Rabu, 21 September 2016

Menulis Fantasy? Kenapa Tidak?



Menulis Fantasi? Mengapa Tidak?

xD Mantan editor saya pernah mengatakan, kalau batas kemampuan berpikir pembaca Indonesia itu sempit. Mereka malas mikir, kebiasaan disuapi. Hingga menyenangi cerita-cerita romance sebagai hiburan. Ayolah, hidup sudah susah, masa bacaan juga susah? Hahaha…

Ceritanya, dulu Bapak Editor menggunakan contoh gambar pemandangan anak SD. Ngerti, kan? Dari Sabang Sampai Merauke, kayaknya gambar pemandangan ya cuma gini: dua gunung dengan matahari di atas. Sawah dan jalan berlekuk di bawah.

Lha, gimana anak-anaknya mau bebas berfantasi?