Senin, 13 Februari 2017

Gawat! Dunia Krisis Cinta!

SAY NO TO VALENTINE

Sebagian besar masyarakat (kalau tidak boleh dibilang sebagai kaum mayoritas), mengharamkan betul satu hari bernama Valentine ini.

Konon, tradisi ini adalah tradisi yang mengajarkan hal-hal buruk. Sebutlah mental konsumerisme akibat beli bunga, coklat, belum hadiah-hadiah lain yang dinilai menghamburkan uang saja, hingga aktivitas mesum yang kemudian menjadi sasaran gerebek di malam kemarin.

Sebenarnya apa yang dirayakan di hari ini?
Katanya, sih... cinta.

Ya, iyalah... beli bunga, coklat, hadiah, dinner romantis, sampai merayakan Malam Valentine di kamar hotel sambil main capsa #eh kan tentu untuk membuktikan seberapa besar cinta pada pasangan, tho?

Eh, padahal, ya... kira-kira berapa persen, sih... orang-orang di muka bumi ini yang tahu apa artinya cinta?

Yang pernah tahu kisah Kera Sakti, pasti tahu Panglima Tian Feng, dong. Jenderal Langit ini seharusnya paling tahu arti cinta, kan. Secara, sudah mengalami 1000 kali jatuh cinta, Tapi kayaknya, ungkapan cinta yang kemudian sering diucapkan hanya, "Cinta, deritanya tiada akhir."

Kayaknya, dari zaman dahulu kala, yang namanya cinta ini selalu jadi momok tersendiri. Atas nama cinta, semua bisa terjadi. Aksi bela membela misalnya. Saking cintanya terhadap seseorang (atau bahkan Tuhan), segala hal dihalalkan. Nggak peduli yang lain. Nggak peduli merugikan apa nggak. Pokoknya teriak dulu, berantem dulu. Urusan yang dibela bakal senang atau malahan sebal karena pembelanya lebay, itu urusan belakang. Hehehe...

Bagaimana orang bisa jatuh cinta, itu juga teka-teki. Tapi jujur, deh... kayaknya jarang orang jatuh cinta sama lawan jenis yang memiliki fisik kurang bagus. Misalnya, Si A suka banget perut gendut Si B. Si C jatuh hati gara-gara lihat muka jerawatan Si D. Tentu yang saya bicarakan di sini adalah dunia nyata, ya. Bukan film atau novel yang semua sudah di make over.

Nah, kalau sudah begitu, apa manfaat dan faedah cinta?

"Berpisah dari yang dicinta adalah penderitaan. Berkumpul dengan yang dibenci adalah penderitaan. Bebas dari mencintai dan membenci, bebas pula dari penderitaan."
Buddha

Berbahagialah orang-orang yang hidup membiara. Berbahagialah orang-orang yang hidup di hutan, tidak bergaul dengan banyak manusia lain. Hingga hidup bisa difokuskan pada diri sendiri. Mereka ini telah terbebas dari tanggung jawab berkeluarga dan bermasyarakat.

Tapi kita tidak.

Sungguhkah kita bisa membebaskan diri dari perasaan cinta dan benci? Apakah sebenarnya kita memang sudah sukses memusnahkan dua 'polusi jiwa' itu? Atau sedang berpura-pura kalau kita tidak memiliki cinta atau kebencian, karena takut terseret dalam pusaran penderitaan?

Ada yang bilang, cinta itu berbahaya. Terlalu mencintai akan jadi membenci.
Tapi, apakah cinta itu sumber dari segala benci? Jika iya, maka itu bukan cinta. Tapi ego.

Ada yang bilang, cinta itu maksiat. Jatuh cinta bikin seseorang melakukan hubungan seks tanpa memperhitungkan akibat.
Apa iya? Jika iya, maka itu bukan cinta, tetapi nafsu.

Ada yang bilang, love is blind. Cinta bikin kita membabi buta. Membunuh, memerkosa, melakukan tindakan terorisme.
Errr... yakin, itu cinta?

Wajar, kan... kalau semua berteriak menolak cinta. Wajar kalau Valentine dimusuhi di mana-mana. Karena selain memicu hal-hal buruk, Valentine itu perayaan cinta. Cinta yang sama sekali tidak dimengerti artinya.

Jadi, sebenarnya... dunia sekarang sedang krisis cinta. Cinta yang sebenar-benarnya. Bukan cinta karena nafsu, atau ego. Yang jadi masalah, tidak ada seorang pun berani mengakui... kalau dalam hati mereka tidak ada cinta. Karena ruangan hati mereka telah dipenuhi keserakahan, hasrat selalu benar dan rasa ingin menguasai orang lain.

Say No To Valentine
Dunia sedang darurat cinta.

Foto dari pixabay





Tidak ada komentar:

Posting Komentar