Minggu, 09 Juli 2017

Afi Nihaya dan Jebakan Popularitas

Saya percaya, Afi adalah anak yang sangat beruntung. Tidak mudah baginya memanjat tingkatan sosial yang dia miliki sekarang. Dia tidak sekadar viral. Tapi namanya menjadi fenomena. Mulai dari dipuja-puji, hingga dinyinyiri orang-orang sok bijaksini.

Nah, siapa remaja yang bisa populer hanya berbekal tulisan? Siapa remaja yang bisa nampang di layar kaca, hingga bertemu presiden hanya bermodal kata-kata? Saya percaya, hingga saat ini, hanya Afi Nihaya yang bisa! *tolong jangan sirik* Orang-orang lain sibuk cari cara buat tenar, dari beli follower, hingga mengajukan laporan hingga 60x yang gagal maning gagal maning. Tapi balik lagi, ketenaran nggak semudah itu jatuh dari langit. Susah nyarinya, brosis!
Lepas dari semua orang kini ramai-ramai berusaha ‘menelanjangi’nya di depan umum, persis Dursasana yang menarik busana Drupadi di salah satu adegan Mahabharata *halah*.

Lepas dari betapa bernafsunya orang-orang ini memergoki Afi mencomot tulisan dari sini dan situ. Terakhir kayaknya malah plagiat video, katanya. Kayaknya kali ini, Afi betul-betul butuh koreksi diri, deh.
Di dunia ini ada begitu banyak orang yang lebih menghargai popularitas daripada integritas. Pada akhirnya, pride (di sini saya menerjemahkan sebagai kebanggaan) menjadi sesuatu yang menggoda sekaligus menjatuhkan.

Faktanya, Afi telah berubah from zero to hero. Di sinilah kemudian diuji apakah seorang Afi dapat menerapkan prinsip ‘with great power comes great responsibility’ (film Spiderman). Popularitas yang datang begitu cepat dan mudah bisa menguntungkan, atau malah menjebak. Dan sepertinya, cobaan inilah yang sedang dihadapi sekarang. Kembali kayak Drupadi—primadona Mahabharata yang kemudian dipaksa untuk ‘ditelanjangi’ di depan umum.



Penghinaan Terkejam sumber gambar: pinterest. Mahabharata Star Plus.

Dengan usia Afi, perjalanan hidupnya masih sangat panjang. Tak ada yang bisa menebak apa yang akan dia alami di masa depan. Jika sekarang saja, hidupnya sudah tertekan… tidak menutup kemungkinan di masa depan, Afi akan menjadi seseorang yang mudah terkena depresi. Padahal, popularitas itu sementara, kan. Sayang sekali kalau nantinya terjadi seperti seorang polisi yang membuang profesi demi menyanyi dangdut. Semua pasti tahu, bagaimana gemerlapnya nama beliau dulu. Tapi sekarang?

Kenapa Afi memilih kembali disorot? Kenapa Afi tidak memilih untuk segera menarik diri untuk lebih mengasah diri? Kembali, ini masalah pilihan.

Kalau saja Afi memilih untuk menyepi. Mungkin kasusnya akan berbeda. Saya bukan peramal. Tapi saya pikir, menghindar dari sorotan ada baiknya juga. Kan nggak ada salahnya (belajar) menulis dengan sungguh-sungguh. Menimba ilmu dari sumber-sumber mumpuni. Saya percaya, dengan nama Afi, semua guru dan pemuka agama bersedia membagi ilmu (dengan catatan mereka nggak termasuk kaum nyinyir bin sirik, ya). Bahkan mungkin Afi bisa menjadi seorang filsuf baru. Seseorang yang berpikir tanpa iming-iming popularitas. Jujur dalam berkata-kata.

Sebenarnya, Afi masih punya kekuatan untuk menggerakkan massa. Buktinya, hingga kini masih ada saja orang yang mencantumkan namanya di medsos mereka. Ya, termasuk saya ini kan bikin tulisan juga gara-gara dia, hehehe…

Artikel lain tentang Afi: Memilih Warisan

Saya percaya, perubahan sedang terjadi di dalam bangsa ini. Akan hadir generasi bangsa dengan pemikiran kritis. Filsuf-filsuf baru. Para pendobrak peradaban. Para kreatif muda. Orang-orang jujur. Para pekerja keras. Semuanya orang-orang beriman yang menggerakkan bangsa. Membawa Indonesia ke masa depan penuh damai sejahtera.

Kuncinya hanyalah karakter dan integritas. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar