Rabu, 21 September 2016

Menulis Fantasy? Kenapa Tidak?



Menulis Fantasi? Mengapa Tidak?

xD Mantan editor saya pernah mengatakan, kalau batas kemampuan berpikir pembaca Indonesia itu sempit. Mereka malas mikir, kebiasaan disuapi. Hingga menyenangi cerita-cerita romance sebagai hiburan. Ayolah, hidup sudah susah, masa bacaan juga susah? Hahaha…

Ceritanya, dulu Bapak Editor menggunakan contoh gambar pemandangan anak SD. Ngerti, kan? Dari Sabang Sampai Merauke, kayaknya gambar pemandangan ya cuma gini: dua gunung dengan matahari di atas. Sawah dan jalan berlekuk di bawah.

Lha, gimana anak-anaknya mau bebas berfantasi?
Saya serius, tips utama menulis novel fantasi, ya cukup berfantasi saja. Nggak usah repot-repot cari Mbah Mukidi (lha Mukidi dibawa-bawa :p) bawa sajen tumpeng dan kembang lima warna. Hihihi… ini mau bikin novel fantasi atau kenalan sama tuyul, yak?

Nah, masalahnya, blok pikiran para pembaca dan penulis di sini kadang memang rada terbelenggu (kasarnya, masih kurang open minded, menurut saya, lho :D). Ada aturan-aturan dan kesepakatan yang bikin novel fantasi lokal jadi serba salah. Bikin kebarat-baratan dibilang nggak patriotis, bikin romance dibully, bikin lokal, nggak ada yang mau beli, bikin mixed legend dibilangnya legenda oplosan. Hahaha… #pengalaman xD

Dengan aturan tak tertulis dari pembaca fantasi ini, mau nggak mau penulis jadi malu-malu miaw, kadang malah minder. Mau nulis, takut dibully duluan. Mau berekspresi, takut salah. Lha wong pembaca fantasi malah banyak yang lebih pinter nulis fantasi.

Dari pengamatan saya yang sok pinter ini, pembaca fantasi sini memang sangat teliti. Mereka menginginkan sesuatu yang WOW. Sesuatu yang bikin mereka merem melek. Seperti karya-karya penulis luar yang langsung membuat perasaan mereka buncah dan langsung membuat mereka memberikan standing applause.

Nah, masalahnya lagi, nggak jarang para pembaca teliti ini memiliki harapan setinggi langit dan bintang kepada penulis lokal yang masih dalam taraf belajar membuat cerita yang setidaknya bisa dijual. Jujur, dilema banget lho, nulis fantasi. Udah susah cari penerbit, udah terbit pun masih dicari-cari kesalahannya. Bukannya dikritik dengan solusi tepat dan… sesuai dengan target marketing (idih baliknya ke marketing lagi, kan? xD)

Saya setuju banget dengan opini Mbak Dyah Rinni waktu diskusi di grup Komunitas Novel Online Indonesia. Fantasi lokal masih mencari-cari jati diri. Sebenarnya, ini bisa berarti kebebasan bagi para penulis untuk berekspresi. Mau buat fantasi yang megah maupun sederhana, itu terserah anda.
Jadi, selamat berfantasi ^___^

Sumber gambar: http://www.spyderonlines.com/wallpapers/fantasy-world-wallpapers.html


4 komentar:

  1. saya udah punya cerita tapi masih minder, takut dibilang ini itu. jadinya belum ketulis sama sekali. huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya... ekspektasi pembaca sini masih terlalu tinggi. IMHO :)

      Hapus
  2. mau tanya sebenarnya, dlm menulis cerita dg genre fantasi apakah ada batasan2nya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut saya pembatasan hanya akan mengurangi keluasan berimajinasi.

      Hapus