Sabtu, 21 Oktober 2017

Mengapa Saya Memilih Menjadi Kristen (Kesaksian bahwa Kuasa Gelap Itu Ada)

Hari-hari semakin jahat. Orang-orang semakin tidak berhati. Tingkat depresi meninggi. Namun tidak banyak yang tahu, kalau semua masalah bisa jadi disebabkan oleh musuh yang tidak terlihat mata. Siapakah mereka?

11 Februari lalu, bertepatan dengan hari ulang tahun saya, saya membuat sebuah keputusan besar. Setelah lama bergumul, saya akhirnya dengan mantap memberi diri dibaptis. Memang tidak mudah. Banyak pertimbangan yang mulanya menghalangi saya. Terutama dalam hal waktu. Apakah hal ini tidak terlalu cepat? Begitu saya berpikir dahulu. Namun akhirnya, seperti seorang sida-sida yang bertemu seorang murid Yesus di jalan, saya pun akhirnya memutuskan: saya akan lahir baru di hari ulang tahun saya.

 Menerima Yesus sebagai juru selamat (via Lenny Kusmana).

Sejak itu, kehidupan saya berubah drastis. Saya melihat kebaikan Tuhan dalam setiap hari. Kasih Tuhan itu nyata. Dan Tuhan itu hidup. Namun bukan hal itu yang akan saya bahas sekarang. Sekarang saya akan membuka lembaran hidup terkelam saya, hanya untuk menegaskan kalau kuasa gelap itu ada dan nyata.

Semoga Tuhan selalu melindungi kita semua.

Sebenarnya saya ingin menyimpan kisah ini untuk sisa hidup saya. Ini bukanlah pengalaman yang membanggakan, sungguh. Alih-alih bisa hidup bahagia ala Bella Swan setelah jadi vampir, hidup saya kacau balau setelah jatuh dalam perangkap si jahat. Tentu cara kerjanya halus dan memikat. Karena itu, tak heran banyak orang bisa langsung tergoda dan tertipu.

Bagi sebagian besar orang, mungkin kuasa kegelapan itu terlihat keren. Belakangan ini, film Pengabdi Setan laris manis di bioskop. Sebelumnya, ada seorang penulis jadi tenar setelah menjual kisah pergaulannya dengan hantu-hantu. Banyak orang berpikir kalau dunia sebelah itu menakjubkan. Siapa yang tidak kagum dengan orang yang bisa lihat makhluk sebelah berkeliaran? Siapa yang tidak takjub melihat orang bisa meramal, menyembuhkan orang sakit, dan lain-lain?

Meski pada dasarnya, iblis memang adalah raja penipu. Segala hal yang dia perlihatkan dari awal itu dalamnya busuk. Dia mengincar kelemahan kita untuk dia serang habis-habisan. Jika kita menyerah, otomatis … jiwa kita akan menjadi miliknya. Dan lagi-lagi, ini tidak seindah cerita vampir ganteng yang bikin kita jadi cantik, kaya mendadak, dan hidup abadi.

                                                                     Sumber: imgrum.org


Tidak dapat dipungkiri, Bali cukup lekat dengan okultisme.  Dari ilmu hitam hingga kebiasaan ‘menghubungi’ orang mati cukup akrab di sini. Saya pun tidak heran saat diajak berkunjung ke dukun untuk bertanya almarhum nenek minta apa untuk upacara co kong tiknya. Yang pasti, setiap ada masalah … akan diselesaikan secara gaib, dan melibatkan tradisi-tradisi warisan yang dilestarikan hingga sekarang.
Jadi, hidup saya dulu sangat dekat dengan kuasa gelap. Meski terbukti, kuasa gelap itu tidak mendatangkan damai sejahtera, keluarga saya tetap menjalankan tradisi lama. Karena memang, hanya hal itu yang kami ketahui. Kami memegang erat kepercayaan kalau kami memiliki kewajiban menghaturkan persembahan, membakar uang kertas, membuat gedong-gedongan, dan menyembah sesembahan tertentu.

Hubungan saya semakin ‘mesra’ dengan dunia sebelah setelah saya bermimpi mama saya meninggal. Saat itu, timbul ketakutan yang sangat kalau saya akan kehilangan mama. Terlebih lagi, mama sering mengaku mimpi nyasar jauh dan tidak bisa pulang. Mama ketakutan akan meninggal saat tidur. Saya takut akan kehilangan mama. Inilah celah yang kemudian dimanfaatkan iblis untuk masuk dan menggerogoti jiwa saya sedikit demi sedikit.

Seorang teman saya menganjurkan agar menghaturkan sesajen di bawah tempat tidur mama. Saya pun melaksanakannya dengan khidmat. Saya memohon agar siapapun yang mengganggu mama agar tidak mengganggu. Saat itu, dari pikiran saya terlontar kalau saya bersedia menggantikan mama. Yang penting mama tidak mimpi aneh lagi.

Ajaib! Setelah itu, mama memang tidak pernah mimpi nyasar. Saya bersyukur luar biasa, tanpa tahu kalau hadiah itu tidak gratis. Saya menyimpan ‘perjanjian’ ini sendiri. Bahkan ketika saya kemudian sering ketindihan waktu tidur, terutama sekali ketika pemagpag rahinan. Saya bakalan histeris waktu tidur. Keluarga pun jadi cemas. Dan mereka kembali mencari jalan melalui cara magis … kata seorang saudara yang merupakan cenayang, saya disuruh minta maaf di penunggu karang alias tempat pemujaan di rumah (emangnya saya salah apa coba?). Saya kemudian menjadi semakin rajin bersembahyang, haturkan sesajen kemana-mana. Hasilnya … alih-alih berhenti, saya malah semakin rajin histeris.

Saya sudah berharap kalau saya bakal selesai diganggu pas sudah menikah (katanya setan nggak suka orang yang sudah nggak perawan, kepercayaan yang sangat konyol). Saya pun kemudian menikah dan berharap bisa hidup normal. Tapi kenyataannya, yang namanya kuasa gelap tidak pernah lupa. Mereka memang seperti singa yang mengaum-ngaum, siap mencari mangsa untuk ditelan.  Kali ini, serangan mereka punya target baru, siapa lagi kalau bukan suami  dan anak-anak saya tercinta.

Tahun 2012, seorang lelaki menampakkan diri kepada saya (no wonder wujud rohnya tidak jelek sama sekali). Dengan tegas, dia mengatakan ancaman: “Akan kubuat kamu gila hingga suamimu membuangmu. Akan kubuat seluruh keluargamu membencimu, hingga kamu benar-benar sendirian, dan kamu akan … (gombalan yang nggak romantis sama sekali).”

Maksud hati sih nggak percaya, tapi memang sejak itu semua hal terasa kacau. Saya mimpi buruk hampir setiap malam. Waktu bangun tidur, semua makin kacau. Kulit saya terasa terbakar saat terkena sinar matahari. Saya akan mual-mual lalu memuntahkan lendir-lendir kental. Setiap mengantar anak sekolah, sering kali saya menghadapi lalu lintas yang menggila. Sementara anak-anak bertengkar di kursi belakang, saya harus berkonsentrasi menghindari diserempet kanan kiri. Dari mantra ini dan itu terlontar semua. Saya capek, emosi saya terkuras. Tapi perjuangan belumlah selesai. Ancaman pembunuhan buat suami bikin saya tidak bisa tidur sebelum suami pulang. Anak bungsu saya kerap menangis, bahkan suatu hari jelang tengah malam, dia minta keluar rumah karena lihat papanya di depan pintu rumah (padahal kenyataannya tidak ada siapa-siapa).

Saya pernah mengonsumsi kopi hingga 12 gelas sehari karena takut tidur. Hidung saya terbiasa menghirup asap dupa. Tapi tentu saja, saya tidak berani menceritakan ini. Bahkan psikiater memvonis saya skizofrenia karena melihat ilusi (katanya).

Intinya, dengan kehidupan spiritual sebobrok itu saya harus menghadapi tanggung jawab kehidupan nyata: bebersih rumah, mengurus makanan, mengantar anak-anak, mengajar anak-anak. Dan tentu saja, semuanya tidak ada yang beres. Keluarga bilang saya pemalas karena rumah tidak pernah bersih. Nilai anak-anak anjlok dan mereka sangat bermasalah. Semua itu kemudian bermuara ke satu kesimpulan: saya istri dan ibu yang buruk karena tidak mampu melayani suami dan anak-anak.

Singkat cerita, kuasa maut itu betul-betul menyeret saya masuk dalam kegelapan setelah saya mengikuti sebuah retret meditasi. Saya memaksakan diri ikut retret karena merasa akan mendapatkan cara membebaskan diri dari semua penderitaan. Ya, agama yang saya anut dulu memang mengajarkan kalau meditasi salah satu cara agar mencapai keseimbangan batin. Kalau batin sudah seimbang, masuk rumah sakit jiwa pun nggak masalah (kata guru meditasi waktu itu).

Lagi-lagi, saya salah. Saya memang mendapatkan kegembiraan sesaat. Tapi setelahnya, yang menunggu saya hanyalah penderitaan tiada akhir. Dari ujung ke ujung, dunia terlihat hitam. Saya melihat lelaki itu dalam wujud mengerikan. Beberapa makhluk lain memegangi tangan saya, sementara mereka menyeret saya dan lelaki itu terus meninju kening saya. Dan setiap kali, dia mengingatkan semua kata-kata buruk yang pernah saya dengar.

Saya bersyukur, saya tidak bunuh diri waktu itu. Tapi saya ingat njungkir-njungkir minta tolong kepada segala dewa, saya pernah berlutut di depan guru meditasi karena berpikir dia lebih mumpuni jadi akan mampu membebaskan saya. Saya memohon siapapun untuk menolong saya keluar dari kegelapan itu. Dewa di tanah, di air di udara. Leluhur marga nganu, marga nginu, marga ngunu minta ampun ke sini dan ke situ … saya merasa berdosa dan berharap masuk neraka sekalian, supaya tidak dilempar-lempar ke sana dan ke sini. Saya memohon supaya mati saja. Daripada digantung tidak jelas  begitu. Saya bahkan sempat berpikir mati masih lebih jelas daripada satu kaki di dunia nyata dan satu kaki di kegelapan itu.

Tapi begitulah … seperti yang tertulis: mereka punya mata tapi tidak bisa melihat, punya telinga tapi tidak bisa mendengar.

Saya bersyukur, saya tidak menjadi gila benaran. Tante saya yang biasanya cuek bebek tiba-tiba datang. Dia memeluk saya. Dia menenangkan saya, dan bilang Tuhan Yesus ada bersama saya.

Dan begitulah dahsyatnya nama Yesus! Meski mungkin diucapkan dalam iman sebesar biji sesawi, nama itu sudah mampu menembus segala dunia.  Satu cahaya lembut tampak dalam kegelapan itu. Kehangatan yang seperti matahari. Satu kalimat yang masih saya ingat hingga saat ini adalah:


“Marilah kepada-Ku, engkau yang letih lesu dan berbeban berat…”



Saat itu, saya tahu … Sang Penebus itu memang hidup! DIAlah yang menarik saya dari lembah kekelaman itu. DIA yang berkuasa lebih dari alam maut.

Saya bersyukur, lagu-lagu rohani yang diputar paman saat itu tetap jaga saya. Saya bersyukur, tante saya mengucapkan kalimat bahwa Yesus ada untuk saya. Meski mungkin mereka tidak sadar, itulah satu-satunya hal yang berhasil menolong saya dari pengalaman mengerikan itu.

Simpelnya, inilah alasan yang membuat saya semakin mantap memutuskan menjadi seorang Kristen. Karena hanya Yesus yang menolong saya dari lubang maut itu. Yesus yang menyembuhkan saya. Dan dalam nama Yesus, semua kuasa-kuasa kegelapan langsung patah. Hidup saya yang terbelenggu dibebaskan. 

Sesimpel itu.

Semoga saja, makin banyak yang sadar… kuasa gelap itu jahat. Carilah Tuhan dan segala kebenarannya. Itu jauh lebih baik daripada mendekatkan diri pada kuasa gelap.
Astungkara.

Putu Felisia

5 komentar:

  1. Wuih, ngeri. Sampai segitunya. Gak kebayang bisa seperti itu bertahun-tahun. Semoga kini hidup dalam damai. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih doanya, Mbak :)
      Semoga Tuhan lindungi mbak sekeluarga :)

      Hapus
  2. Wahhh luar biasa mba kesaksiannya. Semoga selalu setia kepada Tuhan. Tuhan memberkati mba 😊😊

    BalasHapus
  3. Wahhh luar biasa mba kesaksiannya. Semoga selalu setia kepada Tuhan. Tuhan memberkati mba 😊😊

    BalasHapus