalau mau tulisanmu (kemungkinan) laku, maka yang harus dilakukan adalah menambah followers, mendapatkan banyak like, dan lain-lain. Dan hal ini, secara otomatis menambah panjang tugas penulis. Tugas yang sayangnya berbanding terbalik dengan hasil materi. Harapan sejahtera dari menulis pun semakin menjadi angan. Ya, gimana mau sejahtera, wong judulnya kerja bakti. Nulis capek-capek buat dibaca gratisan. Kalau sudah jutaan baru ada harapan terbit. Itu pun belum tentu best seller.

Hingga kini, belum ada platform yang benar-benar bisa mendukung penulis profesional secara total. 

Beberapa platform memberikan bayaran sangat rendah. Ada yang menerapkan sistem koin, yang sayangnya tidak disukai pembaca. Ayolah, yang lain gratis, kok yang ini bayar?


Dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih di masa depan. Bukan tidak mungkin kalau banyak penulis memilih banting setir. Karena penghargaan terhadap penulis, baik segi materi atau moril, sangat kurang. Karena itu, adalah sebuah PR besar bagi kita semua untuk mencari solusi yang tepat untuk mengimbangi Daud VS Goliath ini agar tak berubah jadi Jatayu VS Rahwana yang menewaskan Jatayu.

Caranya bagaimana? Mungkin dengan membuat platform tandingan, mendukung penjualan e-book penulis, memberi fasilitas tim marketing yang wahid, atau menghadirkan tim ilustrator dan desainer cover yang siap membuatkan poster, banner, atau mungkin menjadikan novel menjadi sebuah webtoon yang menarik.
Akhir kata, saya berharap sekali dunia literasi Indonesia bisa berkembang tidak hanya secara kualitas dan popularitas. Namun sungguh-sungguh menanamkan prinsip kalau penulis adalah penggerak peradaban. Hingga setiap penulis memiliki tanggung jawab moral atas semua cerita yang dia tulis. Dan pembaca pun sadar kalau profesi penulis itu butuh penghargaan. Bukan zamannya lagi jadi silent reader yang mengandalkan gratisan.

Astungkara…
Foto: Pixabay

Tidak ada komentar:

Posting Komentar