Senin, 25 September 2017

Bahagia (Sukacita) Itu Pilihan

Jika anda dihadapkan antara dua pilihan: KEBAHAGIAAN dan PENDERITAAN, yang mana yang akan anda pilih?


Hidup adalah penderitaan. Doktrin ini sudah dipercaya dalam keluarga saya secara turun temurun. Sudah dari kecil, saya akrab dengan segala macam kisah tentang penderitaan. Baik itu penderitaan hidup, penderitaan di neraka, penderitaan bereinkarnasi, dan sebagainya.

Intinya, dari kecil saya percaya kalau kita hidup itu buat bayar hutang. Yang namanya bayar hutang, ya pasti kudu nrimo dan legowo. Dalam kehidupan ini, kita harus menabung pahala sebanyak-banyaknya, jadi nggak terlalu susah di neraka nanti. Terus berharap aja kalau kelahiran berikutnya bisa lahir dalam keluarga kaya raya dan bisa hepi-hepi terus, wkwkwk…

Jadi sebenarnya, saya sudah kenyang dijejali segala macam pengertian penderitaan. Oke, bisa dibilang, keluarga saya tipe keluarga Tionghoa kolot yang masih suka bakarin duit-duitan dan percaya kalau hal itu bisa membawa keberuntungan. Meski terlihat konyol, tradisi ini merupakan salah satu bentuk pengharapan kalau keberuntungan bisa membawa kami keluar dari semua masalah. Yah, meski dalam praktiknya, lagi-lagi saya dihadapkan dengan orang-orang yang makin meyakinkan kalau hidup menderita itu sangat wajar. Cuma keberuntungan yang bisa membuat kita keluar dari kehidupan seperti ini. Bebas dari penderitaan dan jadi BAHAGIA, tentunya.

Keluarga saya termasuk pekerja keras. Namanya Orang Tionghoa zaman dulu, biasalah… punya anak banyak terus dititip sana sini. Kalau hoki, ya… diperlakukan baik. Kalau apes, ya… jadi tenaga kerja gratisan. Kerja kuli, makan pas-pasan.

Sayang, kebanyakan dari keluarga memang tumbuh dalam kesengsaraan bahkan kemiskinan. Hingga usia tua, mereka menjadi pribadi yang bisa dibilang workaholic, skeptis, dan antipati. Tidak ada usia pensiun bagi mereka. Bahkan ada jargon ngetop keluarga, “Kita cuma bisa mengaso dalam kuburan”.

Apa yang bisa mereka lakukan dalam kehidupan yang keras seperti itu? Jawabannya hanya satu: mengeluh.
Jadi satu-satunya hiburan bagi keluarga saya, ya… cuma itu. Kumpul-kumpul nyalahin ini. Nyalahin itu. Nyalahin nasib. Nyalahin presiden. Nyalahin micin… :v Ok, Fel. Cukup :v

Saya sendiri kadang kumat 4l4y bin lebaynya, apalagi kalau menjelang dapat tamu bulanan :3 *uhuk*. Ya, gimana lagi… kebiasaan :v Tahunya cuma begitu :v Dan memang diajarin kalau ngomel-ngomel bisa bikin hati lega. Kalau semua emosi negatif disimpan, bisa merusak pikiran. Jadi lebih baik dikeluarkan… ngomel sana-sini. Marah-marah sana-sini.

Saya pernah ngebayangin kalau saya jadi nenek-nenek keriput yang masih potong bambu sambil ngomel-ngomel nanya kapan saya masuk peti mati. Saya juga pernah ngebayangin nanti tua saya akan mati tergeletak di pinggir jalan, sementara mayat saya dikerubungi lalat. Lalu ada yang menemukan dan mayat saya dijadikan bahan praktik mahasiswa kedokteran, soalnya nggak ada yang mengenali.

Ya, kalau menilik definisi hidup adalah penderitaan, maka itu adalah hal yang wajar. Terus lebih wajar lagi habis itu, dibakar di neraka, terus reinkarnasi lagi. Sampai bisa mencapai kesempurnaan dan bebas dari semua penderitaan.

Hiks.

Makanya, saya dulu cuma bisa ketawa kalau orang cerita tentang hukuman di neraka. Biasa aja, kaliii… wajar itu wajar :v Mau ngomongin surga? Hayuk aja. Masalahnya saya belum mati-mati ini. Mau dong masuk surga sekarang juga. Habis hidup udah amburadul gini. Mau banget mati sekarang terus masuk surga sekarang. Kelamaan hidup capek, Gan.

Syukurnya, nih… saya udah bertobat mikirin hal-hal di atas itu. Meski kayaknya nggak mungkin keluar dari lingkaran menyesakkan itu, saya sudah keluar. Sungguh Puji Tuhan. Tanpa saya sadari, keberuntungan yang saya cari-cari ternyata dekat sekali. Jawaban dari semua permasalahan pelik itu ternyata sangat sederhana, yakni hadirat Tuhan.

Saya nggak mau bicara terlalu teoritis, tapi saya bersyukur, menemukan pengharapan baru justru di dalam Tuhan. Dulu, ada malam-malam di mana saya merasa sesak. Saat itu, saya selalu membaca ayat kalau wajar mengalami usia tua, wajar mengalami sakit dan kematian, wajar kalau ditinggalkan orang-orang yang dicintai… Itu sangat tidak menghibur buat saya. Dan saya tidak dapat apa-apa selain stress dan depresi.
Tapi kemudian, saya mendapat kesempatan membaca tentang penyertaan Tuhan dalam hidup. Bagaimana ternyata, sedari awal Tuhan merancangkan sesuatu yang baik. Tuhan tidak pernah memberi roh-roh ketakutan. Dalam Tuhan, ada kepastian.


Inilah pengharapan itu.

Saya memiliki satu quotes favorit dari kakak rohani saya, “Sukacita itu pilihan”. Jadi sebenarnya, setiap dari kita memiliki hak untuk memilih. Permasalahannya adalah, apakah kita mau memilih atau tidak.
Saat ini, saya tidak membicarakan soal agama, atau ajaran manusiawi lain. Yang saya bicarakan hanyalah sebuah masalah yang amat pribadi. Soal hubungan vertikal. Soal sebuah hubungan yang bisa mengubah hidup dan membalikkan keadaan.

Semua ini dulunya saya mulai dalam satu keputusan. Keputusan untuk mencari Tuhan. Di mana pun Dia berada.

Dan pandangan saya pun berubah. Dari memandang hidup sebagai sarana pembayaran hutang, kini saya berpikir kalau hidup adalah sebuah perjuangan dalam mencapai satu kemenangan. Alih-alih nrimo dan legowo nunggu mati lalu masuk surga/neraka, saya memutuskan mengubah arah hidup. Saya memohon, saya memohon, dan saya memohon… hanya agar saya melihat jalan yang bisa membawa saya pada tujuan. Dan tujuan itu tak lain adalah kebahagiaan selama-lamanya. Seperti yang diidam-idamkan banyak orang.

“Pertempuran terus berlangsung. Sama seperti pertempuran dalam hati manusia. Kebaikan melawan kejahatan. Iman memerangi pembisik jahat. Demikianlah dalam kehidupan, tanpa disadari semua manusia melewati medan peperangannya sendiri. Hingga saatnya nanti, semua manusia menerima kemenangan atau kekalahan. Surga atau neraka.
Semua hanya masalah pilihan.”
Warrior of Heaven – Epilog

Peperangan itu masih berlangsung. Mungkin anda kini berada di dalamnya. Mungkin anda sedang dalam pergumulan. Atau mungkin anda masih bertanya-tanya bagaimana melewati peperangan anda.
Jika memang anda sedang mengalami, tidak ada salahnya anda berdiam diri sejenak. Ambil waktu untuk mencari hadirat Tuhan. Bahkan ada yang bilang, Tuhan lebih dekat dari urat lehermu. Jadi… kenapa tidak coba mencari? ;)


Semoga anda menemukan tujuan.
Tuhan memberkati.
Astungkara, Kirang Langkung Ampurayang.

Foto : dari berbagai sumber.


Putu Felisia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar