Selasa, 09 Mei 2017

Memikul Salib Itu Tak Mudah!

Saya bukan siapa-siapa. Saya bukan pembela Tuhan. Bukan pembela Ahok.

Yang terpenting, saya tidak memaksa anda membaca tulisan ini. Apalagi memaksa anda-anda menyetujui pendapat saya.

Saya sadar, sebagai kaum kafir yang logikanya warga dunia kelas paria, saya mungkin tidak akan didengar. Saya kemungkinan besar diabaikan. Dan yang lebih mengerikan, mungkin ada orang-orang yang memelintir statement saya. Saya dituntut. Saya dipenjara. Tidak sebanding dengan hanya bersuara. RISIKO TERLALU BESAR, FEL!

Bersuara itu sangat merugikan buat saya. Nggak dapat apa-apa. Siap-siap dilempar ke penjara dan neraka pula. Hidup dipenjara, mati masuk neraka. Mengapaaa... ku beginiiii *nyanyi*

Tapi seenggaknya, dengan bersuara... saya telah memenangkan nurani saya. Enough is enough. Saya capek mendengar ketidakpuasan yang bilang hukuman ini masih kurang. KURANG BERAT. Saya eneg membaca adanya Tuhan yang lebih berkuasa dari Tuhan lain (memang Tuhan ada berapa, sih?). Dan yang terpenting, nalar saya sebagai orang awam dan manusia biasa sangat terusik. Eh, sebagai manusia yang punya hak asasi. Tak bolehkah jika saya menggunakan hak itu sekali-sekali?

Dari nalar biasa saja, hukuman 2 tahun dari tuntutan 2 tahun masa percobaan 1 tahun penjara itu sudah lebih berat. Harusnya masa percobaan dulu, tapi ini langsung diseret masuk kerangkeng. Di mana letak ringannya? Hukuman apa yang dapat memuaskan para ahli-ahli surga dan neraka ini?

Iseng, saya pernah bertanya kepada teman-teman yang tergolong haters. Apakah maksudnya hukuman berat itu dirajam? Digantung? Kursi listrik? Minum kopi sianida? Tapi tampaknya teman-teman haters ini masih berbaik hati dengan memberi opsi: harapan terbesar mereka bagi Pak Ahok adalah Pak Ahok melepas keyakinannya dan mengikuti keyakinan mereka.

“Semoga dengan masuk penjara, Si Nganu bertobat. Mengubah sikap. Lalu sadar dan jadi … *agama yang saya (sebagai kaum paria) takut menyebutkan namanya*.

Sejenak, saya merenung. Teringat pertanyaan yang dilontarkan saat kingdom training:
“Saat ada orang menodongkan senjata di leher anda, lalu menyuruh anda memilih nyawa atau Tuhan, yang mana yang akan anda pilih?”

Saat itu saya hanya tertawa bersama teman-teman lain. Dengan kompak kami mengatakan kalau kami akan memilih Tuhan. Ya, karena kondisi saat itu hanya reka adegan. Bukan medan yang sesungguhnya.
Ya iyalah, yang ditodongkan spidol bukan golok. Siapa yang takut, coba?

Tapi tentu saja, jika itu situasi sesungguhnya. Di mana ancaman begitu serius dilakukan. Saya percaya, semua orang akan ketakutan. Mungkin hanya segelintir yang memilih setia. Sisanya mending memilih menyelamatkan diri. Ngapain repot mempertahankan keyakinan kalau hasilnya dirimu dibenci, difitnah, disiksa, atau bahkan dibunuh?

Saya membayangkan apa yang dialami Pak Ahok seandainya dia memilih kompromi. Jika beliau mau, beliau bisa saja mengundang para haters ngopi-ngopi cantik. Tak lupa, memberi bingkisan menarik dan janji-janji manis menghanyutkan hati.

“Elo pada maunya apa? Gue bakal nurut.”

“Tobatlah, Pak!”

“Oke! Demi kalian semua! Gue akan buang keyakinan gue. Gue nggak mengakui Yesus sebagai Tuhan. Gue akan nurut apapun kata kalian. Puas???”

"Nah, gitu, dooooong!!!"

Bukannya tidak mungkin, seluruh negeri akan memuji keputusan itu. Ini pertobatan yang dinantikan, tho? Kalau sudah bukan murid Yesus lagi, kata maaf dan pengampunan mungkin lebih mudah didapat. Lha, sudah sealiran kan, apa-apa gampang. Disuruh ganti penampilan, ya ganti penampilan. Disuruh ibadah, ya ibadah. Disuruh nilep, ya nilep. Disuruh teriak, ya teriak. Disuruh diam, ya mingkem. Ikut arahan aja, lah… amaaan.

Biar dalamnya busuk, pokoknya luar terlihat kinclong dan bersih.

Nah, masalahnya… Pak Ahok memilih jalur antimainstream. Dia tidak menyangkal Yesus. Juga tidak memilih kompromi. Apa yang dia lakukan adalah terus maju menghadapi tuntutan dari para pembela Tuhan ini hingga akhir. Dan tentu saja, penjara adalah balasan yang setimpal. Belum termasuk kebencian dan dendam yang semakin dalam dari para pembela Tuhan dan ahli surga dan neraka.

Ini orang kapan bertobatnya, sih???

Bertekun—Yohanes 16:1-4a
“Semua ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Aku katakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.”

Maaf kalau sedikit mengutip injil, ya… kata-katanya ngena banget soalnya. Maklum yang jadi embel-embel selama ini kan memang ‘bela agama’ dan semua bilangnya nggak terima kalau Tuhan dihina. Jadi mereka sebagai orang-orang saleh harus bantuin Tuhan membela diri. Hmm… kayak dejavu?

Ada, lhooo... masa di mana ahli-ahli agama mengerahkan massa untuk berteriak lantang “SALIBKAN DIA!”. Ada, lhooo... masa di mana massa lebih memilih membebaskan penjahat besar, dan merasa itulah tindakan yang baik untuk Tuhan.


Terlalu jauh membandingkan Pak Ahok dengan Yesus. Akan tetapi, apa yang terjadi dengan Pak Ahok sekarang dengan sendirinya membuktikan kalau memikul salib itu tidak mudah. Mempertahankan iman dan keyakinan terhadap Tuhan Yesus terbukti harus dibayar mahal. Sebaik apapun Pak Ahok, dia tetap warga beragama minoritas. Tetap memandang salib di saat-saat seperti ini sungguh menguras air mata. 

Menyedihkan sekali. Kalau saja tidak ada hikmat dan andil Tuhan, manusia biasa akan segera tumbang.
Sekali lagi, saya ini manusia biasa. Kata kafir terasa pahit. Tapi saya mencoba menerima. Setiap orang harus memegang teguh agamanya. Bagi saya, semua ajaran agama itu baik. Yang saya sesalkan hanya oknum-oknum yang berteriak lantang sambil terus menerus menebar kebencian, intimidasi, dan ketakutan kepada orang lain. Ini pilihan anda, saya mengerti. Ini benar menurut anda, it is ok. Saya tidak berhak mengatur pikiran anda. Tapi saya ingin bersuara. Meski hanya sekali ini saja. Atau jika Tuhan izinkan, saya akan tetap bersuara. Menentukan sikap. Inilah saya. Inilah pikiran saya. Inilah pendapat saya.

Jika saja saya bisa bertemu Pak Ahok saat ini, saya pasti menangis. Saya tak sanggup menonton liputan Pak Ahok dibawa ke LP Cipinang. Nurani saya terusik. Rasa keadilan saya benar-benar dihajar habis.
Tapi percayalah, Pak Ahok. Saya bersyukur hidup sezaman dengan bapak. Saya bersyukur menjadi saksi sejarah perjalanan seorang Basuki Tjahaja Purnama, dengan imannya yang tak tergoyahkan. Banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil dari semua kejadian ini. Betapa Tuhan menunjukkan, kemuliaan dunia hanya bersifat semu. Pujian-pujian manusia hanyalah sia-sia. Dan semakin nyata kalau kebaikan akan selalu dimusuhi di dunia ini.

Doa saya untuk Pak Ahok, semoga Pak Ahok kuat memanggul salib. Walau kita tak dapat melihat rencana Tuhan, saya yakin rancangan-Nya adalah rancangan damai sejahtera. Tetap kuat, Pak Ahok. Doa-doa saya menyertai anda. Tuhan Yesus memberkati.

Sumber gambar: @RenunganAlkitab, http://kuatkanlahimanmu.blogspot.co.id/, www.merdeka.com.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar