Minggu, 21 Mei 2017

Memilih Warisan : Kebenaran atau Kepastian

Peringatan:

Saya berusaha tidak memamerkan hafalan kitab suci. Meski demikian, beberapa bagian mungkin sama/mirip dengan isi ayat-ayat tertentu. Mohon tidak dijadikan bahan risak. Apalagi perang ayat.

Saya hanya manusia biasa yang menuliskan pemikiran dan pengalaman saya. Mari sama-sama menghormati perbedaan pendapat. Pengalaman anda tidak saya alami. Demikian juga anda tak mengalami kejadian buruk apa yang terjadi dalam hidup saya (saya berdoa semoga saja tidak).

Membuka pengalaman pahit itu tidak mudah! Tidak usah mengasihani. Cukup doakan saja :)

*

Pekan lalu cukup heboh dengan munculnya sebuah akun facebook yang menggegerkan dunia maya. Ramai-ramai warganet penasaran dengan pemilik akun berstatus ‘Warisan’ ini. Seorang anak SMA. Dan sayangnya, setelah tahu… warganet yang seharusnya lebih dewasa ini dengan emosi merisak si anak. Membuat argumen hingga ejekan yang tujuannya mematahkan pemikiran si anak. Nggak terima perbedaan pemikiran, akhirnya mulai berbantah-bantahan. Entah sengaja atau tidak, melupakan fakta bahwa umur anak ini jauh di bawah mereka.

Euh, apakah mereka tidak memercayai bahwa Tuhan-pun bisa mengajari anak ini?

Kalau mengingat penasihat-penasihat tidak mumpuni pada komentar-komentar negatif itu, saya tertawa sendiri. Soalnya saya pernah mengalami dan berpikir sesuai komentar-komentar itu. Saya merasa beruntung lahir di keluarga agama anu. Saya tak merasa terdoktrin, malah merasa senang karena tahu kebenaran. Saya merasa sekte anu paling benar. Saya merasa semua orang di luar sekte anu itu sesat dan perlu diselamatkan.

Waktu saya SD, saya cukup militan dalam beragama. Maklum, waktu itu didoktrin dengan banyak kebenaran tanda-tanda kiamat. Katanya, sih… tahun 1999 bakalan ada perang dunia. Tahun 2000 kiamat. Jadi dengan semangat berapi-api saya giat sembahyang. Tiap hari harus menyembah sesembahan anu. Nggak peduli kamar berasap hampir kebakaran karena bakar hio di sana. Setiap ceramah harus tercatat rapi. Tiap ada upacara, harus ikut jadi pelayan. Berdiri, duduk, berjalan harus sesuai aturan. Dan saya sangat bangga mengenakan jubah yang katanya bakal diberi cap berapa kali saya sembahyang. Pakaian itu kebanggaan. Memperlihatkan kalau saya ini orang penting. Kalau perlengkapannya kurang, saya merasa gelisah.

Saya pun terbilang cukup aktif promosi agama anu. Beberapa teman ikut ritual ikut sesembahan anu. Kami sama-sama semangat. Terutama tiap jelang tahun baru. Sujudnya minimal seribu hitungan. Biar dosa lebih banyak terampuni.

Ya, itu pemikiran saya waktu SD. Saya nggak bilang yang sepemikiran kayak anak SD lho, ya… #eh… :p

Kalau saja saya nggak dicegah mami saat itu, saya mungkin udah jadi pendeta. Hidup selibat dan vegetarian. Mulanya saya kecewa, tapi setelahnya saya bersyukur. Karena ternyata doktrin-doktrin agama anu itu kurang tepat. Mulai dari sini, pemikiran saya berubah. Saya mulai terbuka mempelajari agama-agama lain. Hingga kini, hanya satu agama yang saya tidak cukup ‘beruntung’ mempelajari secara lebih dalam. Kenapa? Jujur, karena takut duluan.

Saya juga pernah berpkir, bahwa agama adalah ketetapan yang diberikan Tuhan. Tuhan memaksudkan saya beragama sesuai agama keluarga karena ingin saya memegang agama warisan keluarga itu hingga mati. Mempelajari agama warisan itu secara sungguh-sungguh. Karena toh, semua agama itu sama saja. Mengajarkan untuk berbuat baik dan menghindari perbuatan buruk.

Karena itu, saya memilih setia pada agama di KTP saya. Menjalankan ajaran agamanya dengan baik. Saya punya altar di rumah. Sembahyang tentu diusahakan rutin. Kali ini, saya bersungguh-sungguh ingin menetap hingga mati.

Tapi ternyata, memang kita tak bisa memilih kejadian apa yang akan kita alami. Kita tak bisa memilah musibah apa yang akan menimpa kita. Kita tak bisa tahu, kapan akan mengalami sesuatu di mana ajaran agama menjadi tak berarti sama sekali. Berubah menjadi teori yang hanya bisa menasihati, tanpa memberi solusi.

Saya mengalami jungkir baliknya kehidupan sekitar dua tahun lalu. Saya mengalami kesesakan yang luar biasa. Kehampaan tak berujung. Psikiater ada untuk memberi obat kimia. Orang-orang di sekeliling memberi nasihat ini dan itu. Pemuka agama mengajarkan untuk nrimo dan legowo, toh hidup ini dari karma sendiri. Semua orang memiliki karmanya sendiri. Terwarisi karmanya sendiri. Berhubungan dengan karmanya sendiri. Jadi apapun yang diterima, itu karena perbuatan kita sendiri.

Kalau bisa dibilang, saat itu hidup saya benar-benar ada di tepi jurang. Tidak ada seorang manusia pun yang bisa menolong. Tidak orang tua, tidak psikiater, tidak pemuka agama, bukan orang-orang baik hati dan dermawan di tempat ibadah. Saya kecewa dengan manusia. Terlebih, saya kecewa dengan kehidupan yang bobrok. Baik bungkusnya, dalamnya busuk. Waktu itu, saya ingin sekali mati. Tapi sayangnya tak bisa. Penderitaan itu sungguh luar biasa. Hidup tapi tak hidup. Ingin mati, tapi tak bisa. Mengingatnya saja bikin ngeri. Saya tak ingin seorang pun mengalami hal semenakutkan itu.

Hari demi hari berlalu. Mungkin saat itu saya seperti mayat hidup. Kali ini, saya beralih ke psikolog. Motivasi dan terapi psikolog ini sangat baik. Akan tetapi, tidak bisa memberi sebuah semangat untuk melanjutkan hidup, atau membuat saya bangkit dari keterpurukan. Kembali, bergantung sama manusia bukan solusi. Meski mereka mengaku memiliki kebenaran di bidang agama maupun ilmu pengetahuan. Semua kebenaran itu tak bisa menjawab masalah-masalah saya.

Saya tak pernah menyangka, kalau semua jawaban atas kesesakan itu ada dalam sebuah pelukan sederhana yang sering melintas dalam pikiran saya:

“Tenang, ya… Tuhan Yesus ada bersamamu. Tuhan Yesus bersamamu…”

Saya tak pernah menyangka, perkataan ini akan membawa satu mujizat besar yang akan mengubah hidup saya. Saya pernah mencoba mangkir. Kembali beribadah kepada agama KTP. Takut kualat. Takut disinisin karena ‘loncat pagar’. Tapi perasaan gembira seperti itu tak pernah saya dapat. Saya merindukan hadirat Tuhan. Dan saat itulah saya sadar, yang saya perlukan bukan sekadar kebenaran. Tapi Sang Pemilik Kebenaran Sejati.

Manusia memang bisa memilih jalan kehidupannya. Bisa memilih untuk mengandalkan pikiran dan akal budi, berpegang teguh pada kebenaran dan ajaran agama (warisan/bukan warisan), atau bergantung sepenuhnya kepada Tuhan.

Saya sendiri mulai belajar memilih opsi ketiga. Meski itu sama sekali tidak mudah. Cara kerja Tuhan itu misterius. Kita tak pernah tahu apa rancangan-Nya terhadap hidup kita. Tapi kita wajib meyakini rancangan-Nya adalah rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan.

Keyakinan akan Kemahakuasaan-Nya inilah yang sering menjadi pertentangan dengan kebenaran dunia. Nalar beraksi. Logika berbantah-bantahan di pikiran. Yang terbatas melawan yang tak terbatas. Selalu begitu. Dan saya tidak tahu akan berlangsung sampai kapan.

Akhir kata, saya percaya… selama masih hidup, perjuangan terus berlangsung. Saya bersyukur, saya telah mengakhiri perjuangan saya memburu kebenaran untuk dibanggakan. Saya bersyukur mengetahui hadirat Tuhan jauh lebih penting dari kebenaran manapun. Dan yang lebih saya percayai: kebenaran itu duniawi, hanya Tuhan yang hakiki dan pasti.

Tuhan memberkati :)
Gambar dari pixabay.com


“Lebih baik satu hari di pelataran-Mu,


Daripada seribu hari di tempat lain…”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar