Minggu, 21 Mei 2017

Memilih Warisan : Kebenaran atau Kepastian

Peringatan:

Saya berusaha tidak memamerkan hafalan kitab suci. Meski demikian, beberapa bagian mungkin sama/mirip dengan isi ayat-ayat tertentu. Mohon tidak dijadikan bahan risak. Apalagi perang ayat.

Saya hanya manusia biasa yang menuliskan pemikiran dan pengalaman saya. Mari sama-sama menghormati perbedaan pendapat. Pengalaman anda tidak saya alami. Demikian juga anda tak mengalami kejadian buruk apa yang terjadi dalam hidup saya (saya berdoa semoga saja tidak).

Membuka pengalaman pahit itu tidak mudah! Tidak usah mengasihani. Cukup doakan saja :)
Selasa, 09 Mei 2017

Memikul Salib Itu Tak Mudah!

Saya bukan siapa-siapa. Saya bukan pembela Tuhan. Bukan pembela Ahok.

Yang terpenting, saya tidak memaksa anda membaca tulisan ini. Apalagi memaksa anda-anda menyetujui pendapat saya.

Saya sadar, sebagai kaum kafir yang logikanya warga dunia kelas paria, saya mungkin tidak akan didengar. Saya kemungkinan besar diabaikan. Dan yang lebih mengerikan, mungkin ada orang-orang yang memelintir statement saya. Saya dituntut. Saya dipenjara. Tidak sebanding dengan hanya bersuara. RISIKO TERLALU BESAR, FEL!

Bersuara itu sangat merugikan buat saya. Nggak dapat apa-apa. Siap-siap dilempar ke penjara dan neraka pula. Hidup dipenjara, mati masuk neraka. Mengapaaa... ku beginiiii *nyanyi*

Tapi seenggaknya, dengan bersuara... saya telah memenangkan nurani saya. Enough is enough. Saya capek mendengar ketidakpuasan yang bilang hukuman ini masih kurang. KURANG BERAT. Saya eneg membaca adanya Tuhan yang lebih berkuasa dari Tuhan lain (memang Tuhan ada berapa, sih?). Dan yang terpenting, nalar saya sebagai orang awam dan manusia biasa sangat terusik. Eh, sebagai manusia yang punya hak asasi. Tak bolehkah jika saya menggunakan hak itu sekali-sekali?
Kamis, 04 Mei 2017

SATUPENA: Harapan Baru Bagi Penulis Indonesia

“Pena adalah alat yang tak pernah lekang.”
Dewi “Dee” Lestari

Perlu keberanian yang besar untuk bertekun dalam kepenulisan. Sebuah profesi yang sunyi, tanpa jaminan kesejahteraan, belum persaingan gila-gilaan, dan minim penghargaan. Karena ini pula, saya sendiri beberapa kali maju mundur. Maunya ganti profesi jadi dagang sate aja, tapi sayang… kehidupan tanpa menulis itu hambar. Ibaratnya kehilangan pacar. Jiwa nelangsa. Hati hampa tanpa impian. Eaaa…